Memotret dengan Kamera Hape 2

Saya pernah membuat posting bertema sama sekitar tahun 2010. Namun, sepertinya saya perlu menulis tentang ini lebih sering lagi, karena ternyata setelah di-eksplorasi lebih dalam, tema ini sungguh menarik =)

Jadi, gara-garanya adalah saya menonton video ini di youtube:

Isi video itu adalah tentang para fotografer profesional yang diberi tantangan untuk membuat foto-foto menarik dengan kamera ‘seadanya’. Kebetulan, di episode itu adalah dengan kamera hape.

Menarik sekali, karena tentu saja kita tahu sendiri keterbatasan dari sebuah kamera hape, terutama keluaran lama. Nah, saya sendiri punya beberapa koleksi foto yang saya ambil dengan Nokia E63 milik pribadi. Dengan lensa hanya 2MP, inilah beberapa gambar itu:

Candi Bentar di Pura Tirta Empul, Tampak Siring - Gianyar

Kolam Bersuci di Pura Tirta Empul

Penari Bali di Garuda Wisnu Kencana

Dari beberapa pengalaman, saya merasakan keterbatasan kemampuan dari kamera hape ini. Misalnya setelah diperbesar di komputer, gambarnya menjadi blur. Atau, warnanya yang kurang keluar.

Untuk mengatasinya, hanya satu cara. Photoshop! :lol:  Atau, mungkin versi yang lebih mudah, bisa dengan memakai Photoscape. :)

Ketiganya saya pertajam dengan fitur ‘sharpened’. Foto pertama saya beri blur dan frame. Foto kedua, saya tambahkan efek ‘sephia’. Dan, di foto ketiga saya beri efek ‘film’ sedikit (perubahannya gak banyak, hanya menjadi sedikit biru. Namun, itu justru membuat warna lainnya semakin keluar’).

Kayaknya curang, ya. Tapi, itulah cara untuk menutupi kekurangan dari alat yang kamu punya. Dan, lihat sendiri hasilnya. Lumayan, kan? ^^

Tahun Baru, Semangat Baru

Eh, udah tahun 2012 aja!

“Gimana kabarnya tantangan tahun lalu?”

Bisa dibilang ‘gatot’ alias gagal total T___T . Entah saya berhenti di bulan ke-berapa.

Hmm… kabarnya, tahun ini WordPress ngadain lagi, ya? Judulnya beda, pasti. Untuk tahun 2012, WordPress menyebutnya Project 365. Intinya sama aja sih, posting setiap hari. Tapi, berdasarkan pengalaman tahun lalu, WordPress menawarkan kita-kita, para kliennya untuk menciptakan tema khusus bagi blog masing-masing.

Buat saya… masih terlalu berat. hehe…

Secara, saya ini orangnya rada susah diatur kalau soal kreasi (ngeles). Yah, baiklah… saya ini masih malas. Puas? :P

Walau begitu, menurut saya ide ini cukup menarik juga. Dan, kebetulan belakangan saya mulai tertarik (lagi) dengan fotografi. Dengan alasan itulah, mulai hari ini saya mengubah tema. Maksudnya sih, biar gambar yang saya posting lebih ‘keluar’ dan terlihat. :D

Jadi, mari kita tutup lembaran blog 2011 yang kelam (hiks) dan kita mulai mencoba lagi tahun ini dengan semangat terbaharu (ciee… bahasanya). Fighting!! \(^_^)/

 

PS: Saya tetep gak janji lho, bisa posting tiap hari. Tapi, saya usahain deh biar bisa posting lebih sering :P

PSS: Gambar yang jadi header di atas itu hasil jepretan saya sendiri, lho. Asli! ^^

Life is Simple

Hidup itu sebenarnya sederhana. Kalau lapar, ya tinggal makan. Kalau haus, ya minum. Kalau ngantuk, tidur dong. Tapi, kita seringkali membuatnya rumit dengan hal-hal kecil yang akhirnya kita besar-besarkan. “Mau makan apa, ya? Bosan lauknya itu-itu saja”. “Ngantuukk…. Tapi, gak bisa tidur karena mikirin kamu”.

Tuh, kan. Hal-hal kecil begitu itu tuh yang membuat hidup kita jadi rumit. :p
Jadi, kalau semua hal menjadi terasa rumit, kembali lagi ke pasal pertama, ‘Hidup itu sederhana’. :D

 

“Life is simple, but people insist to make it complicated” – Confucius

 

PS: Tapi, apa saya yang terlalu mengecilkan masalah, ya? Aduh, tuh kan… Saya membuatnya jadi rumit. :P

I’m Crazy In Love (With You)

Saya tahu kalau saya sudah berubah menjadi gila, karena memikirkanmu sedemikian rupa. Kamu membawa sejuta rindu saat sendu, membawa tawa yang datang tiba-tiba, membawa hati saya pergi.

Saya gila karena ingin selalu ‘melihatmu’. Melihat namamu terpampang di layar 10 inchi komputer kecil milik saya. Satu nama, yang melangutkan seribu rasa, tercampur aduk menjadi satu.

Ugh! Saya terkadang benci diri sendiri, yang tak sanggup mengucap satu kata pun walau ingin. Tiba-tiba saja lidah ini menjadi kelu, semua kata yang terangkai rapi di ujung lidah seakan lenyap tak berbekas. Lalu, saya hanya akan menatap kosong namamu yang terpampang online di ym atau msn atau skype atau fb. Iya, saya sudah menjadi gila karena menambahmu menjadi salah satu teman di semua wadah dunia maya itu. Namun, tak satu pun yang dapat membawamu mendekat.

Kamu sungguh tak teraih, saya tahu itu. Kamu membuat saya gila, saya tahu itu. Tapi anehnya, semua itu tidak membuat saya berhenti menyukaimu.

If only I know how to stop loving you

Last Chapter About You

Saya baru tahu kalau seseorang yang pernah terluka bisa melukai orang lain dengan luka yang sama. Saya pikir dia yang paling mengerti betapa pedih rasanya diabaikan. Saya pikir dia yang paling tahu bagaimana rasanya diletakkan dalam urutan terakhir dalam kegembiraan, dan yang pertama diingat saat sedih melanda. Saya pikir dia paham sakitnya dimanfaatkan.

Dia pernah memaki orang-orang seperti itu. Dia bilang dia terluka. Teramat dalam.

Tapi, saya tak pernah menduga, kini dialah yang menoreh luka yang sama ke diri saya.

Mengabaikan. Melupakan. Memanfaatkan.

Dia lakukan itu semua. Sekaligus.

Dia hancurkan semua rasa percaya, yang saya berikan hati-hati padanya dulu karena dia pinta.

Dia bilang dia tidak sengaja. Tapi, tidak sengajakah namanya jika ia lakukan kesalahan yang sama berulang kali?

Atau… saya yang bodoh karena terus memberinya kesempatan?

Kesempatan yang seharusnya dipakainya untuk memperbaiki tapi justru terus meracuni.

Iya, saya yang bodoh.

Karena itu, mulai saat ini saya tidak mau dibodohi lagi.

 

PS: Ini tulisan terakhir saya tentang kamu. Mulai sekarang, saya akan menulis cerita saya sendiri dan mencari seseorang yang menerima dan menghargai saya apa adanya.

gambar dari sini