Diary · Foto · Traveling

Yuk, Jalan ke Yogyakarta! (Part 1)

November tahun lalu, Linda mencetuskan ide untuk pergi berlibur bersama. Tujuannya ke Yogyakarta, sama seperti destinasi liburan dua tahun lalu yang gagal (dan akhirnya saya berangkat sendirian). Nila, di salah satu ujung whatsapp ikut mengamini, karena sedang jenuh dengan pekerjaannya. Saya? Saya sih ngikut aja, karena komitmen saya untuk tahun 2014 ini adalah memang memperbanyak traveling. Dan, ini seperti ‘jawaban’ atas tekad saya :).

Beberapa hari kemudian, selembar tiket promo telah ada di tangan saya, dengan bookingan penginapan lengkap hingga hari terakhir ada di sana (thanks to Linda for the accomodation, tho. hehe).

Sayangnya, kami tidak bisa berangkat bersama-sama. Nila, jelas berangkat dari Jakarta. Sedangkan Linda, harus merayakan Imlek dulu bersama keluarganya. Sementara saya yang sudah menggenggam selembar tiket, tentu tak bisa merubahnya lagi. Jadi diputuskanlah, kalau mereka berdua berangkat sore, sedangkan saya tetap berangkat pagi. Bagi kami, jika ada banyak jalan menuju Roma, maka akan ada banyak jalan juga menuju Jogja ;).

Tanggal 31 Januari pun tiba. Hari keberangkatan. Pesawat AA yang saya tumpangi, berangkat tepat waktu. Dalam waktu 1 jam 15 menit, kami akan tiba di Yogyakarta. Perjalanan udara pagi itu menyenangkan, karena cuaca cerah. Saya, yang punya sedikit phobia ketinggian, menjadi tenang karenanya.

Setiba di bandara Adi Sutjipto, para sopir taksi sudah sibuk merubung penumpang yang baru mendarat. Kata ‘mboten’ yang bermakna ‘tidak’ dalam bahasa Jawa halus, menjadi mantra sakti untuk menolak mereka (dan semua tukang becak serta pedagang, nantinya) yang ngotot menawarkan jasa. Saya memilih untuk naik bus trans Jogja saja. Murah dan menurut pengalaman, lumayan bisa diandalkan. Tak sampai setengah jam, saya pun sampai di Benteng Vrederburg, di ujung jalan Malioboro.

Benteng yang dibangun pada masa penjajahan Belanda yang dulu digunakan untuk mengawasi gerak-gerik kesultanan Yogyakarta, masih lengang pagi itu. Dengan membayar 2000 rupiah saja, saya pun melenggang masuk.

Jogja_003_029K
Gerbang masuk sekaligus loket karcis Benteng Vrederburg

Sebagian besar benteng telah dialih fungsikan sebagai tempat pameran diorama perjuangan bangsa Indonesia di masa lalu dalam merebut kemerdekaan serta perjuangan setelah itu. Sementara halaman tengah yang hijau, banyak digunakan pengunjung untuk bersantai sembari browsing internet. Mumpung ada wifi gratiss :p

Bersantai sejenak di halaman benteng yang asri.
Bersantai sejenak di halaman benteng yang asri.

Puas berkeliling benteng, saya pun melangkahkan kaki menuju alun-alun. Tak banyak yang bisa dilihat di sana. Beringin kembar, khas alun-alun keraton telah dipangkas setengahnya :(. Lapangannya pun terlihat gersang dan sampah bertebaran dimana-mana. Akhirnya, saya memutuskan pergi ke Taman Sari dengan becak.

Beberapa becak yang sedang parkir di salah satu sudut alun-alun.
Beberapa becak yang sedang parkir di salah satu sudut alun-alun.

Dua tahun lalu, saya pergi ke area pemandian para selir raja ini dengan terburu-buru. Saat itu, berkejaran waktu dengan waktu berkumpul bus untuk kembali pulang. Namun kini, saya punya waktu senggang hingga sore, saat teman-teman saya datang. Saya pun menelusuri dengan seksama setiap sudutnya, termasuk beberapa bangunan di sekitarnya seperti tempat bermeditasi Sultan, sebuah padepokan berarsitektur Cina, hingga langgar bawah tanah yang 2 tahun lalu tak dapat saya temukan.

Di dalam 'menara' di kolam Taman Sari
Di dalam ‘menara’ di kolam Taman Sari
Gedong Ledoksari, padepokan berarsitektur Cina.
Gedong Ledoksari, padepokan berarsitektur Cina.
Lorong Langgar bawah tanah
Lorong Langgar bawah tanah

 

Seorang anak ngebut dengan sepedanya di salah satu gang di Kampung Batik
Seorang anak ngebut dengan sepedanya di salah satu gang di Kampung Batik

Setelah lelah 2 jam mengelilingi areal Taman Sari, saya pun memutuskan kembali ke Jalan Malioboro. Tak tahu harus kemana lagi, sementara kedua teman saya sudah menginformasikan jika mereka sudah akan boarding dari tempat masing-masing, saya pun memutuskan untuk sholat dan mengaso sebentar di sebuah musholla di dalam area kantor gubernur. Tak lama kemudian, hujan pun turun disertai angin dan petir. Hawa panas semenjak siang meruap, berganti kesejukan. Saya yang sudah tidak kuat memanggul ransel, memutuskan menunggu di sana hingga teman-teman saya landing.

Cerita selanjutnya: Part 2, Part 3, Part 4

10 thoughts on “Yuk, Jalan ke Yogyakarta! (Part 1)

  1. (/ \) saya blm pernah ke Jogja..huhuhu

    wah rasanya semakin nggak sabar pngn cpet2 menginjakkan kaki di Jogja..
    rencananya minggu depan sy akan berangkat ke Jogja…
    saya tambah semangat setelah membaca ini :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s