Diary · Foto · Traveling

Plaga Trip: Air Terjun Nungnung

Lanjutan dari postingan Plaga Trip sebelumnya

Sudah menjadi kebiasaan saya, untuk melakukan riset sebelum bepergian. Hanya riset kecil-kecilan, sekedar googling tempat yang akan dituju. Namun, walau kecil, riset ini telah menyelamatkan saya dari pergi dengan kesia-siaan. Berkat riset kecil-kecilan ini juga saya jadi tahu kalau semua museum di Jakarta tutup di hari senin. Jadi, saat liburan kemarin ke Kota Tua, saya yang rencana awalnya pergi ke sana di hari senin, segera mengganti ke hari berikutnya. Coba saya benar-benar tidak tahu, tentu sudah rugi merencanakan sejak dari jauh-jauh hari dan hanya bisa berputar-putar di alun-alunnya saja. Riset juga menghindarkan saya dari kondisi blank saat hunting foto. Setidaknya, saya jadi tahu spot-spot mana yang biasa dipotret orang dan bagaimana menjadikannya berbeda (kalau bisa).

Itu juga yang terjadi saat perjalanan ke Plaga kemarin. Saat Bapak berinisiatif mengajak saya hunting foto di sana, saya mencoba googling tentang jembatan itu, terutama di Google Image. Hasilnya… bisa dibilang banyak foto yang tidak menarik, dalam artian itu-itu saja dan spotnya terbatas. Tapi yang menarik, selain foto jembatan, terselip beberapa foto air terjun juga. Dari sanalah, saya nyasar ke sebuah blog yang menceritakan tentang perjalanan ke air terjun Nungnung. Saya dan Bapak bahkan tak pernah mendengar nama air terjun itu. Air terjun yang terkenal di Bali, setahu kami adalah air terjun Gitgit di kabupaten Buleleng.

Setelah menjelajahi Jembatan Tukad Bangkung, masih ada cukup banyak waktu sebelum pulang. Kami pun memutuskan untuk mencoba mencari air terjun itu. Toh, katanya letaknya tidak jauh dari sana. Setelah bertanya dengan seorang penjual minuman di sekitar jembatan, ia menyebutkan arah-arahnya, “Ini balik lagi, mbak. Nanti ketemu SPBU, ada jalan masuk sebelah kiri, masuk aja”.

Kami pun menyusuri jalan yang tadi kami lewati saat datang. Setelah berjalan agak jauh demi mencari SPBU yang disebut barusan, kami bertanya lagi dengan seorang ibu. Ia menyebutkan hal yang sama, SPBU lurus sedikit, ketemu pertigaan, belok kiri. Dan, kami pun menuruti instruksi itu.

Setelah masuk ke jalan kecil di pertigaan itu, tak jauh dari sana rupanya ada perkebunan bunga yang lumayan luas.

859204_388093977959871_1761446842_oWanita mana yang tahan saat melihat bunga begini banyak? Saya juga termasuk, sudah minta turun dari motor saja untuk memotretnya.

(foto diambil oleh Bapak secara candid)

Tak jauh dari kebun bunga itu, terlihatlah loket penjualan karcis air terjun Nungnung. Harga tiket masuknya 7.500 rupiah per orang. Parkir untuk motor bisa lebih masuk lagi, sedangkan parkir untuk mobil disediakan tempat yang lebih luas di atas.

Setelah memarkirkan kendaraan, kami pun memulai berjalan kaki menuju lokasi air terjun.

PLAGA_151KJalannya turun… turun… dan turun…

PLAGA_169KTrek yang menembus lebatnya hutan. Namun jangan khawatir, alurnya bersih dan terawat, kok.

PLAGA_165KDiselingi pemandangan sungai yang membelah hutan.

Dan, saat menemukan air terjun ini di sebelah kiri kami…

PLAGA_179K

Saya dan Bapak berseru kecewa, “Oh, cuma sekecil ini. Pantas saja kurang terkenal”. Tapi, kami tetap memutuskan turun dan menghabiskan trek hingga akhir karena tetap ingin memotretnya dari dekat.

Ada turunan terakhir dan berujung pada belokan ke arah kanan. Saya heran, “Loh, kok ke kanan? Air terjunnya kan di sebelah kiri”. Dan, saat saya berbelok kanan, pemandangan ini terpampang di depan mata…

PLAGA_192KDan, kami pun terpana… *__*

Saya tak sanggup berkata apapun kecuali mengucapkan “Subhanallah” berkali-kali. Baru kali ini saya menemukan air terjun yang tersembunyi, masih asri dan alami. Serasa memiliki air terjun pribadi! :D

Puas berfoto-foto di sana, kami pun memutuskan naik. Hari sudah menunjukkan waktu jam 2 siang, dan awan mendung mulai bergelayut. Kami tentu tidak ingin kehujanan di tengah jalan naik nanti.

Jalan naik… baru teringat kalau kami harus mendaki naik sepulang dari sini. Dengan jumlah anak tangga nyaris mencapai 500 buah (tepatnya 491 anak tangga. Percayalah, kami benar-benar menghitungnya sendiri), kami sudah bisa membayangkan bagaimana lelahnya nanti. Tapi, ayolah… kita mulai mendaki!

PLAGA_221KTangganya securam ini, saudara-saudara!

Asli, perjalanan naik sungguh sangat menguras tenaga. Beberapa kali kami berhenti untuk mengatur napas dan menenangkan jantung yang berdebar kencang. Sungguh menguras stamina.

Namun, walau benar-benar kecapekan saat tiba di atas, saya gak kapok. Disuruh mengulang pun, saya bersedia untuk datang kembali ke tempat ini. It worth! :D

Tips: pakailah sandal/sepatu anti slip dan tidak berhak tinggi. Ada beberapa tempat yang cukup lembab dan licin, yang takutnya bisa menyebabkan terpeleset. Bawa air minum yang cukup banyak. Perjalanan ke sini cukup menguras tenaga, terutama saat naik. Jangan sampai terkena dehidrasi karena kurang minum.

Kesan: sangat sangat berkesan dengan tempat ini. Selain air terjunnya masih alami dan cantik, udaranya pun masih bersih. Walau ngos-ngosan saat berjalan ke atas, tidak perlu khawatir akan kekurangan oksigen. Persediaan melimpah ruah, disediakan oleh hutan di sekitarnya. :)

Gambar lebih banyak dapat dilihat di sini.

3 thoughts on “Plaga Trip: Air Terjun Nungnung

    1. Hehe iya, liburan lebaran kmrn ke Kota Tua. Tp aku nginep di Bogor, Win. Di tpt kakak. Jd hampir tiap hari bolak-balik Jkt-Bogor naik KRL. Seruuu!! :D

      Btw, thanks bngt buat postingannya ttg Kota Tua itu, ya. Membantu banget! Terutama bikin gak takut bawa DSLR ke sana. Hahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s