Diary · Postingan GaJe

“There’s Always ‘First’ in Everything”

Pengalaman pertama selalu berkesan. Entah itu sesuatu yang lucu untuk dikenang atau mungkin terlalu memalukan untuk diceritakan. Tapi, saat pertama kali kita melakukan sesuatu, selalu membekas di ingatan.

Demikian juga saya. Setidaknya, saat pertama kali saya bisa naik motor dan berenang adalah pengalaman yang takkan saya lupakan seumur hidup.

Bapak saya orangnya strict. Anak-anaknya tidak ada yang boleh mengendarai motor sebelum umur 16 tahun. Tanpa kecuali. Saya dan kakak pun bukan orang yang bandel, yang diam-diam minta diajari teman untuk naik motor di belakang Bapak. Kami juga tidak terganggu dengan kenyataan kalau semua teman kami sudah bisa naik motor. Yeah, walaupun menurut peraturan anak di bawah 16 tahun belum boleh memperoleh SIM, tapi tetap saja aturan ini dilanggar.

Anyway, tepat umur 16 tahun, Bapak baru mengajari saya naik motor. Awalnya di jalanan kompleks perumahan. Kecepatannya pun sangat lambat, maksimal 20km/jam. Oh ya, Bapak saya se-strict itu. Saat sudah lancar, saya diajak praktek di jalan, dengan bapak dibonceng di belakang. Saat itu, motor boleh dipacu lebih cepat, tapi tidak boleh lebih dari 40 km/jam. Tidak dapat ditawar lagi.

Semua berjalan lancar, hingga ada sebuah angkot yang tiba-tiba saja menyalip dan berhenti di depan. Bapak dari belakang langsung mengingatkan, “Rem! Rem!”.

Saya yang panik, langsung blank, tak mampu mengingat ‘rem’ itu apa. Tipikal saya kalau sedang panik. Akibatnya, saya hanya bisa teriak sambil… merem! Iya, saya merem! Motor mau nabrak angkot, saya malah memejamkan mata. Hahahaha…

Bapak yang membonceng di belakang dengan sigap langsung memberikan perintah, “Angkat kakimu!”. Setelah saya mengangkat kaki, dari belakang Bapak mengambil alih rem kaki. Selamatlah kami. Untung gak ngebut. Fiuhh…

Pengalaman pertama kedua yang sangat berkesan adalah saat pertama kali bisa berenang. Saat itu memang bukan pertama kalinya saya ke kolam renang. Tapi, biasanya palingan saya cuma main air, mencoba berenang walau hanya dua tiga kali kayuh karena saya tidak tahu cara mengambil nafas, dan bercanda dengan teman. Renang, memang menjadi salah satu praktik wajib untuk olah raga di SMA saya.

Lalu tibalah hari itu, dimana tes renang diadakan. Pak S, guru olah raga saya terkenal killer. Kami diharuskan berenang dari tempat paling dalam menuju tempat paling cetek. “Yang kakinya bisa menginjak dasar kolam renang saat berhenti, dapat nilai 8”, katanya.

Bagi saya, bukan nilai 8 yang saya incar. Tapi, bagaimana caranya bisa tetap hidup saat tes selesai. Masalahnya, teman-teman yang tes sebelum saya dan tidak berhasil sampai ke ujung karena tidak bisa berenang, mereka kelelep di tengah jalan. Dan, Pak S bukannya menolong, dia hanya melempar ban atau paling banter menyuruh teman lainnya menolong. *elus dada* Saya jadi trauma sebelum mulai berenang.

Akhirnya giliran saya pun tiba. Pak S meyuruh saya untuk berenang dengan gaya bebas. Sambil menahan debaran jantung yang semakin kencang, saya sibuk mengingat-ingat bagaimana caranya mengambil napas. Oke, jadi saat mengambil napas, palingkan kepala, ambil napas, tutup mulut, lalu masukkan kepala ke dalam air. Setelah merasa yakin, byur! Saya pun masuk ke dalam air.

Di dalam air, saya berusaha mengulang tahapan mengambil napas. “Palingkan kepala… Ambil napas… Tutup mulut… Oh celaka! Saya terlambat menutup mulut!”. Saya menutup mulut saat kepala sudah saya palingkan kembali di dalam air. Akibatnya, air masuk ke dalam mulut saya. Jadi saat saya menghembuskan napas, saya sekaligus membuang air yang ada dalam mulut. Hahaha…

Selama waktu itu, saya terus mengingatkan diri untuk terus mengayuh dan mengayuh.”Jangan berhenti kalau gak mau mati!”, ulang saya dalam hati. Dan, saya pun berhasil mencapai tempat cetek dengan selamat. Nilai 8 pun di tangan. Hehehehe…

Anehnya, kedua ‘pengalaman pertama’ ini tidak membuat saya trauma. Setelah melampauinya, saya malah jadi makin jago. Mungkin karena saya pikir, saya sudah melampaui hal yang sulit. Insya Allah, rintangan di depannya gak akan sesulit itu. Itu yang saya percaya.

6 thoughts on ““There’s Always ‘First’ in Everything”

      1. xixiixi….
        Yupz… pokoknya kalau yg serba pertama itu serba mengesankan…
        kalau udah terkesan, kayaknya gak bakalan dilupakan …
        :)

  1. Saya paling takut dengan berenang. Tapi untung tubuh (lumayan) tinggi jadi tidak terlalu bermasalah kalau ke daerah yang agak dalam. Sayang saya panik. Yah yang namanya panik memang tidak bisa dihilangkan dalam sekejap sih ya :haha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s