Foto · Postingan GaJe

Watermark

Suatu hari, teman saya bertanya, “Kok foto-fotomu jarang yang pake watermark, Mir? Gak takut dicuri orang?”.

“Ah, fotoku gak sebagus itu juga, kalee. Siapa yang mau nyuri?”, jawab saya sekenanya.

(Buat yang gak tahu apa itu watermark… Itu lho, watermark itu tulisan yang ada di atas sebuah foto yang biasanya menunjukkan identitas si empunya foto).

Alasan orang-orang memakai watermark di foto-foto mereka, selain sebagai sarana promosi (seperti menunjukkan ke orang yang melihat foto itu, ‘Ini foto karya si ini’), juga untuk mencegah terjadinya pencurian foto. Tolong angkat tangan, siapa yang suka copas gambar keren dari internet?! *angkat tangan sendiri* #eh :p

Menurut saya, copas gambar dari internet itu sudah jamak terjadi dan wajar. Berani diunggah ke dunia maya, berarti harus berani menanggung resiko gambarnya diunduh tanpa bilang-bilang. Bagi saya, asal tidak untuk komersil, hanya disimpan sendiri, tidak diaku-aku sebagai karya pribadi, itu tidak menjadi masalah.

Untuk saya sendiri, saya menyimpan gambar-gambar tersebut untuk koleksi pribadi. Sebagian besar, jadi resensi saya saat memotret. Terus terang, saya banyaaakk sekali belajar dari contoh-contoh gambar ini. Secara, saya ini orangnya visual, lebih nyangkut belajarnya kalau disertai contoh gambar, dibandingkan hanya dengan teks. Berkat gambar-gambar ini, hasil foto saya menjadi semakin baik dari waktu ke waktu (Insya Allah memang begitu, karena saya merasakannya sih begitu :p). Dan, tidak mungkin saya mem-bookmark tiap link dari tiap gambar bagus yang saya temukan di internet. Cara termudahnya ya, copas ke folder di komputer. Walau saya jamin, saya tak akan pernah mengaku-aku karya orang sebagai karya saya sendiri. Seburuk-buruknya hasil foto saya, saya masih lebih bangga mengakui karya sendiri daripada foto yang bagus tapi sebenarnya milik orang lain. Walau orang lain gak tahu, tapi sebenarnya kita telah membohongi diri kita sendiri. Lagipula percayalah, hasil karya kita tidak akan menjadi lebih baik jika kita mengaku-aku karya orang lain. Bukannya kepopuleran, tapi kehinaan-lah yang akan kita dapat, dan nama baik yang rusak selamanya.

Back to topic… Nah, karena watermark ini terus melekat di foto tersebut, jika ia di-copas berulangkali di berbagai artikel di internet, akan selalu ketahuan siapa yang sejatinya telah menghasilkan karya itu. Dengan demikian, kredit untuk karya tersebut akan selalu kembali ke sang pemilik asli walaupun tidak ada back link untuk sumber gambar itu.

Yang menjadi masalah adalah jika sang pencuri gambar benar-benar berniat mencuri gambar tersebut. Bahkan jika gambar itu telah dibubuhi watermark sekali pun, ia takkan segan-segan menghilangkannya. Itu yang kabarnya dialami seorang fotografer beberapa waktu lalu. Gambarnya tentang pernikahan keraton Jogja diambil oleh sebuah stasiun TV swasta tanpa ijin PLUS dihilangkan watermark-nya. Untungnya sang fotografer ngeh, dan menuliskan hal ini di salah satu situs jurnalisme warga sembari tetap menghubungi stasiun TV yang bersangkutan. Saya kurang tahu kelanjutan kasus ini, tapi terakhir kali saya tahu, ia telah mendapat jawaban dari stasiun TV tersebut.

Jadi, kalau ditanya apakah watermark penting? Jawabannya, tergantung. (Eh, kok tergantung? Bukannya penjelasan panjang-lebar di atas sudah menunjukkan pentingnya watermark, ya?)

Jawabannya, tergantung fotografer-nya. Ada beberapa fotografer yang memang memilih untuk tidak menggunakan watermark. Tentu dengan beberapa alasan. Pertama, karena karya mereka sudah sangat sangat terkenal, hingga kalau ada yang berani mengaku-aku karya mereka, si pencuri-lah yang akan ditertawakan.

Kedua, karena di-copas adalah tujuan mereka (nah, lho?). Banyak lho, fotografer yang berharap karya mereka disebarluaskan dengan cara di-copas. Dan, karena biasanya karya yang telah diberi watermark adalah karya yang jarang di-copas, mereka memilih untuk tidak menggunakannya.

Ketiga, karena merasa karya yang sekarang belum bagus. Watermark itu ibarat merk. Sekali meletakkannya di atas foto, bagaikan menegaskan ke orang-orang bagaimana kualitas kita. Jika foto kita benar-benar bagus, tentu akan menjadi sarana promosi yang bagus. Tapi, kalau kualitasnya buruk, dan ke depannya kita berniat untuk membangun bisnis di bidang fotografi, bisa jadi ia akan menjadi bumerang penghancur reputasi kita di masa depan. Ingat, sekali gambar kita diunggah ke internet, ia akan ada di sana SELAMANYA.

Keempat, bisa jadi si fotografer tidak menyukai keberadaan watermark di foto-fotonya.

Lalu, yang mana alasan saya tidak menggunakan watermark. Mhmm… yang terakhir :p. Hehe… saya memang kurang suka dengan watermark. Entah kenapa kok rasanya ‘kotor’ dan mengalihkan perhatian yang melihat foto dari konten foto itu sendiri. Atau, ini mungkin memang saya-nya yang belum menemukan watermark yang pas sehingga tidak akan mendistraksi yang menikmati.

Tapi apapun itu, keputusan untuk memberi watermark atau tidak, murni terserah sang fotografer itu sendiri. Kalau ia tidak masalah fotonya di-copas orang, digunakan tanpa ijin, tidak diberi kredit selayaknya, ya itu resiko yang harus siap ia tanggung. Namun, yang bisa saya sarankan, jangan pernah mengunggah sebuah foto dengan resolusi besar (apalagi yang masih RAW) ke internet, DENGAN atau TANPA watermark. Karena kalau itu sampai di-copas, bukan hanya pengakuan atas karya yang bisa berpindah tangan, tapi juga uang. Karena, foto dengan resolusi besar, sangat mungkin untuk diikutsertakan dalam lomba fotografi maupun digunakan untuk iklan.

PS: Foto-foto yang saya unggah di sini, sebagian besar sudah saya re-size. Mau di-copy dan disimpan, boleh. Asalkan, jangan diaku-aku karya sendiri, sih. Ingat, walau saya tidak tahu, Tuhan tetap Maha Melihat, bro. :)

PSS: Saya gak pernah khawatir dengan fitur download di Facebook. Sebagian besar foto yang saya unggah di sana, saya buka untuk publik. Perkecualian untuk foto-foto pribadi, teman dan keluarga, yang saya share terbatas. Saya tidak khawatir karena FB telah meng-kompresi foto yang kita unggah di sana, sehingga resolusinya minim. Buruknya, ini berpengaruh sekali terhadap kualitas image. Bagusnya, kita tidak perlu repot-repot me-resize. Perkecualian untuk yang saya unggah di grup-grup fotografi di FB. Karena di beberapa grup diharuskan mencantumkan data exif, saya menjadi lebih berhati-hati. Bukannya takut dibajak, saya hanya takut disalahgunakan. Sudah terjadi beberapa kasus dimana beberapa orang menjebak para wanita muda yang ingin menjadi model dengan cara membajak foto dan berpura-pura menjadi fotografer.

Apa pendapatmu tentang watermark? Menurutmu penting, gak?

copas = copy-paste

12 thoughts on “Watermark

    1. Penting sih, katanya. Tapi, saya tetep aja malas makai-nya. Belum ketemu yg pas kali, ya.
      Iya, kalo sdh diniatkan pake watermark, haram hukumnya buat yg upload ulang utk menghapusnya, apalagi utk keperluan komersil. Tp kasusnya kyknya kmrn sdh clear. Untungnya si fotografer lumayan terkenal plus dibantu Bang Arbain yg ngangkat kasus ini jg di twitter. Si Stasiun TV ujung2nya malah di-bully publik.

    1. Maksudnya, mas? Saya nulis blog ini memang bukan untuk sumber informasi tertentu. Saya hanya sharing pengalaman aja. Kalau membantu, ya syukur. Kalau gak, ya gak pa-pa. Toh saya gak menyakiti siapa pun, kan?

  1. menurut saya sih tidak terlalu penting itu watermark, kan bisa dihilangkan ya itu juga klo orang yg beneran mau nyolong fotonya, kan ??
    malah fotografer professional jarang pake watermark, krn akan merusak keindahan foto.
    satu pertanyaan : untuk apa pakai watermark ?? kalo cuma untuk menunjukan itu “foto-ku” ??
    saya lebih suka memotret seindah mungkin dan bilang aku dan kamera-ku yang menciptakan foto ini

    1. Setuju :). Kalau udah niat mencuri sih, mencuri aja. Walau, saya gak menentang yang ingin menggunakan watermark, sih. Semua terserah individu masing2.

  2. Emang merusak keindahan foto. Makanya kalau foto ‘terbagus’ saya ga pernah pake watermark. Nah, karena yg ditampilin di blog mah cuma foto ‘bagus’ makanya pake watermark. :D

    1. hehe tumben ada yg blg yg terbagus malah gak dikasih watermark. Biasanya, justru yg terbagus yg plg sayang kalo di-copas org :D

      Tp emang terserah fotografernya sih. :)

  3. Watermark emang penting sih. Tapi aku kadang suka lupa cantumkan nya. Hahaha

    Aku pasang watermark juga bukan karena menghindari copas sih. Tapi dulu pernah, beberapa fotoku malah disangka copas sama orang lain. Alhasil mulai pasang watermark, yang suka lupa masangnya juga. Hahaha.

    Untung ada Instagram. Foto2 tertentu hasil jepretan sendiri bisa ditaruh disana yang udah otomatis ada fitur anticopasnya. Copas dari sana agak ribet untuk ukuran awam .

    1. hehehe kok kasusnya malah kebalik. Biasanya pasang watermark krn takut di-copas, eh ini malah biar gak disangka hasil copas. :D
      Sayangnya, blm punya instagram. Kalau udah punya, nyoba, ah. Kalau di-flickr, kalau gak pakai akun berbayar, fitur download msh ada. Makanya kalau mau upload di sana, hrs di-resize dulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s