Cerita · Diary · Menulis

Pengakuan

Kupacu vespa bututku. Seikat mawar di genggaman tangan kiriku kupegang erat, agar tak rusak oleh hembusan angin. Jantungku berdegup kencang. Hari ini adalah saatnya.

Aku masih ingat hari itu, minggu yang lalu, saat kau datang padaku dengan mata bersinar dan dengan mantap berkata, “I’m done! Aku udah selesai dengan dia dan semua masa laluku dengannya”

Ku pandang kau dengan ragu. “Kau yakin?”. Lima tahun kau bersamanya. Lima tahun yang penuh dengan drama dan selalu aku yang kau jadikan tempat sampah, tempat kau berkeluh kesah.

“Ya, aku yakin seyakin-yakinnya”, kau menatap mataku lurus. “Aku tidak akan membiarkannya membuatku membuang masa mudaku lebih panjang lagi. Sudah cukup aku mendengar semua kebohongannya. Sudah cukup aku menerima pengkhianatannya”, matamu berkilat emosi.

“Mulai sekarang, aku akan menjadi aku yang baru”, tambahmu lagi. “Aku akan mencari seorang yang menerimaku apa adanya. Hmm… kau tahu, tipe seperti apa yang ingin ku cari?”, matamu kini berbinar menatapku.

Hatiku mencelos. Ugh, mata itu. Sudah berapa lama binar itu sirna, pikirku. Binar yang sudah membiusku sejak bertahun-tahun silam. Binar yang membuatku terus bertahan hingga saat ini.

Aku hanya bisa menggeleng.

“Aku akan mencari seorang kekasih yang juga bisa menjadi seorang sahabat”, matamu menerawang jauh. “Karena seorang sahabat tak kan berbohong. Aku pasti merasa aman dan nyaman dengannya, karena ia bisa ku percaya”.

Degupku berhenti. Apa yang ia bicarakan? Apakah ini pertanda bagiku?

Dan begitulah, ku anggap ini pertanda untukku. Hari ini adalah saatnya. Aku akan menyatakan perasaan yang ku pendam lama.

Tanpa sadar aku kini berdiri di depan pintu rumahmu. Dengan seikat mawar di gengggaman. Lututku gemetar. Namun, ku beranikan diri untuk mengetuk.

“Ardi?”. Kau berdiri di depan pintu yang terbuka. Gaunmu merah jambu, melayang ringan mengikuti gerakmu. Kau cantik sekali, seperti biasanya. Sempurna, ini terlalu sempurna. Aku hendak membuka mulut sebelum kau memotongku,

“Ar… senang sekali kau mampir. Tapi aku buru-buru, nih”

Bunyi klakson mobil terdengar.

“Oh, Harris sudah datang”, kau tersenyum gembira tanpa menghiraukan rautku yang berubah kaku. Nama itu. Nama yang telah terpatri di ingatanmu lima tahun ini.

“Aku balikan lagi dengannya”, ujarmu enteng. “Eh, aku ceritain lagi deh nanti. Aku pergi dulu”. Kau melambaikan tangan padanya dan berlalu dari hadapanku.

Nanti… apakah aku masih punya ‘nanti’?. Aku tertunduk lesu, selayu seikat mawarku kini yang berguguran di teras rumahmu.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

5 thoughts on “Pengakuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s