Artikel · Diary · Renungan

BELAJAR DARI BALI MENANGKAL CORONA

Matahari belum tinggi saat saya melintasi jalanan di Kuta hari itu. Jalan yang biasanya ramai kendaraan dan orang berlalu-lalang, kini lengang bagai tak berpenghuni. Toko-toko yang menjual barang kerajinan dan seni nyaris tutup semua. Hanya beberapa yang masih nekat buka demi mengais rizqi. Hati saya berdesir, bertanya apa betul masih boleh lewat sini? Tapi nyatanya, memang tak ada lockdown di Bali. Pemerintah daerah pun tak pernah mengajukan permintaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ke pemerintah pusat. Lalu, apa resepnya sehingga semua warganya patuh untuk #dirumahaja , #kerjadarirumah , dan #belajardarirumah?

Seperti yang Gubernur Bali, I Wayan Koster pernah nyatakan di sebuah media televisi, pemerintah Bali tidak pernah memaksa warganya untuk melakukan lockdown, hanya ada pembatasan-pembatasan. Misalnya, toko-toko masih boleh buka, hanya jam operasionalnya saja yang dibatasi, dari jam sembilan pagi hingga sembilan malam. Ini tak seberapa dibanding memaksa mereka tutup yang berujung pada hilangnya mata pencaharian banyak orang.

Protokol kesehatan pun diberlakukan terutama di tempat-tempat umum. Keberadaan tempat cuci tangan lazim terlihat di depan pasar, supermarket, minimarket, bank, dan tempat umum lainnya. Tak harus berupa washtafel mewah, banyak yang memakai galon air yang diberi keran serta ember sebagai penampung air bekas cuci tangan. Solusi yang menurut saya efektif daripada hanya menyuruh orang untuk rajin cuci tangan tapi tak memberi kemudahan aksesnya.

Semua orang wajib memakai masker saat keluar rumah. Tidak ada sangsi berat jika tidak melakukannya, hanya saja anda tak akan diperbolehkan masuk ke tempat-tempat umum dan tidak akan dilayani di tempat pelayanan publik. Bahkan, anda tidak diijinkan masuk ke kawasan perumahan karena di setiap pintu masuk perumahan, ada pecalang (petugas dari desa adat) yang akan melarang anda masuk jika tak mengenakan masker. Jadi pilihan kita, mau memakai masker atau tidak memakai tapi tidak diterima dimana-mana?

Kesadaran warga Bali sangat tinggi dalam menaati anjuran pemerintah. Itu semua karena kami tahu, semakin lama pandemi ini berlangsung, semakin tidak menentu kehidupan di sini. Pariwisata adalah tulang punggung perekonomian pulau dewata. Citra, rasa aman, rasa kepastian, adalah hal yang mungkin abstrak tapi sangat berpengaruh. Jika kami ngeyel, tak menuruti mitigasi bencana yang benar, sehingga menyebabkan pandemi ini semakin lama dan meluas, citra Bali akan tercoreng. Ujung-ujungnya, tidak akan ada turis yang mau berkunjung lagi. Kami juga yang akan merugi. Itu yang menjadikan warga Bali disiplin menaati peraturan yang telah ditetapkan.

Andai saja sikap ini diterapkan oleh semua orang, saya yakin pandemi ini akan segera berakhir.

 

Catatan: saat tulisan ini dibuat, peringkat Bali sebagai daerah yang terkena Corona terus merosot. Tingkat kesembuhan tertinggi di Indonesia hingga mencapai 66% dibanding rata-rata nasional yang hanya mencapai 21%. Tingkat kematian hanya 1,2% dibanding persentase rata-rata di Indonesia yang mencapai 6%. Bali menargetkan untuk menjadi provinsi pertama di Indonesia yang bebas dari virus Corona.

2 tanggapan untuk “BELAJAR DARI BALI MENANGKAL CORONA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s