Diary · Traveling

Trans SARBAGITA

Hari minggu kemarin, saya benar-benar random. Gak punya rencana apa-apa sebelumnya, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba naik bus Trans Sarbagita, busway-nya Bali. Sejak beroperasi dua tahun lalu, saya memang belum pernah menaikinya. Alasannya, pertama karena saya sudah punya motor yang bisa mengantarkan saya kemana-mana dan ‘bebas’ macet. Kedua, karena pekerjaan saya yang lebih banyak di jalan, jadi saya tidak bisa mengandalkan transportasi umum demi kelancaran pekerjaan.

Busway di Bali dinamai Trans Sarbagita yang merupakan singkatan dari Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan, rute yang rencananya akan terlingkupi ke depannya. Hingga hari ini, baru rute Badung-Gianyar-Denpasar saja yang baru terlaksana. Bus besar Trans Sarbagita hanya melayani jalan-jalan besar di by pass (rute Batubulan-Nusa Dua-Batubulan) dan bus-bus lebih kecil melayani jalan-jalan di dalam kota Denpasar (rute Kota-GWK-Kota). Karena bus tidak bisa masuk ke jalan yang lebih sempit dan harus berhenti di halte-halte khusus, maka dibentuklah angkutan-angkutan feeder yang siap mengantarkan calon penumpang ke halte busway terdekat. Tarif busway Rp. 3.500 untuk dewasa dan Rp. 2.500 untuk pelajar dan anak-anak. Tarif itu berlaku sama untuk rute mana saja, jauh maupun dekat. Untuk angkutan feeder-nya sendiri saya kurang tahu. Kabarnya sih Rp. 2.000, tapi saat terakhir saya lihat kapan hari, angkutan ini masih gratis saja (stimulus bagi masyarakat agar tertarik naik angkutan umum).

Nah, yang saya naiki kemarin adalah bus jurusan Nusa Dua-Batubulan. Dari rumah, saya pergi ke supermarket Hardy’s dan memarkir motor di sana. Halte busway terletak tepat di depannya. Tak menunggu terlalu lama (sekitar 10 menit), bus pun datang. Tujuan saya? Jalani rute sampai habis, Batubulan! Mau apa di sana? Err… tidak tahu. Mari pikirkan nanti. :p

GNK_008KMungkin karena masih pagi, jadi masih sepi penumpang. Mungkin juga karena sepi dan masih pagi, jadi AC-nya terasa dingin. Brr… >.<

Bus berhenti tepat di terminal Batubulan. Di sana, seperti laiknya sebagian besar terminal di Indonesia, para sopir angkutan sudah menunggu tepat di pintu keluar bus, siap menawarkan rute-rute selanjutnya. Saya berkata tidak pada mereka semua dan melenggang berjalan ke luar terminal. Tujuan? Entah, pokoknya jalan saja.

Saya tahu di dekat situ berjejer tempat yang menawarkan pertunjukan Barong. Iseng, saya bertanya berapa tarif masuk untuk satu orang. Ternyata, tarif per orang untuk satu jam pertunjukan adalah Rp. 100.000. Tidak, saya tidak menontonnya. Selain mahal (kemarin kan sudah masuk tanggal tua, bok!), saya sudah beberapa kali menontonnya di PKB walau bukan versi lengkapnya. Selain itu, saya juga telat. Saat saya bertanya, pertunjukan sudah dimulai 20 menit yang lalu. FYI, buat yang berminat, pertunjukan Barong di sini diadakan sekali sehari mulai jam 9.30-10.30 pagi. Sedang sorenya digunakan untuk pertunjukan Kecak.

Tidak menonton, tidak punya tujuan, akhirnya saya luntang-luntung berjalan ke sana kemari, sambil memotret apa saja. Mulai dari jejeran patung yang dijual di pinggir jalan, sampai pintu-pintu rumah orang yang berarsitektur khas Bali.

GNK_018K

Setelah beberapa lama saya berjalan, saya mulai bosan. Berpikir ingin pergi kemana lagi. Sempat terpikir ingin ke Ubud, tapi hari sudah terlalu siang. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke Desa Kertalangu.

Desa Kertalangu adalah sebuah desa di daerah Sanur yang terkenal dengan persawahan di tengah perkotaan. Di sana dibangun jogging track yang mengitari areal persawahan, sehingga orang-orang bisa lari sembari menikmati pemandangan sawah yang menghijau atau menguning.

Untuk pergi ke sana, saya menaiki busway kembali yang menuju arah Nusa Dua. Saya berhenti di halte Sanur dan berjalan kira-kira 200m lagi untuk sampai di gerbang Desa Kertalangu.

GNK_101KPadi yang mulai menguning.

Sayangnya saya tiba tepat saat tengah hari, jadi bayangan dan kontrasnya menjadi terasa terlalu kasar di foto.

Anyway, di Kertalangu ini ada banyak varian tempat wisata yang bisa dicoba. Selain jogging track, di sini juga ada jasa kuda yang bisa ditunggangi, kolam pemancingan ikan dan restorannya, kolam mandi bola dan trampolin untuk anak-anak, dan beberapa bangunan berarsitektur Bali.

Setelah puas berkeliling Kertalangu, saya pun memutuskan pulang. Kembali ke halte semula tempat saya turun tadi, langsung menuju Nusa Dua. Perjalanan pulang kali ini ternyata cukup banyak penumpangnya, sampai-sampai ada yang tidak kebagian tempat duduk. Tapi overall, bus Trans Sarbagita menurut saya cukup nyaman sebagai angkutan umum. Saya harap, semakin banyak yang menggunakannya ke depannya dan rute-rutenya ditambah hingga merambah ke tempat-tempat terpencil, terutama ke arah Bali utara.

Tips dari saya: sebaiknya membayar dengan uang pas. Berjaga-jaga saja jika tidak ada uang kembalian.

11 thoughts on “Trans SARBAGITA

  1. Ak sendiri belum pernah nyoba mir..posisi halte yang jauh bgt dr rumah yg bwt g da kesempatan utk mencoba heheheeee….^^v

    1. Iya, sayangnya daerah Kuta, Legian, Seminyak, Canggu, malah blm terjangkau busway. Mungkin kalau jalur ke arah Tabanan udah ada, baru ada feeder di daerah sana kali, Yas. Tp entah akan ditentang pengemudi taksi atw gak. Itu kan lahan terbesar mereka.

  2. Kebetulan saya newbie..baru pindah tinggal dideket nusadua…nah..mba klo di hardys nusadua situ bisa titip parkur motor sehari semalam gak ya?rencana kapan2 mo naek bis sarbagita ini juga seh dr halte hardys mo ke imambonjol..nginep ditempat sodara disitu.motor titip semalam di hardys nya..bisa gak yah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s