Diary · Traveling

Melaka

Saya, Nila, dan Linda kembali janjian bertemu di stasiun Bugis keesokan harinya. Saatnya meninggalkan Singapura.

Untuk pergi ke Melaka dari Singapura, kami menaiki bus dari Queen Street. Harga tiket bus-nya saat itu S$2,5, yang dijual di ‘loket’ sederhana yang dijaga oleh seorang kakek tua berwajah masam.

IMG-20140517-WA0001

Bus berangkat tak lama kemudian, setelah terisi nyaris penuh.

Ada beberapa pilihan untuk pergi ke Melaka dari Singapura melalui jalur darat. Semua tergantung berapa yang bersedia anda bayar. Semakin mahal, tentu semakin cepat dan nyaman.

Yang pertama, dengan bus kota hingga Larkin. Paling murah, bisa pakai EZ-Link. Tapi juga paling lama karena berhenti di setiap halte.

Yang kedua, bus biasa. Tiket harus dibayar tunai sebesar S$2,5. Bus hanya berhenti di Larkin untuk pemeriksaan paspor di imigrasi Singapura, lalu di imigrasi Malaysia, dan berakhir di Johor Baru. Lebih cepat dari yang saya sebut sebelumnya, tapi di setiap pemberhentian, bus tidak akan menunggu penumpang (jangan meninggalkan barang bawaan di dalam bus). Bus hanya menunggu selama 10 menit, sebelum berangkat. Jika pemeriksaan imigrasi selesai lebih cepat dari itu, tentu saja anda punya kesempatan untuk menaiki bus yang sama. Namun jangan khawatir, jika anda tertinggal, akan ada bus dari perusahaan yang sama yang akan datang berikutnya. Yang terpenting adalah, anda naik bus dari perusahaan yang sama, sesuai dengan yang tertera di tiket. Setelah sampai di terminal di Johor Baru, cari bus yang menuju ke Melaka. Akan ada banyak perusahaan bus yang menawarkan tiketnya kepada anda (baca: calo). Terus saja berjalan dan teliti setiap loket, pilihlah yang keberangkatannya paling dekat dengan saat anda datang, agar tak perlu menunggu terlalu lama.

Cara yang ketiga, yang termahal adalah dengan naik Coach Bus. Tiketnya seharga S$21 (mind the currency difference), dan kita tidak perlu berganti bus hingga Melaka. Bahkan, saat kita di imigrasi pun, bus ini akan menunggu hingga semua penumpangnya selesai, baru melanjutkan perjalanan.

Saat itu, kami menggunakan cara kedua dan tiba di Johor Baru pukul satu lebih. Kami beruntung masih bisa mendapatkan tiket untuk keberangkatan jam 13.30. Saat hari bekerja, tiket tak terlalu sulit didapat. Namun, kata Linda yang pernah ke sana saat weekend, tiket keberangkatan selanjutnya sangat sulit didapat saat musim liburan. Dulu, ia harus menunggu 2 jam di Johor Baru untuk mendapatkan seat yang masih kosong.

Saat masuk ke dalam bus, saya pun terpana. Kursi penumpang berformat 1-2 di setiap baris, tidak seperti di Indonesia yang 2-2. Mungkin ini yang menyebabkan setiap kursi terasa lapang dan lega. Jumlah seat di dalam bus 30. Jarak antar kursi lebar. Kursinya pun empuk dan bersih. Saya membatin, kalau saja bus malam di negeri kita senyaman ini, pasti para penumpangnya tidak akan sakit encok dan merasa pegal-pegal saat turun dari bus.

Jarak dari Johor Baru hingga terminal di Melaka sekitar 2 jam perjalanan jika lancar. Kami pun tiba di Melaka, sekitar pukul 4 sore di terminal Melaka. Dari sana, bus no 17 mengantarkan kami hingga depan Bangunan Merah.

SIN_383Bangunan Merah

SIN_377Gereja tua peninggalan Portugal jaman dahulu

Malamnya, kami mencoba Melaka River Cruise, wisata air menyusuri sungai Melaka sepanjang 6 km. Harga tiketnya sebesar RM 15. Melihat pemandangan sungai Melaka di malam hari, sungguh sangat romantis. Coba saja saat itu saya bersama seorang belahan jiwa, pasti sangat menyenangkan *lirik kedua sahabat di samping*. Haha… just kidding. Bersama teman juga menyenangkan, sih. Walau memang kayaknya lebih menyenangkan dengan opsi pertama. #teteup :P
(Maap gak ada foto saat berlayar malam hari, ya. Karena kurangnya cahaya, plus kapal yang bergoyang, semua hasil foto, blur) >.<

Bagi saya, agak bingung mencari makanan halal di Melaka. Mungkin karena saat itu sudah malam (mata udah siwer), atau memang ada tapi saya ragu. Akhirnya kami makan di sebuah kedai pastry yang memiliki tempat makan kecil yang tepat menghadap ke sungai. Enak banget croissant tuna-nya.

SIN_305Suasana kedai pastry Harper’s

SIN_308Mbak-nya sedang menyiapkan Croissant tuna dan seafood yang kami pesan. Slurrp!

SIN_311Yummy! :D

Ternyata, Melaka tak terlalu ramai saat malam, terutama dibandingkan saat siang dan sore harinya yang sangat sangat padat. Jam sepuluh malam, saat kami kembali ke penginapan, semua kedai sudah tutup dan jalanan sudah sepi. Agak takut juga sih, karena kami menginap cukup jauh dari pusat keramaian.

Paginya, saya dan Nila memutuskan untuk berjalan pagi. Linda bilang, ia akan menyusul kemudian. Saya tergoda untuk memotret kuil-kuil yang ada di daerah ini. Banyaknya keturunan Tionghoa di daerah ini menyebabkan banyaknya kuil yang berdiri di sini. Hampir di setiap tiga rumah yang berdiri, sebuah kuil pun berdiri. Beberapa dibuka untuk umum, beberapa tidak. Kata Linda, kemungkinan yang tidak dibuka untuk umum itu adalah kuil keluarga.

SIN_325Sebuah kuil yang dibuka untuk umum

SIN_326Ornamen di atas atap kuil

Setelah puas menyusuri Jonker street dan bernarsis ria, saya dan Nila memutuskan untuk sarapan di pinggir sungai Melaka. Sarapan. Sahabat. Ngobrol. Pemandangan indah. Perfect. :D I was really enjoying the moment.

SIN_446Melaka River Cruise saat pagi hari

SIN_447Sarapan sambil mandangin pemandangan ini, nih

SIN_461Melaka River

SIN_471Melaka River

SIN_362Melaka River

Linda bergabung saat kami sarapan. Setelah itu, kami bertiga mengunjungi sebuah kapal layar yang kini menjadi sebuah museum bernama Muzium Samudera. Harga tiket masuknya RM 6 untuk wisatawan manca negara dan lebih murah untuk lokal. Kalau anda sedikit pede, gunakan dialek Melayu dan sebutkan saja salah satu daerah di Malaysia saat ditanya asal. Sepertinya bisa lolos. *lirik Nila*

SIN_474Muzium Samudera

Puas berkeliling Melaka, membuat kami sedikit lupa waktu. Kami check out setengah jam lebih lambat dari seharusnya. Memang, berkeliling Melaka ternyata tak cukup hanya satu hari. Ada banyak tempat yang tak sempat kami kunjungi karena keterbatasan waktu. Semoga, lain kali saya bisa ke sana lagi dengan waktu yang lebih lama. :)

4 thoughts on “Melaka

    1. Iya, tenang banget. Saya betah di sana :D
      Sebenarnya kita bisa, kok. Kabarnya, dulu sungai Melaka sama dengan sungai2 di Jakarta, kotor dan bau. Sekarang bersih, bahkan bisa dijadikan objek wisata baru. :)

      1. nah, itulah kurangnya kita ya. ga ada ‘will’ bersama sama untuk mengubah keadaan. malah banyakan debat sendiri. itu daerah paling keren menurut saya malah di daerah kampung jawa. Semoga nnti ada Jakarta cruise river di Kalimalang atau kali ciliwung ya..hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s