Thank You, iSUBS

iSUBS

Thank you iSUBS for everything. Everything. Terima kasih atas semua tawa yang kau tawarkan selama 4 tahun terakhir. Terima kasih atas semua pembelajaran yang membuatku semakin dewasa. Terima kasih atas kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris-ku. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk ‘bertemu’ dengan begitu banyak orang dari negara berbeda, mengenal mereka, bahkan sebagian masih menjadi sahabat-sahabatku di dunia nyata. Terima kasih atas semua life lessons, meaningful lessons, yang gak akan aku dapat kalau aku gak pernah bergabung dengan kalian. Terima kasih. Terima kasih. Tak sehari pun aku menyesal pernah menjadi bagian dari keluarga besar iSUBS. :’)

 

Screencaps dari sini

Bali Art Festival 2014

Kemarin, Pesta Kesenian Bali (Bali Art Festival) tahun 2014 dibuka. Seperti biasa, setiap tahun sebelum malam pembukaan, akan ada pawai oleh para peserta festival tahun itu. Saya dan Bapak kembali datang tahun ini untuk memotret para peserta pawai sebelum mereka manggung di depan Bapak Presiden dan tamu agung lainnya. Kenapa sebelum? Karena jelas-jelas akses dibatasi saat aksi manggung berlangsung. Yah, nasib gak dapat undangan kehormatan. Hehehe… :D

Pawai tahun ini bagi saya tidak semeriah tahun lalu. Kurang seru, karena tidak banyak peserta dengan alat musik yang membahana dan sedikitnya mobil hias yang ikut serta. Pawai tahun ini lebih ditekankan ke kostum dan penampilan saja. Efek Pemilu, sepertinya. Takut terjadi hal-hal tidak diinginkan.

Anyway, pemotretan kali ini saya menggunakan lensa manual Pentax 50mm f/2.8. Ada kejadian lucu saat saya ingin mengambil gambar seorang peserta pawai. Seorang pria berperawakan kecil berkacamata, menyilakan saya untuk mengambil duluan. Saya tidak enak, karena dia yang datang duluan. Lalu, dia berkata, “Gak pa-pa, Mbak. Silakan duluan”.

“Gak, Mas. Silakan, Mas duluan saja”

“Lensa mbak, manual kan?”

Saya heran. Kok dia bisa tahu. “Iya”, jawab saya ragu.

“Silakan, Mbak. Saya tahu, pakai lensa manual pasti lama fokusnya”

Dueng! Saya langsung tertawa dan berterima kasih atas permaklumannya.

Jadi, inilah hasil foto-foto saya kemarin. Maafkeun jika ada beberapa yang fokusnya ‘lari’, ya. Maklum, lensa manual dan saya belum terbiasa. Terbiasa dimanja dengan auto focus, sih. :D

Untuk gambar lainnya, silakan dilihat di album flickr saya.

 

Melaka

Saya, Nila, dan Linda kembali janjian bertemu di stasiun Bugis keesokan harinya. Saatnya meninggalkan Singapura.

Untuk pergi ke Melaka dari Singapura, kami menaiki bus dari Queen Street. Harga tiket bus-nya saat itu S$2,5, yang dijual di ‘loket’ sederhana yang dijaga oleh seorang kakek tua berwajah masam.

IMG-20140517-WA0001

Bus berangkat tak lama kemudian, setelah terisi nyaris penuh.

Ada beberapa pilihan untuk pergi ke Melaka dari Singapura melalui jalur darat. Semua tergantung berapa yang bersedia anda bayar. Semakin mahal, tentu semakin cepat dan nyaman.

Yang pertama, dengan bus kota hingga Larkin. Paling murah, bisa pakai EZ-Link. Tapi juga paling lama karena berhenti di setiap halte.

Yang kedua, bus biasa. Tiket harus dibayar tunai sebesar S$2,5. Bus hanya berhenti di Larkin untuk pemeriksaan paspor di imigrasi Singapura, lalu di imigrasi Malaysia, dan berakhir di Johor Baru. Lebih cepat dari yang saya sebut sebelumnya, tapi di setiap pemberhentian, bus tidak akan menunggu penumpang (jangan meninggalkan barang bawaan di dalam bus). Bus hanya menunggu selama 10 menit, sebelum berangkat. Jika pemeriksaan imigrasi selesai lebih cepat dari itu, tentu saja anda punya kesempatan untuk menaiki bus yang sama. Namun jangan khawatir, jika anda tertinggal, akan ada bus dari perusahaan yang sama yang akan datang berikutnya. Yang terpenting adalah, anda naik bus dari perusahaan yang sama, sesuai dengan yang tertera di tiket. Setelah sampai di terminal di Johor Baru, cari bus yang menuju ke Melaka. Akan ada banyak perusahaan bus yang menawarkan tiketnya kepada anda (baca: calo). Terus saja berjalan dan teliti setiap loket, pilihlah yang keberangkatannya paling dekat dengan saat anda datang, agar tak perlu menunggu terlalu lama.

Cara yang ketiga, yang termahal adalah dengan naik Coach Bus. Tiketnya seharga S$21 (mind the currency difference), dan kita tidak perlu berganti bus hingga Melaka. Bahkan, saat kita di imigrasi pun, bus ini akan menunggu hingga semua penumpangnya selesai, baru melanjutkan perjalanan.

Saat itu, kami menggunakan cara kedua dan tiba di Johor Baru pukul satu lebih. Kami beruntung masih bisa mendapatkan tiket untuk keberangkatan jam 13.30. Saat hari bekerja, tiket tak terlalu sulit didapat. Namun, kata Linda yang pernah ke sana saat weekend, tiket keberangkatan selanjutnya sangat sulit didapat saat musim liburan. Dulu, ia harus menunggu 2 jam di Johor Baru untuk mendapatkan seat yang masih kosong.

Saat masuk ke dalam bus, saya pun terpana. Kursi penumpang berformat 1-2 di setiap baris, tidak seperti di Indonesia yang 2-2. Mungkin ini yang menyebabkan setiap kursi terasa lapang dan lega. Jumlah seat di dalam bus 30. Jarak antar kursi lebar. Kursinya pun empuk dan bersih. Saya membatin, kalau saja bus malam di negeri kita senyaman ini, pasti para penumpangnya tidak akan sakit encok dan merasa pegal-pegal saat turun dari bus.

Jarak dari Johor Baru hingga terminal di Melaka sekitar 2 jam perjalanan jika lancar. Kami pun tiba di Melaka, sekitar pukul 4 sore di terminal Melaka. Dari sana, bus no 17 mengantarkan kami hingga depan Bangunan Merah.

SIN_383Bangunan Merah

SIN_377Gereja tua peninggalan Portugal jaman dahulu

Malamnya, kami mencoba Melaka River Cruise, wisata air menyusuri sungai Melaka sepanjang 6 km. Harga tiketnya sebesar RM 15. Melihat pemandangan sungai Melaka di malam hari, sungguh sangat romantis. Coba saja saat itu saya bersama seorang belahan jiwa, pasti sangat menyenangkan *lirik kedua sahabat di samping*. Haha… just kidding. Bersama teman juga menyenangkan, sih. Walau memang kayaknya lebih menyenangkan dengan opsi pertama. #teteup :P
(Maap gak ada foto saat berlayar malam hari, ya. Karena kurangnya cahaya, plus kapal yang bergoyang, semua hasil foto, blur) >.<

Bagi saya, agak bingung mencari makanan halal di Melaka. Mungkin karena saat itu sudah malam (mata udah siwer), atau memang ada tapi saya ragu. Akhirnya kami makan di sebuah kedai pastry yang memiliki tempat makan kecil yang tepat menghadap ke sungai. Enak banget croissant tuna-nya.

SIN_305Suasana kedai pastry Harper’s

SIN_308Mbak-nya sedang menyiapkan Croissant tuna dan seafood yang kami pesan. Slurrp!

SIN_311Yummy! :D

Ternyata, Melaka tak terlalu ramai saat malam, terutama dibandingkan saat siang dan sore harinya yang sangat sangat padat. Jam sepuluh malam, saat kami kembali ke penginapan, semua kedai sudah tutup dan jalanan sudah sepi. Agak takut juga sih, karena kami menginap cukup jauh dari pusat keramaian.

Paginya, saya dan Nila memutuskan untuk berjalan pagi. Linda bilang, ia akan menyusul kemudian. Saya tergoda untuk memotret kuil-kuil yang ada di daerah ini. Banyaknya keturunan Tionghoa di daerah ini menyebabkan banyaknya kuil yang berdiri di sini. Hampir di setiap tiga rumah yang berdiri, sebuah kuil pun berdiri. Beberapa dibuka untuk umum, beberapa tidak. Kata Linda, kemungkinan yang tidak dibuka untuk umum itu adalah kuil keluarga.

SIN_325Sebuah kuil yang dibuka untuk umum

SIN_326Ornamen di atas atap kuil

Setelah puas menyusuri Jonker street dan bernarsis ria, saya dan Nila memutuskan untuk sarapan di pinggir sungai Melaka. Sarapan. Sahabat. Ngobrol. Pemandangan indah. Perfect. :D I was really enjoying the moment.

SIN_446Melaka River Cruise saat pagi hari

SIN_447Sarapan sambil mandangin pemandangan ini, nih

SIN_461Melaka River

SIN_471Melaka River

SIN_362Melaka River

Linda bergabung saat kami sarapan. Setelah itu, kami bertiga mengunjungi sebuah kapal layar yang kini menjadi sebuah museum bernama Muzium Samudera. Harga tiket masuknya RM 6 untuk wisatawan manca negara dan lebih murah untuk lokal. Kalau anda sedikit pede, gunakan dialek Melayu dan sebutkan saja salah satu daerah di Malaysia saat ditanya asal. Sepertinya bisa lolos. *lirik Nila*

SIN_474Muzium Samudera

Puas berkeliling Melaka, membuat kami sedikit lupa waktu. Kami check out setengah jam lebih lambat dari seharusnya. Memang, berkeliling Melaka ternyata tak cukup hanya satu hari. Ada banyak tempat yang tak sempat kami kunjungi karena keterbatasan waktu. Semoga, lain kali saya bisa ke sana lagi dengan waktu yang lebih lama. :)

Trip To Singapore (Part 2)

Hari ketiga di Singapura, barulah saya bisa menemui Nila dan Linda, kedua sahabat saya. Mereka telah tiba sehari sebelumnya, tapi jalan-jalan berdua dulu karena saya harus kondangan, alasan utama saya datang ke negeri singa.

Kami janjian bertemu di stasiun MRT di City Hall. Oh iya, bagi yang ingin mengaktifkan roaming internasionalnya agar telpon selularnya tetap bisa dipakai di luar negeri, saya akan bagi tipsnya. Pengaturan ini berlaku untuk operator Indosat, ya. Untuk yang lain saya tidak begitu paham, karena kebetulan saya menggunakan operator tersebut. #bukaniklanberbayar.
Caranya, saat masih berada di Indonesia, ubah pengaturan telepon anda menjadi manual. Ingat, ini harus dilakukan saat masih di Indonesia. Saat anda menginjakkan kaki di negara yang dituju, telepon anda akan secara otomatis mencari jaringan operator yang tersedia. Jika ini tidak terjadi secara otomatis, kembali ke pengaturan telepon dan klik manual. Di Singapura, ada beberapa jaringan operator yang telah bekerjasama dengan pihak Indosat. Saya saat itu memilih Starhub, sesuai anjuran operator di Indonesia. Terbukti, selama di sana, jaringannya luas dan bagus. Whatsapp tidak pernah pending, sehingga komunikasi dengan kedua teman yang saat itu tinggal terpisah pun, tetap lancar. Tapi, musti diingat, tarif roaming internasional itu berlipat-lipat dari tarif lokal. Jadi, pakainya jangan kebablasan aja, kalau gak mau pulsa tiba-tiba habis atau tagihan membengkak untuk yang pasca bayar.

Setelah bertemu mereka di City Hall, kami melanjutkan perjalanan ke Sentosa Island dengan MRT. Bagi saya, transportasi dengan MRT ini adalah transportasi umum yang paling mudah dan murah di Singapura. Jalurnya sangat mudah dimengerti (peta MRT bisa dilihat di sini). Tinggal lihat daerah tujuan kamu, lalu lihat dimana kau berada sekarang. Jika jalur yang dilalui beda warna, lihat dimana kedua jalur itu bertemu. Itulah tempat kamu harus pindah jalur kereta. Simpel, kan?

Ada apa di Sentosa Island? Bagi yang suka wahana permainan, silakan bermain sepuasnya di Universal Studio di sini. Kalau saya dan kawan-kawan sih, lebih milih jalan-jalan dan foto-fotonya saja. Hehehe…
Untuk menuju ke sini, ada beberapa cara. Mulai dari naik kereta gantung, hingga jalan kaki melalui Sentosa board walk. Karena niat kami hanya jalan-jalan dan berfoto ria, kami tidak diburu waktu. Maka, Sentosa board walk-lah yang menjadi pilihan kami.

Tips buat yang akan makan di food court: gak semua makanan di Singapura halal. Jadi, bagi yang muslim, harus berhati-hati dan selektif dalam memilih makanan yang hendak dipesan. Untungnya, untuk tahu sebuah kedai halal atau tidak, cukup mudah. Biasanya mereka menggantung sertifikat halal di kedainya.
Salah satu food court yang recommended menurut saya adalah yang ada di stasiun Harbour Front. Harganya ‘lebih bersahabat’, pilihan kedai halal-nya banyak, dan porsinya guedhe banget. Agaknya mereka mengerti, kalau sebelum masuk ke Sentosa Island, kami semua perlu pasokan energi yang lebih besar dari biasanya. :p

Walau gak main, yang penting kan ada bukti fotonya kalau pernah ke sana. Hehehe...

Walau gak main, yang penting kan ada bukti fotonya kalau pernah ke sana. Hehehe…

Si Linda adalah Atlas, yang memegang bola bumi dengan jarinya.

Si Linda adalah Atlas, yang memegang bola bumi dengan jarinya.

Ternyata, walau di Sentosa board walk ada eskalator berjalannya, kami berjalan cukup jauh juga waktu itu. Bahkan, jika saat itu kaki saya cukup kuat, rupanya tidak demikian dengan sepatu saya. Jebol, bok! Hahaha… Hebat betul itu sepatu. Belinya di Indonesia, dibuangnya di Singapura. :p

Trip to Singapore (Part 1)

Be careful of what you wish for

Karena bisa jadi, harapan yang kau simpan dalam hati itu

menguntai menjadi doa hingga ke langit

didengarkan, lalu dikabulkan olehNya.

 

Akhir tahun kemarin, ada satu resolusi yang ingin saya wujudkan di tahun ini. Lebih banyak jalan-jalan a.k.a traveling. Didukung oleh banyaknya tanggal merah dan long weekend seperti yang pernah saya tulis di sini, saya ingin sekali melihat banyak tempat, bertemu dengan orang baru, dan belajar tentang hal baru. Pada saat itu sebenarnya sempat terbetik keinginan untuk traveling ke luar negeri untuk pertama kalinya. Tapi, saya belum berani. Pertama, karena saya belum punya paspor. Kedua, entah… rasanya hal itu masih terlalu jauh untuk diwujudkan. Jadilah, saat itu saya hanya merencanakan untuk membuat paspor di tahun ini dan baru menjelajah negeri orang tahun depan.

Tapi, kehendak Allah berkata lain. Tiba-tiba saja, dua bulan yang lalu, ortu dengan tergopoh memberi kabar, “Dek, kamu harus buat paspor besok. Dua bulan lagi kita berangkat ke Singapura. Ada undangan pernikahan di sana”. Dan, saya pun hanya bisa bengong mendengarnya.

Paspor pun dibuat, dan jadi hanya dalam waktu dua minggu. Tiket juga tak sulit didapat, bahkan dapat harga miring pula.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah, saat saya mengatakan berita ini ke kedua sahabat saya, reaksi mereka, “Ikuuutt!!”. Bagi mereka ini adalah kesempatan emas. Mumpung sahabatnya yang satu ini mau diajak pergi ke luar setelah selama ini selalu menolak dengan alasan gak punya paspor :p.

Jadilah, selama long weekend akhir Mei kemarin, saya menghabiskan liburan di Singapura, Melaka, dan Kuala Lumpur. Dua destinasi terakhir adalah destinasi tambahan dari kedua sahabat saya. “Singapura kecil dan mahal”, kata mereka. “Ayo sekalian backpacker-an ke Melaka dan KL”. Saya sih iya-iya-in saja. Lumayan, dapat tambahan stempel di paspor. Hehe..

Akhirnya, harapan saya bisa ke luar negeri terkabul juga, bahkan dipercepat. Tapi, kebayang gak sih, kalau alasan traveling ke luar pertama kali saya adalah KONDANGAN. Hahaha…

Cuss… to Singapore

Tanggal 24 sore, pesawat AA membawa saya dan ortu ke Singapura. Perjalanan kali ini, tidak bisa dikatakan full backpacker-an, ya. Secara, saya dan keluarga menginap di tempat saudara. Jadi, masalah akomodasi tidak saya rencanakan selama di sana. Namun, ada beberapa tips yang mungkin bisa bermanfaat di sana.

  • Belilah kartu EZ-Link, terutama jika banyak bepergian dengan kendaraan umum. Kendaraan umum sangat mudah di negara ini. Bus datang 10-15 menit sekali. MRT datang setiap 1-3 menit sekali. Kedua angkutan masal ini bisa menerima EZ-Link sebagai ‘alat pembayaran’. EZ-Link dapat dengan mudah diperoleh di bandara, stasiun MRT, maupun minimarket semacam 7-Eleven. Harganya bervariasi. Namun, berapapun harganya, patut diingat kalau biaya kartu adalah S$5. Jadi, jika harganya S$12, maka isinya adalah S$7. Jika S$15, maka isinya adalah S$10. Kartu ini bisa diisi ulang (Top Up, istilahnya) di stasiun MRT atau minimarket (dengan tambahan service charge 50 sen). Kenapa kartu ini penting? Karena, tidak ada uang kembalian saat kita naik bus. Untuk menghindari susahnya mencari uang receh saat naik kendaraan tersebut, kartu ini sangat praktis. Asal diingat saja, untuk selalu men-tap kembali saat akan turun. Jika kita sampai lupa, maka tarif yang dikenakan adalah tarif terjauh.
  • Electronic Outlet Socket di Singapura berbeda dengan di Indonesia. Kalau gak ngerti apa itu Electronic Outlet Socket, pasti ngerti kalau saya bilang colokan listrik, kan? :p Colokannya menggunakan standar Eropa yang bermata tiga. Jangan bingung tidak bisa men-charge hape saat di sana. Beli saja di supermarket besar, harganya sekitar 3-4 dolar Singapura.
  • Perhatikan aturan yang berlaku di sana. Kagum dengan Singapura yang serba rapi, teratur, dan bersih? Kalau kata orang, ‘No Pain, No Gain’. Itulah yang berlaku di sana. Untuk mewujudkan keteraturan di sana, hukum di sana sangat ketat. Buang sampah sembarangan, didenda. Makan-minum di tempat yang dilarang, didenda. Menyeberang tidak di tempat yang telah ditentukan, didenda. Jadi, perhatikan aturan di sana, kalau tidak mau duit liburan melayang ke tangan pemerintah.
  • Kendaraan umum tidak tersedia 24 jam. Berbeda dengan Jakarta yang kini membuka jalur bus trans-nya 24 jam sehari, kendaraan umum di negeri singa ini hanya ada hingga tengah malam. Jadi, selalu perhatikan jam saat jalan-jalan malam, ya. Jangan sampai gak bisa pulang gara-gara kehabisan bus/MRT. Atau, siap-siaplah merogoh kocek lebih dalam untuk menyewa taksi.

 

Di Singapura, selain menghadiri pernikahan kerabat jauh, tujuan utama kami semua berkumpul di sini adalah dalam rangka reuni keluarga. Mbah buyut saya dari pihak bapak, memang dulu menikah dengan orang Singapura. Anak tertuanya, Mbah Putri saya kemudian menikah dan diboyong ke Jawa. Jadi, ada beberapa keluarga di Singapura ini yang belum pernah saya jumpai hingga saat itu. Bapak pun tidak berjumpa dengan mereka selama puluhan tahun. Jadi, bayangkan saja betapa serunya mereka saat berjumpa kembali. Begitu banyak yang diceritakan. :D

Malam setelah acara resepsi, kami dari Indonesia ditraktir keliling kota dengan menaiki bus carteran. Kami ber-21 orang, mengunjungi beberapa spot terkenal di kota itu.

This slideshow requires JavaScript.

PS: Foto-foto di atas betul-betul penuh perjuangan. Dikarenakan kurangnya cahaya, speed kamera menjadi sangat lambat. Saya yang tidak membawa tripod, berjuang agar gambar-gambar yang diambil tidak blur. Banyak yang gagal, pastinya. Untungnya ada beberapa yang berhasil, terutama yang berhasil menemukan ‘pijakan’ stabil sebagai pengganti tripod. Kebayang gak sih, betapa frustasinya saya. Sampai-sampai saya memandang iri seorang pria yang juga sedang memotret dengan tripod. Saya sampai ingin menghampiri dan bilang, ‘Mas, Mas… boleh pinjam tripodnya bentar?’ T_T