Diary

Sad Days

Belakangan ini saya sedang sedih. Dalam waktu kurang dari sebulan, saya kehilangan 4 kucing kesayangan. Diawali dari Lili, kucing yang dipungut ibu dari depan minimarket. Lalu, seminggu kemudian Bubu menyusul. Kurang dari seminggu, Didi yang mati. Dan, terakhir Cici. Peristiwa ini mengingatkan saya akan kejadian yang sama yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Saat itu, veterinari bilang ini adalah virus, dan belum ada obatnya. Kesembuhan kucing hanya bergantung pada daya tahan tubuhnya sendiri.

Family portrait, minus Obi
Family portrait, minus Obi

Saya harap-harap cemas memandang Naruto, satu-satunya kucing kecil yang tersisa. Sebab setelah saya googling, penyakit ini memang sangat mematikan bagi kitten. 60% dari kitten yang terjangkit, akan mati. Masa inkubasinya hingga 3 minggu. Jadi setelah kematian Cici, setiap hari saya memantau apakah Naruto masih doyan makan atau tidak. Saya berdoa, semoga hingga 3 minggu ke depan, Naruto tidak menunjukkan tanda-tanda tertular.

Sayangnya, saya salah. Tiga hari yang lalu, tepat seminggu setelah Cici mati, ia mulai tidak doyan makan. Mulai senang tidur di tempat yang lembab dan dingin, serta terlihat lesu. Suhu badannya juga lebih tinggi dari biasanya. Saya panik. Terpikir untuk memberinya obat penurun panas, tetapi saya tidak yakin.

Googling sebentar dan… untung saya mencari tahu terlebih dahulu. Ternyata pemberian paracetamol sungguh tidak dianjurkan karena bisa menyebabkan keracunan. Yah, bagi manusia saja, dalam penggunaan jangka panjang paracetamol dapat menyebabkan kerusakan hati. Apalagi bagi kucing, kan. Tapi, ada banyak fakta menarik yang saya temukan lewat artikel-artikel itu. Mulai dari penggunaan air kelapa sebagai penurun panas, hingga kuning telor mentah sebagai pengganti makanan. Namun intinya, kucing tidak boleh dibiarkan tidak makan sama sekali. Harus ada asupan nutrisi yang masuk agar ia punya energi untuk melawan penyakitnya.

Untungnya saya masih punya Nutriplus gel, konsentrat vitamin untuk kucing dan anjing. Saya berikan itu dulu sedikit, sebelum saya memikirkan harus bagaimana lagi langkah selanjutnya. Hari pertama sangat krusial. Kematian kucing saya yang sebelumnya karena saya terlambat bertindak. Saya menunggu hingga hari kedua baru berusaha memberi mereka makan. Padahal, satu hari saja tidak ada asupan nutrisi, kondisi mereka akan menjadi drop dan itu sangat fatal. Sayangnya, hal ini baru saya ketahui setelah membaca artikel-artikel itu.

Hari itu juga saya langsung membeli air kelapa. Saya masukkan pelan-pelan melalui mulutnya dengan sedotan. Saya sendiri sebenarnya tidak yakin dengan cara ini. Tapi, Naruto sama sekali tidak mau makan dan minum. Kulitnya bahkan sudah agak lama kembali jika ditarik, yang mana itu adalah tanda dehidrasi.

Setelah saya beri air kelapa, beberapa saat kemudian saya beri kuning telor mentah. Hanya kuning telurnya saja, karena putih telur kabarnya bisa menyebabkan anemia bagi kucing. Dia mau menelannya, bahkan menyukainya. Saat saya sodorkan di depannya, Naruto bahkan menjilatinya sendiri hingga habis setengahnya. Padahal saat saya sodori ikan biasa, ia tidak mau. That’s a good news. Masih bisa makan, berarti masih ada harapan, begitu kata veterinari langganan saya.

Hari itu, saya terus memantau suhu tubuhnya yang selalu naik-turun. Saya berdoa, semoga ia bisa menang melawan penyakit ini.

Hari kedua, Naruto masih lesu. Tapi matanya sudah jarang berair lagi. Saya beri lagi Nutriplus gel. Air kelapa saya hentikan karena tidak terlalu yakin dan karena Naruto sudah mau minum sendiri. Dia juga sudah mulai bisa buang air. Belum bisa makan sendiri, jadi kembali saya suapi kuning telur mentah.

Satu hal yang perlu dicatat, saya membaca di artikel tersebut kalau kucing yang sedang demam akan cenderung mencari tempat yang lembab dan dingin. Jangan menuruti maunya si kucing. Segera pindahkan dia ke tempat yang lebih hangat dan kering. Jangan biarkan tidur di atas lantai yang tidak beralas. Teori ini masuk akal menurut saya. Lha wong kalau manusia sedang flu aja, tidak boleh kedinginan dan basah kan. Karena bisa memperparah flunya. Apalagi kucing. Dan, itu yang saya lakukan pada Naruto. Sebenarnya, kucing yang sakit seharusnya dipisah ruang dengan kucing yang lain untuk menghindari penularan. Tapi, karena keterbatasan ruang di rumah, saya mau tak mau harus mengambil resiko itu.

Hari ini adalah hari ketiga. Roben tertular, seperti yang sudah saya duga. Roben sudah seperti ibu bagi Naruto. Ia tak pernah lepas dari samping Naruto sejak si kecil ini sakit, lebih khawatir daripada Ipin, ibunya sendiri. Sejak malamnya, keluar banyak liur dari mulut Roben. Ia juga terlihat kesakitan di area mulut. Saat googling, ada kemungkinan ia sariawan, salah satu efek samping dari penyakit ini. Jadi hari ini saya merawat dua kucing. Saat pemberian makan pagi, Roben sudah tidak mau makan. Ia terlihat lapar, tapi tidak bisa makan karena kesulitan untuk mengunyah. Segera saya beri madu, karena menurut pengalaman saya pribadi, saya mengolesi madu untuk menyembuhkan sariawan. Beberapa jam kemudian, saya beri Roben Nutriplus gel. Mungkin karena bentuknya yang gel yang tidak perlu dikunyah, ia tidak banyak mengeluarkan liur lagi setelah saya menyuapi vitamin itu. The thing with Roben is, Roben itu galak. Paling galak di antara kucing saya yang lain. Tapi, dia juga yang paling pengertian. Jadi, saya harus semacam berdebat memberi alasan sebelum berbuat sesuatu padanya. Percaya atau tidak, that works for her. Kalau tidak diberi penjelasan, saya pasti akan dicakar kalau berusaha memasukkan sesuatu secara paksa ke mulutnya.

Alhamdulillah, kondisi Naruto jauh lebih baik hari ini. Dia sudah bisa turun dari tempat tidurnya, naik turun tangga, ‘mandi kucing’ sendiri, dan panas tubuhnya sudah turun. Walau masih belum mau makan sendiri tapi sudah mau mengunyah saat saya memberinya Whiskas yang sudah direndam dalam air hangat hingga menjadi bubur. Nutriplus gel masih diberikan walau dosisnya sudah dikurangi. Dan Roben… dia sudah mulai bisa makan saat sore. Masih lemas, tapi Insya Allah bertahan.

Naruto, teruslah berjuang seperti namamu. Don't give up!
Naruto, teruslah berjuang seperti namamu. Don’t give up!

Jalan masih panjang, saya kira. Naruto masih belum mau makan sendiri, dan ada dua kucing lain yang harus saya pantau. Semoga mereka tidak tertular juga. Tapi kalau ini berhasil, kalau mereka semua selamat (amin), saya jadi belajar banyak. Pertama, tawakal itu berdoa DAN berusaha. Setelah berdoa agar kucing kita selamat, kita juga harus berusaha agar mereka bisa selamat. Walau belum ada obatnya dan bergantung sepenuhnya pada daya tahan tubuh si kucing itu sendiri, kita bisa berusaha agar stamina si kucing tidak sampai drop. Kedua, asupan nutrisi itu HARUS. Kucing harus makan walau harus kita paksa, cekoki dan suapi. Asal makanan tidak dimuntahkan kembali, masih ada harapan. Ketiga, beri tempat tidur yang nyaman agar si kucing yang sakit bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman. Pantau suhu tubuh dan lingkungannya. Pastikan ia tidak kedinginan. Keempat, jangan panik. Berusahalah semaksimal mungkin. Tapi, kalau takdir berkehendak lain, setidaknya kita sudah berusaha semampu kita.

Masih ada hari-hari ke depannya. Kondisi cuaca yang tidak menentu dan masa inkubasi yang belum terlampaui. Doakan semua kucing saya yang tersisa selamat, ya. I can’t take the sadness of losing my lovely cats anymore… :'(

19 thoughts on “Sad Days

    1. Virus memang seram. Cepat penyebarannya dan susah penyembuhannya. Sampai sekarang, bahkan belum ada obat flu utk kucing. Semua tergantung daya tahan tubuh si kucing itu sendiri.
      Btw, Naruto semakin membaik sekarang. Makasih supportnya. :)

      1. Oh, itu namanya flu kucing ya Mbak…
        Bahaya juga penyakit itu :(
        Salam buat Naruto dari Gaara Mbak :hehe. Sama-sama!

      2. Gitu sih katanya Mbah Google kalo dilihat dari gejalanya. Oh iya! Kamu kan sahabatnya Naruto, ya! :D *baru nyadar*
        Btw, sudah bisa makan sendiri hari ini dia. Duh, rasanya saya jadi lega banget.

    1. Makasih, Win. Iya, harusnya sih divaksin biar gak terlalu down kalau sakit. Tapi, vaksin itu mahal. Gak mampu aku. Moga2 cuaca jg semakin membaik, krn pancaroba gini rentan banget buat kucing. Lha manusianya aja jd mudah sakit, apalagi kucing kan.

  1. Kucingku dulu juga begitu. Pernah nggak mau makan seminggu terus aku masukin ke RS Hewan. Sempat diopname seminggu dan ternyata nasib berkata lain :(

    Memang betul sih kalau virus jenis ini (FIP ya?) belum ada obatnya. Yang bisa kita lakukan cuma menjaga daya tahan tubuh si kucing supaya penyakitnya nggak bertambah parah. Dulu itu malah kucingku yang sakit itu aku isolasi di ruang tertentu supaya nggak nular ke kucing lain.

    1. Lupa namanya yg saya baca dari internet, tapi virus yg menyerang kucing memang belum ada obatnya sampai sekarang. Tapi kata veterinari saya, selama masih bisa makan, masih ada harapan. Saya jg telat menyadari kalau ‘masih bisa’ tidak sama dgn ‘masih mau’. Jadi, selama si kucing masih bisa menelan, mencerna dan tidak memuntahkan kembali makanannya, berarti ia masih bisa makan, walaupun ia tidak mau makan. Tidak ada pilihan selain dipaksa untuk makan. Saya sudah kehilangan beberapa kitten gara-gara tidak berani memaksa mereka makan. Never again dah. Lebih baik dipaksa, daripada kemudian mati :(
      Turut berduka cita untuk kucingnya, ya. Pasti sedih banget kehilangan binatang kesayangan. :(

      1. Masalahnya memaksa kucing untuk makan itu susah lho. Pernah saya suapi satu sendok, habis itu selang beberapa menit dimuntahkan lagi. Apa nggak emosi? Tapi ya sedih. Jadinya klo kondisinya sudah kayak gitu diopname saja deh. Walau ya pada akhirnya nyawanya mungkin ga tertolong lg krn ga mau makan :(

      2. Kalau dimuntahkan lg, berarti udah gak bisa makan, bukan gak mau lg. Sama seperti yg sebelum2nya yg mati, Kalau disuapi, gak beberapa lama dimuntahkan lg :(
        Iya, nyuapinnya susah memang. Kalau kecil, masih bisa dipegangi sendiri. Kalau yg besar, biasanya saya minta tolong ortu buat megangin.

    1. Naruto udah jauh lbh baik, mbak. Udah mau makan sendiri. Udah bisa kesana-kemari, gak tiduran terus. Mudah2an terus membaik ya, mbak.
      Si Roben kemarin parah. Kita hubungi veterinari langganan, sayangnya dia sdg di Jakarta. Tp dia kasih resep dan tadi pagi udah mulai kita kasih obatnya. Sekarang udah mendingan kondisinya walau belum mau makan sendiri. Saya masih harus suapi walau harus lari2 ngejar dia yg gak mau dicekoki vitamin. Moga2 besok makin membaik terus. Doain ya, mbak. Sedih lihat mereka sakit krn kita adopsi sejak kecil banget :(

  2. Waahh.. Kucing aku juga dulu pernah sakit seperti itu.. Kurang lebih seminggu.. Gak bisa makan, gak bisa minum, dan gak bisa bangun dari tempat tidurnya.. Tapi saat itu aku yakin dia bisa sembuh, akhirnya aku rawat sendiri, suapin makan terus diminumin setiap dia manggil2. Kondisinya waktu itu juga udah kurus dan bulunya rontok parah setelah berapa lama aku rawat, akhirnya dia bisa jalan2 dan mau makan sendiri. Subhanallah.. Rasanya seneng banget.. Tapi setelah itu kulitnya jadi kena jamur, bulunya yang tinggal dikit hilang dibeberapa bagian. Untungnya gak berlangsung lama sembuh, bertambah gemuk dan bulunya lebat. Alhamdullilah zoe masih menemani aku sampai sekarang dan nanti.. Amiinn. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s