Tips: How to Move On

Beberapa hari lalu ketemu sebuah link di pinterest yang membahas tentang bagaimana caranya move on setelah diputusin secara sepihak. Karena artikelnya bagus, akan saya bagi aja di sini. Sengaja posting-nya pas malam minggu, siapa tahu ada yang galau karena baru menjomblo atau sedang patah hati, jadi kan bisa sekalian buat obat penawar galau. Tsaahh… *kemudian ditimpuk para jomblowan-jomblowati sedunia* :D

Sumber dari sini

When a relationship ends and one party doesn’t want it to be over it hurts. A lot. There are few situations that are more challenging to a woman’s self esteem than the one you are in, and I am sure you have spent more than your fair share of time wondering why it had to end, or even worse- what it was about you that may not have been “enough”. Yes, just as you said, this is a really rough place to be in.


The problem is, it seems as if the pain is not going away. It continues to hurt, continues to be in your thoughts, and continues to affect you. Not to be hard on you, but this is happening because you are allowing it to. Stop talking to him. Immediately. He is perpetuating this and you are letting him in to do it.


Now, I realize that this is easier said than done. But, I feel that you are being challenged to learn how to empower yourself as a woman. And to trust that the universe has a greater design for your life and a plan for your future. When you are clinging to a relationship that is being stripped away, you aren’t working with the flow of your own existence. You are swimming upstream, struggling and not letting the current carry you. Let go! This relationship does not serve you, at least not right now. How do I know this? Because it has ended.


Now, this is not to say that someday this man will be running after you, begging for you to take him back. I can’t tell you how many times I have seen a woman shift her energy away from a man and move on, only to have him chasing after her when before he acted as if he could care less. Hey, life is a long journey and you never know. But, this will not happen while you are holding this space for him. Focus on yourself, not him. Imagine two magnets, when one leans into the other, it causes the second magnet to pull away. This is what you are doing, you are leaning into him. And, on an energetic level, you are blocking new things from coming into your life. Where you are now, and still talking to a guy you are mooning over, you cannot bring a new relationship that does serve you into your life.


The ending of a relationship is like experiencing a death, which means you must grieve. You must do this work, to sit with the pain and work through it. Think of the 5 Stages of Grieving: Denial, Anger, Bargaining, Depression, and Acceptance. Right now you are stuck in the first four and you absolutely cannot move into acceptance until you walk away from this man for good.
My advice is to stop all communication with him. If he reaches out to you, explain to him that you need to move on and would appreciate him respecting that and not talk to you. Do the healing work behind this, find yourself again, and step into being a more empowered, wise woman for having had the experience of this relationship. And then, your next relationship (whether with this guy or a completely new one) will reflect this new level of healing.
Rip off the band-aid. You will be so glad you did.

 

Yah, kalau kata orang tua mah, time heals. Jangan dipaksain. Kalau memang sakit, ya memang harus gitu jalannya. Jangan maksain musti sembuh sekarang. Atau malah sengaja cari rebound buat ngelupain yang lama. Jangan, yah. *puk puk*

Jadi inget kata si @nisankubur soal move on ini.

Move on itu kayak nanem jagung. Mana ada orang nanya, “Gimana caranya jagung gue panen dalam seminggu?” – @nisankubur

 

People Always Judge, Anyway

Suatu hari, Lukman berjalan bersama anaknya. Mereka menuntun keledai milik mereka satu-satunya. Sampailah mereka di sebuah pasar. Saat masuk di pintu pasar, Lukman mendengar kasak-kusuk di samping mereka,

“Lihat betapa bodohnya ia. Mereka memiliki seekor keledai, tapi tidak menaikinya. Apa gunanya si keledai itu?”

Mendengar hal itu, Lukman menoleh ke anaknya dan berkata, “Nak, engkau naikilah keledai ini. Biar bapak berjalan di sampingmu”.

Anaknya menurut dan menaiki keledai itu.

Belum jauh mereka berjalan, Lukman mulai mendengar dengungan suara orang di sampingnya,
“Lihat anak durhaka itu. Enak-enak ia duduk di atas keledai, sementara bapaknya berjalan di sampingnya”.

Lukman menghentikan jalannya keledai lalu berkata kepada anaknya, “Nak, kau turunlah. Biar bapak yang menaiki keledai ini. Kau berjalanlah di samping bapak”.

Anaknya kembali menuruti perintah Lukman dan mereka pun kembali berjalan.

Kembali Lukman mendengar suara-suara ketus di sampingnya,
“Wah, benar-benar bapak yang tidak tahu diri. Tega nian membiarkan anaknya berjalan, sementara ia duduk di atas keledai”.

Lukman lalu berkata kepada anaknya, “Nak, naiklah engkau bersamaku ke atas keledai”. Sang anak lagi-lagi menaati perintah bapaknya.

Kini tak hanya satu-dua orang yang bergumam, melainkan ada banyak orang yang menunjuk mereka seraya berkata, “Tega benar mereka. Satu keledai dinaiki dua orang? Tidak kasihankah mereka pada keledai malang itu?”

Namun Lukman tak peduli, dan terus meneruskan perjalanan.

Saat mereka keluar dari pasar, Lukman menghentikan sang keledai lalu turun. Ia pun berkata pada anaknya,

“Kau lihat, Nak? Apapun yang kau lakukan, kau takkan pernah bisa menyenangkan semua orang. Setiap orang akan menilai dan menghakimimu, apapun yang kau lakukan. Karena itu, jangan berbuat sesuatu untuk menyenangkan orang lain atau karena berharap penilaian yang baik dari mereka. Berbuatlah, karena kau tahu yang kau buat itu benar. Berbuatlah, hanya karena berharap penilaian baik dariNya saja”.

Mereka kemudian kembali melanjutkan perjalanan.


People always judge. Do it, anyway. Do what you think is right.

Selamat Hari Kemerdekaan, Indonesia!

Tumben-tumbenan di kompleks perumahan ada acara 17 Agustus-an. Selama saya tinggal di sini selama 8 tahun, setahu saya acara lomba dalam rangka hari kemerdekaan Indonesia hanya diadakan sebanyak dua kali. Itu pun sepi peminat. Maklum, kepala keluarga di perumahan sini hanya sekitar 150 KK. Dari KK sebanyak itu, sebagian besar tidak tinggal di sana, rumahnya dikontrakkan, dan disewa oleh para bule. Jadilah, kompleks perumahan di sini sudah menyerupai perumahan di kota metropolitan, individualis dan tidak saling mengenal antara satu tetangga dan lainnya.

Namun, semenjak Kepala Lingkungan (KaLing) berganti, kebijakan pun berubah. Bu Leri, KaLing kami yang baru, tidak mau hal ini terulang lagi. Beliau menggiatkan kembali kegiatan banjar dinas kami yang lama vakum. PKK, arisan sebulan sekali, kerja bakti rutin, bank sampah, les tari Bali di balai pertemuan, diadakan kembali mulai tahun ini. Termasuk juga lomba dalam menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Bu Leri yang seorang mantan guide pariwisata, juga mengundang para bule yang tinggal di area perumahan. Kata beliau, ‘Hey, mereka kan tinggal di sini. Seharusnya mau bersosialisasi dengan warga di sini, dong’. Setuju banget, Bu! :D

Walau warga di sini tidak banyak, di luar dugaan acara berlangsung meriah. Senang melihat keriaan para tetangga yang berbaur bersama. Berhubung warganya adalah warga Indonesia dan asing, pembawa acara pun membawakan acaranya secara dwi bahasa, Indonesia dan Inggris. Hehe… gak cuma acara di Istana negara saja yang bilingual, kan.

Sebelum acara dimulai, kami jalan santai keliling kompleks terlebih dahulu. Jalan santai ini diadakannya jam 2 siang, lho. Jadi, panas-panas-ceria gimanaa gitu. Hahaha…

Setelah itu, barulah lomba dimulai. Yang dilombakan adalah: mengepit balon berpasangan, memancing botol, balap karung, dan menghirup bola pingpong. Lombanya memang tak banyak, tapi sudah sanggup membuat kami semua bergembira bersama. Hey, yang penting semangatnya, kan. :D

Acara hanya berlangsung dua jam, dan disambung kembali malamnya untuk pembagian hadiah serta halal bihalal, menghormati para tetangga muslim yang baru saja berlebaran. Lihat kan, betapa tolerannya masyarakat di sini. Jangan tertipu isu di luaran sana, ya. ;)

Lomba Lari

Sorak sorai membahana di sekelilingku. Menyemangati masing-masing dari kami. Aku belum berpacu, namun degup jantungku sudah lebih cepat dari biasanya.

Seorang dengan baju training berdiri di pinggir lapangan. Tangannya teracung ke atas.

“Dor!”

Ku ciptakan daya lenting bagi tubuhku. Aku melesat.

Satu peserta ku lewati. Lalu, peserta kedua. Aku bisa melakukannya. Aku pasti bisa.

Adrenalinku makin terpacu saat jumlah peserta di depan mulai menyusut jumlahnya. Aku pasti bisa.

Saat hanya tersisa dua peserta di hadapanku, tiba-tiba…

“Bruk!”. Aku tak tahu apa yang terjadi. Semua terjadi begitu cepat dan aku sudah tersungkur di tanah. Peserta lain mulai mendahuluiku. Tubuhku lemas seketika. Semua ingatan akan apa yang ku lakukan selama ini untuk sampai di sini, meluncur begitu saja dalam ingatan. Semua waktu yang tersita untuk latihan. Semua ajakan teman untuk bercengkerama yang ku tolak setiap kali. Semua tatapan tak mengerti mereka akan tekadku yang tak masuk akal.

Aku ingin menyerah saja, saat aku mendengar suara itu. “Ayo, Nak. Bangun! Jangan menyerah!”, seorang wanita baya berteriak padaku dari pinggir lapangan. “Ibu…”, sahutku lirih.

Ya, aku tak akan menyerah. Demi ibu yang selalu percaya padaku. Demi mimpi yang selalu ku genggam erat. Demi diriku sendiri.

Aku paksakan tubuhku bangkit, lalu mulai berlari.

Satu peserta ku salip. Dua peserta. Jumlah mereka semakin menyusut di depanku. Dan, garis putih itu pun terlihat semakin jelas.

Sepuluh meter… Lima meter… Aku memejamkan mata, merentangkan tangan, dan tersenyum bahagia saat tubuhku melampaui garis itu. Aku telah memenangkannya. Perlombaan lari bagi kaum difabel.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku