Diary · Foto · Traveling

Trip to Singapore (Part 1)

Be careful of what you wish for

Karena bisa jadi, harapan yang kau simpan dalam hati itu

menguntai menjadi doa hingga ke langit

didengarkan, lalu dikabulkan olehNya.

 

Akhir tahun kemarin, ada satu resolusi yang ingin saya wujudkan di tahun ini. Lebih banyak jalan-jalan a.k.a traveling. Didukung oleh banyaknya tanggal merah dan long weekend seperti yang pernah saya tulis di sini, saya ingin sekali melihat banyak tempat, bertemu dengan orang baru, dan belajar tentang hal baru. Pada saat itu sebenarnya sempat terbetik keinginan untuk traveling ke luar negeri untuk pertama kalinya. Tapi, saya belum berani. Pertama, karena saya belum punya paspor. Kedua, entah… rasanya hal itu masih terlalu jauh untuk diwujudkan. Jadilah, saat itu saya hanya merencanakan untuk membuat paspor di tahun ini dan baru menjelajah negeri orang tahun depan.

Tapi, kehendak Allah berkata lain. Tiba-tiba saja, dua bulan yang lalu, ortu dengan tergopoh memberi kabar, “Dek, kamu harus buat paspor besok. Dua bulan lagi kita berangkat ke Singapura. Ada undangan pernikahan di sana”. Dan, saya pun hanya bisa bengong mendengarnya.

Paspor pun dibuat, dan jadi hanya dalam waktu dua minggu. Tiket juga tak sulit didapat, bahkan dapat harga miring pula.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah, saat saya mengatakan berita ini ke kedua sahabat saya, reaksi mereka, “Ikuuutt!!”. Bagi mereka ini adalah kesempatan emas. Mumpung sahabatnya yang satu ini mau diajak pergi ke luar setelah selama ini selalu menolak dengan alasan gak punya paspor :p.

Jadilah, selama long weekend akhir Mei kemarin, saya menghabiskan liburan di Singapura, Melaka, dan Kuala Lumpur. Dua destinasi terakhir adalah destinasi tambahan dari kedua sahabat saya. “Singapura kecil dan mahal”, kata mereka. “Ayo sekalian backpacker-an ke Melaka dan KL”. Saya sih iya-iya-in saja. Lumayan, dapat tambahan stempel di paspor. Hehe..

Akhirnya, harapan saya bisa ke luar negeri terkabul juga, bahkan dipercepat. Tapi, kebayang gak sih, kalau alasan traveling ke luar pertama kali saya adalah KONDANGAN. Hahaha…

Cuss… to Singapore

Tanggal 24 sore, pesawat AA membawa saya dan ortu ke Singapura. Perjalanan kali ini, tidak bisa dikatakan full backpacker-an, ya. Secara, saya dan keluarga menginap di tempat saudara. Jadi, masalah akomodasi tidak saya rencanakan selama di sana. Namun, ada beberapa tips yang mungkin bisa bermanfaat di sana.

  • Belilah kartu EZ-Link, terutama jika banyak bepergian dengan kendaraan umum. Kendaraan umum sangat mudah di negara ini. Bus datang 10-15 menit sekali. MRT datang setiap 1-3 menit sekali. Kedua angkutan masal ini bisa menerima EZ-Link sebagai ‘alat pembayaran’. EZ-Link dapat dengan mudah diperoleh di bandara, stasiun MRT, maupun minimarket semacam 7-Eleven. Harganya bervariasi. Namun, berapapun harganya, patut diingat kalau biaya kartu adalah S$5. Jadi, jika harganya S$12, maka isinya adalah S$7. Jika S$15, maka isinya adalah S$10. Kartu ini bisa diisi ulang (Top Up, istilahnya) di stasiun MRT atau minimarket (dengan tambahan service charge 50 sen). Kenapa kartu ini penting? Karena, tidak ada uang kembalian saat kita naik bus. Untuk menghindari susahnya mencari uang receh saat naik kendaraan tersebut, kartu ini sangat praktis. Asal diingat saja, untuk selalu men-tap kembali saat akan turun. Jika kita sampai lupa, maka tarif yang dikenakan adalah tarif terjauh.
  • Electronic Outlet Socket di Singapura berbeda dengan di Indonesia. Kalau gak ngerti apa itu Electronic Outlet Socket, pasti ngerti kalau saya bilang colokan listrik, kan? :p Colokannya menggunakan standar Eropa yang bermata tiga. Jangan bingung tidak bisa men-charge hape saat di sana. Beli saja di supermarket besar, harganya sekitar 3-4 dolar Singapura.
  • Perhatikan aturan yang berlaku di sana. Kagum dengan Singapura yang serba rapi, teratur, dan bersih? Kalau kata orang, ‘No Pain, No Gain’. Itulah yang berlaku di sana. Untuk mewujudkan keteraturan di sana, hukum di sana sangat ketat. Buang sampah sembarangan, didenda. Makan-minum di tempat yang dilarang, didenda. Menyeberang tidak di tempat yang telah ditentukan, didenda. Jadi, perhatikan aturan di sana, kalau tidak mau duit liburan melayang ke tangan pemerintah.
  • Kendaraan umum tidak tersedia 24 jam. Berbeda dengan Jakarta yang kini membuka jalur bus trans-nya 24 jam sehari, kendaraan umum di negeri singa ini hanya ada hingga tengah malam. Jadi, selalu perhatikan jam saat jalan-jalan malam, ya. Jangan sampai gak bisa pulang gara-gara kehabisan bus/MRT. Atau, siap-siaplah merogoh kocek lebih dalam untuk menyewa taksi.

 

Di Singapura, selain menghadiri pernikahan kerabat jauh, tujuan utama kami semua berkumpul di sini adalah dalam rangka reuni keluarga. Mbah buyut saya dari pihak bapak, memang dulu menikah dengan orang Singapura. Anak tertuanya, Mbah Putri saya kemudian menikah dan diboyong ke Jawa. Jadi, ada beberapa keluarga di Singapura ini yang belum pernah saya jumpai hingga saat itu. Bapak pun tidak berjumpa dengan mereka selama puluhan tahun. Jadi, bayangkan saja betapa serunya mereka saat berjumpa kembali. Begitu banyak yang diceritakan. :D

Malam setelah acara resepsi, kami dari Indonesia ditraktir keliling kota dengan menaiki bus carteran. Kami ber-21 orang, mengunjungi beberapa spot terkenal di kota itu.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

PS: Foto-foto di atas betul-betul penuh perjuangan. Dikarenakan kurangnya cahaya, speed kamera menjadi sangat lambat. Saya yang tidak membawa tripod, berjuang agar gambar-gambar yang diambil tidak blur. Banyak yang gagal, pastinya. Untungnya ada beberapa yang berhasil, terutama yang berhasil menemukan ‘pijakan’ stabil sebagai pengganti tripod. Kebayang gak sih, betapa frustasinya saya. Sampai-sampai saya memandang iri seorang pria yang juga sedang memotret dengan tripod. Saya sampai ingin menghampiri dan bilang, ‘Mas, Mas… boleh pinjam tripodnya bentar?’ T_T

10 thoughts on “Trip to Singapore (Part 1)

  1. waaaa…. mauuu hunting di singapoorrr…
    aku sama si kakak lagi nabung buat jalan2… tapi sementara tujuannya masih di sekitar bali dan lombok. haha. ntar mampiir ke rumahmu ah klo jadi main.. :D

      1. Waahh… Makasiii :D
        Balasannya nanti, ya. Nunggu saya mikir dulu. Lebih susah ngomongin tentang diri sendiri daripada yang lain. Haha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s