Kenali Siapa yang Kau Pilih!

Pemilu sudah di depan mata. Sudah tahu siapa yang akan kau pilih?

Apa? Belum?

Hmm… Tahukah kau, satu suara sungguh sangat berarti buat negeri ini? Suaramu ikut menentukan nasib bangsa ini 5 tahun ke depan. Apakah nanti kau akan memilih wakil rakyat yang sering absen sidang, sering tidur di ruangan, nonton youtube di sela-sela sidang, jalan-jalan ke luar negeri gak jelas, suka disuap ATAU wakil rakyat yang jujur, dapat dipercaya, dan pro rakyat? Yang pasti pingin yang terakhir dong, ya. Nah, bagaimana bisa memilih wakil yang pro rakyat kalau kita-nya juga apatis, tidak mau tahu, tidak peduli, dan cuek?

Kita punya saat ini nih, satu hari dimana kita bisa menentukan orang-orang yang akan menampung aspirasi kita selama 5 tahun ke depan. Jangan malas untuk mencari tahu. Jangan malas untuk membuka mata dan telinga tentang siapa yang akan kita pilih. Dan, JANGAN MENGHITUNG KANCING untuk memilih wakil rakyat kita di bilik suara. :p

Lalu, dimana kita bisa mencari tahu tentang para calon wakil rakyat ini?

Ada banyak sumber di internet. Iya, internet-nya jangan cuma buat nulis status galau aja :p. Yang resmi tentu yang dari KPU sendiri: http://dct.kpu.go.id/

Namun, sayangnya ada beberapa data PDF yang entah kenapa tidak bisa dibuka (apakah saya saja?).

Situs alternatif lainnya bisa juga dibuka di sini (saya lebih suka yang ini): http://litsuscaleg2014.wordpress.com/

Soalnya, di sana memuat fakta-fakta ‘mengejutkan’ tentang beberapa calon legislatif.

Nah, gak ada alasan lagi bilang kalau kamu tidak tahu dimana harus mencari tahu, ya. Ayo, kenali siapa yang akan kau pilih, lalu datanglah ke TPS dimana kau terdaftar tanggal 9 April nanti untuk memilih mereka. Ingat, satu suaramu sangat menentukan!

Random Walk With My Camera: Secret Beach at Nusa Dua

Haii… apa kabarnya setelah long weekend? Udah pada masuk kerja, kan? Gimana rasanya Selasa rasa Senin? Hahaha *ditimpuk*

Hari ini saya masih libur. Di Bali, sehari setelah Nyepi adalah Ngembak Geni. Banyak dari umat Hindu Bali yang masih berada di kampung halaman dan melaksanakan persembahyangan seusai hari Nyepi kemarin. Kantor-kantor supermarket, para customer perusahaan tempat saya bekerja juga tutup. Karena itu, perusahaan saya tutup kantor juga, dong. :D

Sudah menjadi kebiasaan saya, hunting foto sebelum dan sesudah Nyepi. Sebelum Nyepi, untuk memotret upacara Melasti dan parade Ogoh-ogoh. Dan, sesudah Nyepi biasanya saya memotret landscape karena umumnya langit sangat-sangat bersih setelah udara tak dipengapi emisi kendaraan selama 24 jam.

Sayangnya, saya tak bisa keluar memotret sebelum Nyepi tahun ini. Migrain yang selalu kumat, memaksa saya untuk beristirahat lebih di rumah :(. Setelah ‘terpaksa’ istirahat seharian kemarin (karena tidak bisa kemana-mana, tidak ada siaran TV, tidak boleh menyalakan lampu), akhirnya migrain saya reda dan bisa pergi hunting foto hari ini. Yay! :D

Rencananya sore ini saya ingin pergi ke pantai Pandawa, karena letaknya yang tak jauh dari rumah. Tapi, rencana itu urung dilakukan melihat antrian kendaraan menuju arah pantai mengular sangat panjang. Memang, sejak seringkali ditayangkan di stasiun TV, pantai ini menjadi sangat ramai dikunjungi wisatawan.

Urung pergi ke pantai Pandawa, bukan berarti saya menyerah. Hey, saya ini orang lokal, seharusnya jangan berwisata seperti turis dong, ya. Waktunya mengeksplorasi daerah tempat tinggal saya dan menemukan pesona wisata baru! :D

Saya meneruskan perjalanan di jalan by pass baru yang nantinya akan menghubungkan Nusa Dua-Pandawa-Uluwatu. Setelah masuk ke jalan buntu, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke sebuah pura di dekat situ. Berdasarkan informasi seorang security yang berpapasan di jalan buntu tadi, ada akses ke pantai dari dekat pura itu.

Nama pura itu adalah Pura Gunung Payung. Ada jalan kecil di sebelahnya dan ada sebuah parkir kecil untuk sepeda motor. Ada peringatan untuk jangan meninggalkan barang berharga di tempat parkir. Saya awalnya mengira jika peringatan itu untuk berjaga-jaga terhadap pencurian oleh manusia. Rupanya dugaan saya agak meleset. Jawabannya saya dapatkan saat pulang kelak.

Di samping parkiran motor, ada tangga turun, persis seperti yang dikatakan si bapak security. Saya pun menuruninya. Baru setengah jalan, saya sudah mendapati pemandangan seperti ini:

PGP_041

Saat tiba di bawah, saya serasa berada di sebuah pantai rahasia yang keberadaannya ditutupi oleh karang-karang tinggi.

PGP_043Pasir putih, dengan bukit karang di belakangnya.

Selain saya, ada beberapa orang yang sedang berwisata juga di sana. Sayangnya, laut sedang surut saat itu.

PGP_065

Indah, bukan?

Iya sih, indah. Tapi, yang menjadi cobaan teramat berat adalah saat perjalanan pulang. 300 anak tangga yang harus dinaiki, bok! T_T *ngos-ngosan*

PS: Oh iya, ternyata yang harus diwaspadai di parkiran motor di atas adalah para monyet! Saya sampai bengong melihat kawanan monyet yang bergelantungan di pohon lalu turun untuk pulang ke sarangnya. Saya pikir, kawanan itu hanya ada di Uluwatu saja.

Yuk, Jalan Ke Yogyakarta! (Part 4 – Habis)

Eh, saya masih hutang satu cerita waktu ke Jogja kemarin, ya? Doh! Lupa posting~ >< Here it is…

Pukul empat kurang lima belas, alarm yang Nila set semalam, berbunyi. Sejak pertama kali mengenalnya hampir 20 tahun yang lalu, jam miliknya selalu lebih cepat 15 menit. Saya melihatnya bangun, mematikan alarm, lalu kembali tidur. *tepok jidat* Baiklah, kalau begitu saya duluan yang memakai kamar mandinya. Setelah bebersih diri dan sholat Subuh, kami bergegas ke areal candi Borobudur.

Bagi yang berminat untuk melihat sunrise di Borobudur, paket hanya disediakan oleh pihak Hotel Manohara yang ditunjuk sebagai penyelenggara. Tiket bisa dipesan terlebih dahulu sebelumnya, namun juga bisa dibeli on the spot. Pembelian on the spot dibuka di lobi hotel mulai pukul 4.20 dan pintu ke areal Borobudur dari hotel itu akan dibuka sejak pukul 4.30. Jika tak membeli paket sunrise ini, candi dibuka untuk umum mulai pukul 6 pagi.

Tergesa kami memasang kain kuning yang disediakan pihak hotel. Sambil berjalan tersaruk-saruk karena masih mengantuk, kami bercanda ringan sembari mata tetap memandang ke arah sinar senter pinjaman yang disediakan pihak hotel untuk masing-masing pengunjung.

Kami tiba di puncak candi, sekitar pukul lima. Terlambat. Semua spot bagus telah diisi orang *sigh*. Meski ini pagi buta, dan harga paketnya lumayan mahal, ternyata peminatnya banyak juga.

Sayangnya, langit mendung saat itu. Jadi, kami hanya bisa melihat semburat merah di sisi timur.

Borobudur_01

Oke, tak dapat spot bagus menghadap ke timur, bukan berarti dunia berakhir, kan? Saya pun mengitari candi 180 derajat, lalu terpukau dengan pemandangan ini di sebelah barat.

Morning Mist

Sunrise di Borobudur sungguh tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ada suasana tenteram menyelusup di hati saat mengitari areal candi saat tak terlalu banyak pengunjung di sekitarnya.

Kami tak bosan-bosannya mengagumi candi ini hingga lupa waktu. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 saat kami sadar pengunjung mulai bertambah banyak. Yap, candi telah dibuka untuk umum sejak sejam yang lalu. Di tengah-tengah arus pengunjung yang mulai membludak (ternyata, benar-benar rame sejak pagi!), kami turun untuk sarapan, bergegas mandi, dan segera kembali ke kota. Nila akan berangkat dengan pesawat, kembali ke Jakarta tepat tengah hari. Linda naik penerbangan jam 2 siang. Sedangkan saya… naik bus malam kembali ke Bali. Hehe… banyak jalan menuju Jogja, banyak jalan pula keluar dari Jogja. :D

Cerita sebelumnya: Part 1, Part 2, Part 3

Fear Factor

Seberapa sering kita batal melakukan sesuatu yang kita inginkan hanya karena takut? Takut gagal, takut terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, takut dimarahi, dan sebagainya. Ketakutan itu membuat keinginan yang semula kuat berangsur memudar dan akhirnya menghilang.

Saya termasuk orang yang parno. Belum lagi mudah panik. Saya sering sulit tidur hanya karena mencemaskan banyak hal yang belum terjadi. Banyak hal yang batal saya lakukan hanya karena saya belum-belum sudah membayangkan akan gagal. Sifat saya yang selalu ingin mempertimbangkan sesuatu dari banyak sisi, terkadang menjadi bumerang bagi saya. Saya menjadi peragu dan sulit mengambil resiko. Padahal, setelah waktu berlalu dan saya flashback ke masa-masa itu, saya akhirnya menyesal karena tidak melakukannya. Karena mungkin, kesempatan itu tak akan datang lagi.

Suatu hari, saat menonton acara Popcorn Taxi with Tom Hiddleston, Tom mengatakan sesuatu yang sangat mengena di hati saya. Dia bilang,

“If I have one fear in my life, it’s a fear of wasting time. I don’t wanna look back at my life and think, ‘God, I wish I’d done all of these stuffs that I’d always wanted to do. But I didn’t do it because I was afraid or because someone was gonna take a part out of me. Or because, I might failed’. To me, that is the greatest tragedy, is to look back and say, ‘I wish I had and I didn’t’. And I think, in certain time I just refuse to let that be a factor of anything”

 

“When you feel like jumping of a cliff. and there’s like a  fear person says, ‘But it’s really high. And you shouldn’t do it. And you might die’.

And you go, ‘F*ck it! Come on!’

That’s how you should live. That’s how I live. You just can not let fear get in the way, cause you’ll never do anything”

 

Pernyataannya itu membuat saya bertanya pada diri sendiri, sampai kapan saya mau menunda semua cita-cita saya? Sampai kapan saya harus menunggu rasa takut itu menyingkir dan akhirnya melakukannya?

And I’m like, ‘F*ck it! Come on! Just do it!’

Jadi, mulai saat ini, saya ingin hidup seperti itu. Memikirkan hal yang ingin saya lakukan dan mencari tahu bagaimana mencapainya tanpa membiarkan kecemasan menghalangi. Resiko pasti ada, karena semua ada resikonya. Tapi, kalau tidak pernah mencobanya, bagaimana kita tahu jika kita mampu atau tidak melampaui halangan tersebut? Dengan melakukan sesuatu, ada kemungkinan gagal ataupun berhasil. Tapi, dengan tidak melakukannya, hanya ada satu hasil: gagal. Jadi, mau pilih yang mana?