Ada Harga, Ada Rupa

Beberapa hari yang lalu, saya membaca artikel ini di internet. Dalam artikel itu dimuat keluhan 50 orang pengantin atas fotografer pernikahan mereka. Walau saya bukan seorang wedding photographer, saya setuju dengan pertanyaan yang menyertai komplain tersebut, “Jadi, anda membayar berapa untuk jasa pemotretan pernikahan anda?”. Bukan bermaksud materialistis, tapi dalam fotografi saya setuju dengan pendapat bahwa harga gak bisa bohong. Jangankan jasa pemotretan, bahkan dalam peralatan fotografi pun, semakin mahal sebuah kamera semakin bagus kualitasnya. Kamera saku yang harganya lebih dari 8 juta rupiah, kualitasnya mengalahkan DSLR entry level.

Apalagi jika sudah menyangkut jasa fotografi. Sudah jamak jika dikatakan, you get what you pay for. Ada harga, ada rupa. Semakin mahal anda bayar, maka akan semakin memuaskan hasil yang anda terima. Maka, jangan mengharapkan jasa wedding photographer dengan tarif 2 juta akan mampu menghasilkan karya seperti seorang fotografer dengan tarif 10 juta, misalnya. Sayangnya, banyak klien yang lupa akan hal ini. Mereka dengan mudahnya melayangkan komplain, membandingkan hasil sang fotografer dengan hasil foto di internet. Mereka lupa bahwa mengunduh gambar di internet mungkin gratis, tapi untuk menghasilkan foto seperti itu, ada budget yang gak kira-kira mahalnya. Dan, hasil foto internet itu dibandingkan dengan jasa fotografi murah yang ia pesan? Yang benar saja!

Dari sekian banyak komplain dalam daftar itu, mungkin bagi orang-orang yang keterlaluan adalah nomor satu.
“1. My photographer fled the area after giving us the raw photos digitally but before editing our photos and giving us our wedding photo book as required in the contract. We did our own editing in Windows Live and printed them in BrideBox and they came out wonderfully! What a relief!”

Saya tidak tahu apa yang terjadi hingga si fotografer berani memberikan file mentah kepada kliennya (untuk orang yang awam, RAW file adalah file mentah yang berarti asli diambil dari kamera dan belum diedit sama sekali. Masalahnya, tidak semua program bisa membuka file ini. Biasanya file ini dibuka oleh software tertentu seperti adobe RAW atau software bawaan kamera). Memberikan file mentah begitu saja, selain merugikan si klien, tentu merugikan si fotografer itu sendiri. Paling tidak, nama baiknya akan tercemar karena dianggap tidak profesional dan melanggar kontrak. Namun, si klien juga perlu ditanya apakah ada kontrak yang ia langgar juga hingga si fotografer memutuskan melakukan itu. Saya pernah membaca suatu kasus di sebuah grup fotografi di FB. Seorang fotografer mengeluh kliennya tak mau membayar penuh setelah pekerjaan ia selesaikan. Si klien mengatakan, ia tak memiliki uang dan memohon si fotografer untuk memberikan file-nya saja agar ia bisa mencetaknya sendiri di tempat lain, atau paling tidak ia bisa melihatnya di komputer. Si fotografer serba salah. Di satu sisi, ia telah menerima uang muka sebelum pekerjaan dimulai. Tapi, uang muka tersebut tentu saja tidak mencukupi operasional selama pemotretan berlangsung. Di lain pihak, dia juga merasa marah karena si klien telah melanggar kesepakatan. Beberapa saran di kolom komen menyebutkan untuk menyetorkan file RAW saja, biar si klien sendiri yang kelimpungan memprosesnya. Ada lagi yang lebih kejam, menyuruh si fotografer untuk memberi watermark raksasa yang menutupi wajah si pengantin sehingga mereka takkan bisa mencetak foto itu sebelum pembayaran dilunasi.

Klien terkadang lupa, kalau fotografer adalah pekerjaan juga. Mereka butuh makan, uang untuk biaya hidup, serta memenuhi kebutuhan operasional perusahaan. Jika pertanyaannya dibalik, apakah klien mau bekerja tanpa dibayar? Atau diupah kecil dengan tekanan pekerjaan yang berat? Jika jawabannya adalah tidak, maka mengapa mereka masih memperlakukan jasa fotografi dengan tidak layak?
Ada lagi komentar yang dengan sinis mengatakan, “Ah, saudara saya juga punya kamera DSLR. Dia juga bisa motret”. Lalu, kenapa tidak meminta saudaranya saja untuk memotret pernikahan mereka dan justru merendahkan orang yang benar-benar berprofesi di bidang ini?

Keluhan lain dalam daftar itu, ada juga yang mengeluh kalau hasil fotonya tidak seperti yang ia harapkan. Fotografer yang ia sewa melakukan terlalu banyak koreksi dengan menggunakan filter-filter. Saya rasa, seharusnya setiap calon pengantin WAJIB untuk melihat portofolio fotografer yang akan ia sewa sebelum mereka menyewanya. Bahkan walaupun si fotografer adalah teman calon mempelai sendiri. Dengan demikian, mereka akan tahu apakah selera si fotografer sesuai dengan selera mereka dan sebagainya. Selain itu, komunikasi juga penting agar tidak terjadi salah pengertian dan kesepahaman akan apa yang harus dipotret oleh si fotografer.

Namun, saya tidak sepenuhnya menyalahkan klien akan kemunduran di industri ini. Kesalahan juga terletak pada banyaknya ‘fotografer-fotografer’ baru yang masuk ke bidang ini, yang ingin sukses dalam waktu singkat. Mereka membanting harga, merusak pasar, membuat orang-orang merendahkan profesi mereka sendiri. Walau pada akhirnya mereka sadar kalau harga yang rendah membuat mereka tidak dihargai dengan semestinya, tidak mampu meningkatkan kemampuan mereka, dan pada akhirnya usaha mereka mati dengan sendirinya. Sayangnya, fotografer jenis ini tumbuh bagai jamur di musim penghujan. Entah sampai kapan mereka akan sadar kalau mereka memberi racun pada industri ini.

Masalah rusaknya pasar karena perang tarif ini membuat saya teringat akan seorang kawan saya sejak kuliah dulu. Dia merintis bisnis pemotretan prewed dan wedding sejak kurang lebih lima tahun yang lalu. Kemampuannya mumpuni. Dia salah satu fotografer panutan saya. Dia sedih saat tahu harga pasar telah rusak. Tapi, dia bertahan pada idealisme-nya untuk tidak latah membanting harga seperti yang lain. Dia tahu kemampuannya, dan dia menolak untuk menerima lebih rendah dari seharusnya. Dan, apakah ia menjadi bangkrut atas keputusannya itu? Tidak. Ia justru lebih besar dari sebelumnya. Saat tahu dengan kemampuannya dan harga yang ia tawarkan tak mampu dijangkau oleh sebagian besar orang lokal, ia mulai membidik klien internasional. Ia mengikuti pameran di luar negeri. Kini, ia mendapat job rata-rata 80-100 job sebulan. Berarti, rata-rata 2-3 job sehari. Tentu saja semua job itu tidak ia kerjakan sendiri. Ia memiliki tim yang sudah tahu standar yang ia tetapkan.

Saya sungguh salut dengan kawan saya ini. Memang, kita harus tahu ‘harga’ dari diri kita sendiri untuk tahu apa yang pantas kita dapatkan. Lalu berilah yang terbaik untuk mendapatkannya, maka kita akan mendapatkannya. Saya juga berharap, jangan ada lagi orang-orang yang merendahkan profesi fotografer. Walau saya bukan seorang pro yang menggantungkan hidup di bidang fotografi, saya tahu kalau sakitnya tuh di siniii… saat ada yang meminta difoto gratis hanya karena kita punya DSLR. Fotografer juga manusia, maka perlakukan kami dengan manusiawi.

Dia Milikku

Aku menggeretakkan gerahamku menahan geram. Mobil Edi di depan rumah Elsa malam itu, malam minggu. Tadi siang, Edi menolak untuk bertemu malam ini, rutinitas persahabatan kami saban malam minggu. Ia bilang, ia ada acara keluarga penting. Acara keluarga? Di rumah Elsa? “Yang benar saja, Ed. Kau bohong padaku!”, kuhantamkan buku-buku tangan kananku ke atas dashboard mobil.

Aku melihat Edi keluar dari rumah Elsa. Elsa menemani di sampingnya sambil bergayut manja di lengan Edi. Ia masih tersenyum bahagia saat melambaikan tangan, mengantar kepergian Edi.

“Elsa!”, aku turun dari mobil dan memanggil gadis itu sebelum ia masuk kembali ke dalam rumah.

“Ton…”, ia terkesiap kaget.

“Kenapa kamu tega melakukan ini, El. Kamu sudah tahu semuanya, semua perasaanku ke Edi. Kamu tahu aku menyukainya sejak dulu. Lalu, kenapa kamu menikamku dari belakang dan jadian dengannya?!”, cecarku.

“Maaf, Ton… Tapi, aku juga suka dengan Edi. Jadi, tolong relakan kami”, ujar Elsa memelas. “Toh, kalian tidak mungkin bersama, kan?”.

Kalimat terakhir Elsa menohok perasaanku. Darahku mendidih. Aku mendekati Elsa, dan…

Jleb! Kutancapkan belati tepat di jantungnya.

“Iya. Kami mungkin tak bisa bersama sebagai sepasang kekasih. Tapi, dia milikku, El. Milikku, dan takkan pernah menjadi milikmu”. Dengan dingin ku tatap mata Elsa yang membelalak tak percaya, sebelum sinar matanya perlahan meredup sirna.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

The Power of Dream

Saya punya seorang kawan, sebut saja namanya Zee. Zee adalah seorang penggemar berat KPop. Grup band favoritnya adalah Super Junior alias Suju. She’s really a hardcore fan of this boyband. Se-ngefans apa? Bisa dibilang, dia telah melakukan banyak hal demi bertemu langsung dengan idolanya.

Saat itu, mendatangkan artis Korea ke sini adalah mustahil. Belum ada promotor yang mau mendatangkan mereka. Jadi, satu-satunya cara bagi Zee untuk bertemu Suju adalah ia harus pergi ke Korsel. Masalahnya, pergi ke sana tidaklah murah. Jadi, ia pun memutar otak bagaimana caranya agar bisa ke sana secara gratis.

Dimulai dengan tekun mengikuti kursus bahasa Korea selama bertahun-tahun. Ia selalu berusaha menjadi peringkat satu di kelas, karena ada hadiah liburan ke Korea Selatan bagi sang juara. Sayangnya ia gagal, karena ada seorang anak lainnya yang selalu menduduki peringkat teratas di kelas. Ia sendiri tertahan di ranking dua.

Tidak menyerah sampai sana, selepas kuliah ia pun mengincar perusahaan-perusahaan asal Korsel yang membuka cabang di Indonesia. Ia akhirnya diterima di sebuah perusahaan retailer ternama asal negeri ginseng. Walau harus kerja rodi dari pagi hingga pagi, semua ia jalani demi mendapat kesempatan mendapat training di negara asal perusahaan itu. Sayangnya, tubuhnya tidak kuat menjalani ritme kerja yang menggila. Ia resign sebelum kesempatan itu datang.

Ia akhirnya bisa mencapai Korsel, sih. Dengan tabungannya sendiri, hasil kerja selama dua tahun di perusahaan itu. Selama berlibur di sana beberapa hari, ia berhasil menghadiri beberapa konser dan bertemu dengan bintang-bintang KPop pujaannya. :D

Tapi bagi Zee, berlibur selama beberapa hari di negeri yang menjadi pelopor Hallyu Wave ini tidaklah cukup. Sedari dulu, cita-citanya adalah menetap dan bekerja di sana. Jadi sepulang dari liburan ke Korsel, ia segera melamar pekerjaan yang bisa membawanya kembali ke sana.

And you know what? Saat ini ia memang sedang berada di sana. Ia diterima sebagai reporter yang meliput Asian Games 2014 yang kini berlangsung di Incheon, Korsel. Pengalaman sebagai reporter lepas beberapa situs KPop, serta kemampuan berbahasa Inggris dan Korea-nya yang mumpuni membuatnya diterima dan mendapatkan kesempatan itu.

Melihat perjalanan mimpi seorang Zee,  membuat saya takjub. Mungkin bagi sebagian orang, mimpi bertemu bintang idola adalah sebuah mimpi yang konyol. Tapi, mimpi kawan saya ini telah membuat ia melakukan hal yang orang lain tak berani lakukan. Ia bisa pergi ke tempat-tempat yang orang lain tak bisa capai. Semua berkat mimpi dan tekad kuatnya. Kalau saja ia mendengar dan menuruti perkataan orang, mungkin saat ini ia masih tetap tak bisa pergi ke Korea. Mungkin saat ini ia masih saja berkhayal sambil berujar, “What if?”. Untungnya, ia lebih percaya pada mimpi-mimpinya dan memutuskan untuk mengejarnya. Untuk itu, saya salut padanya.

Tapi, semua ini juga membuat saya bertanya kepada diri sendiri, apakah saya sudah berusaha mengejar mimpi saya sendiri? Bagaimana denganmu? Apakah kamu pernah berusaha meraih mimpi-mimpimu?