Cerita · Menulis

Aborsi

Nita menutup kepalanya dengan bantal. Tangisan bayi itu terdengar semakin menjadi. “Hentikan. Tolong hentikan”, isaknya teredam bantal yang ditekannya kuat-kuat.

Sudah tiga hari ini ia tak bisa tidur. Semuanya karena tangisan bayi yang selalu pecah menjelang tengah malam. Bukan tanpa alasan ia takut dengan suara tangisan itu. Semuanya bermula dari dua minggu lalu saat ia menemui Ardi di belakang sekolah.

“Aku hamil, Ar”, ujar Nita panik.

Mata Ardi langsung membelalak. “Kamu yakin?”, tanyanya dengan suara tertahan, takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.

“Aku… Bukankah aku sudah bilang ke kamu kalau aku sudah terlambat datang bulan selama tiga bulan ini?”

“Tapi, mungkin saja kamu kecapekan, Nit”, sahut Ardi tak sabar. Ia sungguh berharap percakapan ini tak pernah terjadi. Langsung terbayang di matanya kalau ia akan kehilangan masa depannya. Tak ada lagi cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah seperti impiannya. Ia akan putus sekolah. Orang tuanya pasti menyuruhnya untuk bertanggung jawab. Ia pasti akan langsung disuruh menikahi Nita dan bekerja agar bisa membeli susu untuk si bayi nanti. Padahal, ia tidak terlalu menyukai Nita. Ia hanya iseng jadian dengannya. Keisengan yang berujung pahit.

“Nggak, Ar. Aku sudah pakai test-pack kemarin. Dan, hasilnya positif”. Nita menatap Ardi dengan tatapan tak berdaya. “Kita harus bagaimana?”

“Nit”, Ardi mencengkeram tangan Nita. “Kamu pasti nggak mau kehilangan masa depanmu. Aku juga. Kalau kita membiarkan anak ini lahir, kamu dan aku pasti harus putus sekolah. Kamu nggak mau itu terjadi, kan? Kita nggak boleh membiarkan itu terjadi”

Mata Nita membelalak lebar, “Jadi?”, tanyanya takut-takut.

“Kita gugurkan”, ujar Ardi mantap.

Tiga hari kemudian, Ardi membawanya ke sebuah rumah sederhana di pelosok desa. Di teras rumah, sudah ada tiga pasangan lainnya dengan wajah sama pucatnya dengan mereka. Dari dalam rumah sesekali terdengar pekikan kesakitan yang terdengar sayup-sayup. Mungkin si pemilik klinik aborsi ilegal ini memasang peredam suara di tembok-tembok dalam rumahnya. Berjaga-jaga agar teriakan si pasien jangan sampai terdengar oleh orang lain di luar rumah.

Tak lama kemudian, seorang perempuan muda seusia dirinya dipapah keluar rumah. Wajahnya pias, keringat dingin mengucur dari dahinya. Ia terlihat meringis menahan sakit dan nyaris tak bisa berdiri. Seorang pemuda seumuran dengannya, memapahnya di sampingnya. Ia terlihat khawatir dengan sang perempuan. Tetapi entah kenapa, Nita bisa melihat ada raut lega di wajahnya.

“Ardi Nugroho”, seorang perawat berperawakan gemuk dan bertampang dingin memanggil nama Ardi.

“Iy… Iya, saya”, jawab Ardi. “Ayo, Nit”, ujarnya kepada Nita sambil menarik tangannya.

Nita rasanya ingin menciut dan hilang saja dari tempat ini. Ia takut, sangat takut.

Lalu, ketakutan itu berubah menjadi rasa sakit yang teramat sangat. Seperti ada yang tercerabut dari dalam dirinya, fisik maupun mental. Separuh jiwanya seakan sirna saat ia meninggalkan klinik itu.

Semenjak hari itu, Ardi sulit dihubungi. Tiba-tiba saja ia pindah sekolah. Saat Nita mendatangi kediamannya, orangtuanya bilang kalau Ardi kini bersekolah di tempat pamannya di Yogyakarta. Mereka bilang, itu permintaan Ardi sendiri. Katanya, ia ingin membiasakan diri dengan suasana kota itu sebelum berkuliah di sana.

Sekembalinya dari sana, setiap hari sepulang sekolah, yang dikerjakan Nita hanya mengurung diri di kamar. Ia kehilangan keceriaannya. Ibunya mengira, Nita stres karena sekarang ia sudah kelas 3 dan akan ujian kelulusan. Jadi, ia membiarkan saja saat putrinya masuk ke dalam kamar.

Tapi, sudah tiga hari ini Nita terusik. Tangisan bayi selalu terdengar saat tengah malam tiba. Nita menggigil ketakutan. Itu pasti bayinya, pikirnya. Bayi yang tak sempat ia lahirkan, kini menuntutnya karena hak hidupnya telah direnggut.

Semakin kencang ia membenamkan kepalanya dalam bantal, tangisan itu terdengar semakin keras. Akhirnya, Nita menyerah.

Perlahan-lahan ia duduk di atas kasur. Sambil terisak, ia berujar lirih, “Kamu pasti nggak mau sendirian ya, nak. Kamu pasti nggak mau sendirian”.

Sambil terus-menerus mengulang kalimat itu, Nita bangkit dan berjalan gontai ke pojokan kamar. Ia meraih racun serangga yang tergeletak di sana.

***

Suara ambulan meraung pergi dari sebuah rumah, disertai teriakan histeris seorang perempuan tua yang menangis bergelung di tanah. Ia tak mengerti kenapa putrinya sampai nekad menghabisi nyawanya sendiri.

Para tetangga berkumpul di depan rumah, berbisik-bisik, berusaha menebak apa yang terjadi.

“Kenapa itu, bu?”, tanya seorang ibu muda kepada seorang nenek, tetangga sebelah rumah keluarga Nita.

“Katanya bunuh diri, Jeng. Minum racun serangga”, jawabnya prihatin. “Kasihan, padahal masih muda begitu. Masih SMA”

“Aduh, kasihan”, jawab si ibu muda ikut prihatin. “Eh, tapi hati-hati lho, bu”, ujarnya tiba-tiba.

“Hati-hati kenapa”, sang nenek mengerutkan kening.

“Saya dengar anak ibu yang baru melahirkan katanya tinggal di sini sekarang? Anak bayi bisa melihat makhluk halus lho, Bu. Kalau orang meninggal karena bunuh diri katanya ruhnya tidak tenang dan menjadi hantu. Hiiyy…”, si ibu muda bergidik.

“Hush!”, hardik sang nenek. “Jangan ngomongin orang yang sedang kesusahan, ah. Nggak baik”

Si ibu muda menepuk mulutnya. “Maaf, Bu”, ujarnya menyesal. “Tapi kasihan betul, yah. Masih muda kok sudah berpikiran pendek seperti itu”, ia berkata sambil menatap langit pagi yang mulai beranjak terang.

9 thoughts on “Aborsi

  1. maka dari itu ,, sebagai perempuan kita harus pintar dalam segala hal, apalagi memilih pasangan yang belum tentu nantinya jadi muhrim kita,, untuk wanita.. perkuatkanlah keimanan dan ketakwaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s