Diary · Foto

Harta Karun

Rasanya sudah beberapa kali saya bercerita di sini ya, kalau Bapak saya juga menggemari fotografi?

Well, Bapak adalah seorang ‘fotografer’ saat jaman kamera analog dulu. Bukan seorang pro yang mengandalkan hidup dari dunia fotografi, tapi beliau pernah menang dalam beberapa perlombaan, baik di tingkat regional maupun nasional.

Saya masih ingat, suatu hari saat beliau pulang dari tugas kantor ke Jepang. Itu adalah kali pertama beliau menginjakkan kaki di negeri sakura, dan cindera mata yang dibelinya tidak jauh-jauh dari kamera, lensa, perlengkapan memotret, serta beberapa buku tentang fotografi. Lol~

Saat saya masih duduk di bangku SMP, saya juga ingat pertama kalinya diajak hunting foto oleh Bapak. Saat itu saya diajari praktik memotret di Festival Kesenian Bali. Saya memakai kamera Pentax analog milik Bapak, dan Bapak sendiri meminjam kamera kantor. Saat itulah, untuk pertama kalinya saya merasa melihat suatu peristiwa dari sudut yang berbeda.

Saat kamera Bapak kemudian rusak karena umur, lalu kamera digital mulai menggeliat, Bapak tidak terlalu menekuni hobi ini lagi. Saya juga bertahun-tahun tak pernah menyentuh kamera lagi dan sibuk berkonsentrasi pada sekolah.

Dan, setelah bertahun-tahun berlalu, tiba-tiba Bapak kemarin mengambil sebuah tas dari dalam lemarinya.

“Ini buat kamu”, katanya.

Saat melihat isinya, saya pun terbelalak. Isinya adalah sebagian besar perlengkapan fotografi milik Bapak.

Lensa Porn

Isinya adalah:

  • Lensa 70-200mm f/3.5-5.6
  • Lensa 28-70mm
  • Lensa 50mm f/2.8 (semua lensa adalah lensa Pentax)
  • tele converter
  • bermacam-macam filter cokin, close up, cpl, dsb
  • Kamera analog Pentax K1000
  • Kamera Canon 7s dengan lensa Canon 50mm/0.95 (aaakkk!!)

Sebenarnya bukan sesuatu hal yang baru, Bapak menghibahkan perlengkapan fotografinya. Tripod, filter CPL, semua majalah dan buku tentang fotografi, sudah dihibahkan buat saya sebelumnya saat saya mulai menekuni hobi ini kembali. Namun, isi satu tas itu tak pernah diberikan, karena menurut beliau, semuanya sudah rusak. Saya yang waktu itu masih awam, hanya mengiyakan tanpa membantah.

Tapi sekarang, saat pengetahuan saya tentang lensa dan segala macamnya sudah bertambah, saya melihatnya dari sudut yang berbeda. Kamera Pentax K1000 milik Bapak memang sudah rusak dan tak bisa dipakai lagi. Tapi, saya pernah membaca di internet tentang seseorang yang memodifikasi sebuah kamera analog yang telah rusak untuk kemudian dipasangkan dengan iphone miliknya. Hmm… walau saat ini belum tahu bagaimana membuatnya, tapi mungkin suatu hari saya bisa memanfaatkannya ;).

Lensa 70-200mm sudah tak ada harapan, karena telah rusak dan dibongkar beliau karena iseng dan ingin tahu bagaimana sebuah lensa bekerja (>.<). Lensa 28-70mm telah berjamur. Pernah di-servis katanya, tapi karena letak jamurnya di dalam, jadi tak bisa bersih seluruhnya. Lensa 50mm/2.8 -nya masih lumayan bagus. Ada sedikit fungus tapi letaknya sepertinya masih di luar. Mudah-mudahan masih bisa diselamatkan.

Tapi, yang paling istimewa adalah kamera Canon 7s. Masih lengkap dengan tas kulitnya. Beratnya luar biasa! Kalau saya sering mengeluh tentang DSLR yang bulky, sepertinya saya harus berpikir lagi untuk mengeluh di masa depan. Gak kebayang bagaimana orang jaman dulu mengalungkan kamera seberat ini di lehernya ck ck ck… Dan, mata saya pun terbelalak dengan lensa yang terpasang di kamera ini. F/0.95??!! What the…

Usut punya usut, kamera itu kata Bapak adalah pemberian dari temannya. “Jangan dijual ya, Mir. Itu amanah”, kata beliau. Ah ya, baiklah…

Anyway, saya berasa kejatuhan durian runtuh, mendapatkan harta karun tak ternilai harganya, tiba-tiba kaya mendadak… pokoknya, ini seperti mimpi! And, if it’s really a dream, please… don’t wake me up.

21 thoughts on “Harta Karun

    1. Saya mau nangis dengernya. Huhu… T_T
      Meski itu semua adalah lensa manual, saat itu Bapak pikir gak akan bisa dipakai lg di masa depan. Siapa yang menyangka kalau sekarang ada berbagai adapter ring, jadi lensa manual pun bisa dipakai lagi di kamera digital. Memikirkan hal ini, rasanya saya yang mau nangis, karena semua lensa itu mahal harganya kini. Huwaaa…. :'(

      1. Hahaha… iya sih. Begini aja udah bersyukur setengah mati dapat segini banyak, gratis pula! :D
        Etapi, akan tetap saya simpan. Siapa tau di masa depan, saya ketemu cara memperbaikinya atau memodifikasinya. *belajar dari masa lalu jg* :D

    1. Iya. Bukaan maksimalnya 0.95. Saya aja sampe nganga gak bisa nutup mulutnya. Haha… Dan, hebatnya lg, bpk saya gak pernah sekali pun nyoba kamera ini. Mungkin krn kamera ini pemberian, jd beliau takut merusaknya. Hehehe…

      1. haha…
        sama dong, aku pas baca 0,95 udah mangap2 aje.
        yang 1,8 aja klo buat moto udah baguus, gimana yg 0,95.
        ish, penasaraaann… -___-”

        btw, dirimu tinggal di bali, mir?
        boleh dong mampir klo main ke sana :D

      2. Saking penasarannya, saya sampe googling dan terdampar di sebuah grup di flickr khusus utk lensa itu. Hasil foto2nya, bokehnya lain dr yg lain. Swirly abiss, gak creamy kayak lensa bukaan besar lainnya. Sayangnya, ini lensa gak bisa dipake di DSLR (kata mereka). Malah bisa di bbrp mirrorless. Kalo mau nyoba, terpaksa musti beli film n dicoba di kamera bawaannya.

        Iya, saya tinggal di Bali. Di Nusa Dua, sekitar 20 km dr pusat kota :)
        Hayuklah mampir kalo ke sini. Siapa tau mau hunting foto di Bali. Hehehe… :D

      3. hahaha..niat banget searchingnya. Jadi penasaran, ntar aye search jg ah di flickr. =))

        iyaaa..pengen banget backpack ke sono dan hunting poto.
        masa’ ya si gue g pernah dpt sunset yg bagus klo maen di laut. .____.

      4. Sunset ama Sunrise itu kayak main untung2an. Kadang di tempat kita berpijak, cerah luar biasa. Tp di cakrawala mendung tralala. Jd mentari-nya gak keliatan, deh. Saya kadang balik lagi dan lagi ke tempat yang sama berkali-kali buat mendapatkan foto sunset/sunrise yang memuaskan. Untungnya, di sini mah pantai deket. 5 menit naik motor kalo mau liat sunrise. 15 menit naik motor kalo mau liat sunset :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s