Selamat Hari Kemerdekaan, Indonesia!

Tumben-tumbenan di kompleks perumahan ada acara 17 Agustus-an. Selama saya tinggal di sini selama 8 tahun, setahu saya acara lomba dalam rangka hari kemerdekaan Indonesia hanya diadakan sebanyak dua kali. Itu pun sepi peminat. Maklum, kepala keluarga di perumahan sini hanya sekitar 150 KK. Dari KK sebanyak itu, sebagian besar tidak tinggal di sana, rumahnya dikontrakkan, dan disewa oleh para bule. Jadilah, kompleks perumahan di sini sudah menyerupai perumahan di kota metropolitan, individualis dan tidak saling mengenal antara satu tetangga dan lainnya.

Namun, semenjak Kepala Lingkungan (KaLing) berganti, kebijakan pun berubah. Bu Leri, KaLing kami yang baru, tidak mau hal ini terulang lagi. Beliau menggiatkan kembali kegiatan banjar dinas kami yang lama vakum. PKK, arisan sebulan sekali, kerja bakti rutin, bank sampah, les tari Bali di balai pertemuan, diadakan kembali mulai tahun ini. Termasuk juga lomba dalam menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Bu Leri yang seorang mantan guide pariwisata, juga mengundang para bule yang tinggal di area perumahan. Kata beliau, ‘Hey, mereka kan tinggal di sini. Seharusnya mau bersosialisasi dengan warga di sini, dong’. Setuju banget, Bu! :D

Walau warga di sini tidak banyak, di luar dugaan acara berlangsung meriah. Senang melihat keriaan para tetangga yang berbaur bersama. Berhubung warganya adalah warga Indonesia dan asing, pembawa acara pun membawakan acaranya secara dwi bahasa, Indonesia dan Inggris. Hehe… gak cuma acara di Istana negara saja yang bilingual, kan.

Sebelum acara dimulai, kami jalan santai keliling kompleks terlebih dahulu. Jalan santai ini diadakannya jam 2 siang, lho. Jadi, panas-panas-ceria gimanaa gitu. Hahaha…

Setelah itu, barulah lomba dimulai. Yang dilombakan adalah: mengepit balon berpasangan, memancing botol, balap karung, dan menghirup bola pingpong. Lombanya memang tak banyak, tapi sudah sanggup membuat kami semua bergembira bersama. Hey, yang penting semangatnya, kan. :D

Acara hanya berlangsung dua jam, dan disambung kembali malamnya untuk pembagian hadiah serta halal bihalal, menghormati para tetangga muslim yang baru saja berlebaran. Lihat kan, betapa tolerannya masyarakat di sini. Jangan tertipu isu di luaran sana, ya. ;)

Lomba Lari

Sorak sorai membahana di sekelilingku. Menyemangati masing-masing dari kami. Aku belum berpacu, namun degup jantungku sudah lebih cepat dari biasanya.

Seorang dengan baju training berdiri di pinggir lapangan. Tangannya teracung ke atas.

“Dor!”

Ku ciptakan daya lenting bagi tubuhku. Aku melesat.

Satu peserta ku lewati. Lalu, peserta kedua. Aku bisa melakukannya. Aku pasti bisa.

Adrenalinku makin terpacu saat jumlah peserta di depan mulai menyusut jumlahnya. Aku pasti bisa.

Saat hanya tersisa dua peserta di hadapanku, tiba-tiba…

“Bruk!”. Aku tak tahu apa yang terjadi. Semua terjadi begitu cepat dan aku sudah tersungkur di tanah. Peserta lain mulai mendahuluiku. Tubuhku lemas seketika. Semua ingatan akan apa yang ku lakukan selama ini untuk sampai di sini, meluncur begitu saja dalam ingatan. Semua waktu yang tersita untuk latihan. Semua ajakan teman untuk bercengkerama yang ku tolak setiap kali. Semua tatapan tak mengerti mereka akan tekadku yang tak masuk akal.

Aku ingin menyerah saja, saat aku mendengar suara itu. “Ayo, Nak. Bangun! Jangan menyerah!”, seorang wanita baya berteriak padaku dari pinggir lapangan. “Ibu…”, sahutku lirih.

Ya, aku tak akan menyerah. Demi ibu yang selalu percaya padaku. Demi mimpi yang selalu ku genggam erat. Demi diriku sendiri.

Aku paksakan tubuhku bangkit, lalu mulai berlari.

Satu peserta ku salip. Dua peserta. Jumlah mereka semakin menyusut di depanku. Dan, garis putih itu pun terlihat semakin jelas.

Sepuluh meter… Lima meter… Aku memejamkan mata, merentangkan tangan, dan tersenyum bahagia saat tubuhku melampaui garis itu. Aku telah memenangkannya. Perlombaan lari bagi kaum difabel.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Pengakuan

Kupacu vespa bututku. Seikat mawar di genggaman tangan kiriku kupegang erat, agar tak rusak oleh hembusan angin. Jantungku berdegup kencang. Hari ini adalah saatnya.

Aku masih ingat hari itu, minggu yang lalu, saat kau datang padaku dengan mata bersinar dan dengan mantap berkata, “I’m done! Aku udah selesai dengan dia dan semua masa laluku dengannya”

Ku pandang kau dengan ragu. “Kau yakin?”. Lima tahun kau bersamanya. Lima tahun yang penuh dengan drama dan selalu aku yang kau jadikan tempat sampah, tempat kau berkeluh kesah.

“Ya, aku yakin seyakin-yakinnya”, kau menatap mataku lurus. “Aku tidak akan membiarkannya membuatku membuang masa mudaku lebih panjang lagi. Sudah cukup aku mendengar semua kebohongannya. Sudah cukup aku menerima pengkhianatannya”, matamu berkilat emosi.

“Mulai sekarang, aku akan menjadi aku yang baru”, tambahmu lagi. “Aku akan mencari seorang yang menerimaku apa adanya. Hmm… kau tahu, tipe seperti apa yang ingin ku cari?”, matamu kini berbinar menatapku.

Hatiku mencelos. Ugh, mata itu. Sudah berapa lama binar itu sirna, pikirku. Binar yang sudah membiusku sejak bertahun-tahun silam. Binar yang membuatku terus bertahan hingga saat ini.

Aku hanya bisa menggeleng.

“Aku akan mencari seorang kekasih yang juga bisa menjadi seorang sahabat”, matamu menerawang jauh. “Karena seorang sahabat tak kan berbohong. Aku pasti merasa aman dan nyaman dengannya, karena ia bisa ku percaya”.

Degupku berhenti. Apa yang ia bicarakan? Apakah ini pertanda bagiku?

Dan begitulah, ku anggap ini pertanda untukku. Hari ini adalah saatnya. Aku akan menyatakan perasaan yang ku pendam lama.

Tanpa sadar aku kini berdiri di depan pintu rumahmu. Dengan seikat mawar di gengggaman. Lututku gemetar. Namun, ku beranikan diri untuk mengetuk.

“Ardi?”. Kau berdiri di depan pintu yang terbuka. Gaunmu merah jambu, melayang ringan mengikuti gerakmu. Kau cantik sekali, seperti biasanya. Sempurna, ini terlalu sempurna. Aku hendak membuka mulut sebelum kau memotongku,

“Ar… senang sekali kau mampir. Tapi aku buru-buru, nih”

Bunyi klakson mobil terdengar.

“Oh, Harris sudah datang”, kau tersenyum gembira tanpa menghiraukan rautku yang berubah kaku. Nama itu. Nama yang telah terpatri di ingatanmu lima tahun ini.

“Aku balikan lagi dengannya”, ujarmu enteng. “Eh, aku ceritain lagi deh nanti. Aku pergi dulu”. Kau melambaikan tangan padanya dan berlalu dari hadapanku.

Nanti… apakah aku masih punya ‘nanti’?. Aku tertunduk lesu, selayu seikat mawarku kini yang berguguran di teras rumahmu.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Thank You, iSUBS

iSUBS

Thank you iSUBS for everything. Everything. Terima kasih atas semua tawa yang kau tawarkan selama 4 tahun terakhir. Terima kasih atas semua pembelajaran yang membuatku semakin dewasa. Terima kasih atas kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris-ku. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk ‘bertemu’ dengan begitu banyak orang dari negara berbeda, mengenal mereka, bahkan sebagian masih menjadi sahabat-sahabatku di dunia nyata. Terima kasih atas semua life lessons, meaningful lessons, yang gak akan aku dapat kalau aku gak pernah bergabung dengan kalian. Terima kasih. Terima kasih. Tak sehari pun aku menyesal pernah menjadi bagian dari keluarga besar iSUBS. :’)

 

Screencaps dari sini