Foto

It’s Not (Always) About The Gear

Kamera dan fotografi adalah dua hal yang tak terpisahkan. Tidak akan bisa memotret tanpa kamera, tentu semua orang setuju itu. Lalu, dari kamera, muncul perdebatan panjang tentang siapa yang terbaik dalam membuatnya, pun melahirkan impian tentang kamera idaman. Fotografer mana pun mengakuinya. Tapi, apakah merek dan jenis kamera sangat berpengaruh pada hasil akhir? Saya bilang, tidak juga. Tergantung.

Saya baru memiliki kamera DSLR dalam dua tahun terakhir ini saja. Walau saya meminati dunia ini, tapi bertahun-tahun saya harus memendam keinginan untuk memiliki sebuah kamera SLR karena tidak mampu membelinya. Bapak saya, yang juga meminati bidang ini, selalu menyemangati saya dan mengatakan, ‘It’s the man behind the gun that matters’, ia mengutip sebuah quote fotografi yang terkenal. Karena itulah, saya yang saat itu hanya sanggup membeli handphone, dengan sengaja memilih hape dengan kualitas gambar prima saat itu (ingat ya, saat itu. Jangan dibandingkan dengan telpon genggam berkamera saat ini :p).

Handphone berkamera yang saya miliki pertama kali adalah SE K750i. Hanya 2 MP (Saat itu, 2 MP adalah resolusi tertinggi dan Sony Ericsson adalah pembuat handphone berkamera yang terbaik). Dengan ‘kamera’ itu, saya memotret ke sana kemari, mengambil gambar apa pun yang menarik minat saya.

Hasil dari foto-foto yang saya ambil dengan SE K750i. Tentu saja, no edit, karena saya sama sekali tidak tahu cara menggunakan Photoshop saat itu. Jadi, ini murni dari lensa kamera tersebut.

Sunrise

Yellow Dahlia

Mencoba Macro mode

Taman Selekta

Landscape

Setelah hape SE K750i saya rusak, saya menggantinya dengan Nokia E63, yang sayangnya lensanya tidak sebagus milik Sony. Ini hasil gambar dari hape tersebut. Sudah saya edit, terutama saya sharpened karena hasilnya yang kurang tajam.

Penari Bali di Garuda Wisnu Kencana

24042012(024)1

Untuk penjelasan tentang memotret dengan kamera hape dan contoh gambar yang lebih banyak, bisa dilihat di tiga postingan saya di blog ini, yaitu di sini, sini, dan sini.

Setelah menggunakan kamera hape, saya menggunakan kamera saku (yang masih saya pakai hingga saat ini). Kameranya pun kamera pinjaman yang kemudian seterusnya saya pakai karena Bapak sudah punya kamera penggantinya (Makasih ya, Pak! :D). Nikon Coolpix L16, 7 MP, dan masih berbaterei AA. Saat pertama kali memakainya pun, saya tidak tahu cara mematikan settingan tanggalnya (juga tidak tahu kalau saat itu saya meyalakannya :p)

258157_1889615051489_1574868398_1825802_4707367_o

242122_1889623371697_1574868398_1825812_7813462_o

Kala

Kata Bapak saya selalu, ‘Percuma kalau kamu punya ‘gear’-nya tapi gak tahu cara menggunakannya. Kenali kelebihan dan kekurangannya, dan akali untuk menutupi kekurangannya’. Jadi, setelah saya mulai mengenali si kamera saku ini, saya baru bisa mengambil gambar seperti ini:

DSCN0032

DSCN0033

DSCN0018(1)

Bahkan, beberapa gambar terakhir seperti ‘Catch Me When I Fall’ dan di tulisan terakhir juga menggunakan kamera saku yang sama.

Saya harus akui, kualitas kamera hape dan kamera saku tentu tak bisa dibandingkan dengan kamera SLR, apalagi yang memang untuk fotografer pro. Harga benar-benar berbicara. Tapi, itu bukan alasan untuk minder jika belum memiliki kamera SLR. Masih banyak hal yang bisa dipelajari dari fotografi meski kamera yang kita miliki belum memungkinkan untuk pengaturan exposure secara manual. Komposisi, pencahayaan, atau angle pemotretan, misalnya. Tidak harus menunggu punya kamera wah dulu untuk mempelajari hal tersebut :).

Jadi, seharusnya keterbatasan tidak menghambat kita untuk berkarya. Seharusnya itu justru menjadi pemicu untuk belajar memaksimalkan yang kita miliki, yang syukur-syukur jika kelak saat punya uang lebih kita bisa meng-upgrade gear yang kita punya. Dan mungkin saat itu kita justru bersyukur karena telah belajar teknik fotografi sejak belum memiliki apa-apa dan tidak harus mulai dari nol saat akhirnya punya DSLR.

Terakhir, mengutip kata Bang Arbain Rambey:

“Belajar Fotografi itu seperti saat kita sedang mempelajari kehidupan. Belajar Nrimo. Apapun alat yang kita miliki, ya harus diterima dan dimaksimalkan”

Makjleb banget gak, sih? Hehe… :D

2 thoughts on “It’s Not (Always) About The Gear

    1. Memang secara teknis msh kalah sama DSLR, tp kalau tau cara makai-nya dan ngakalin kelemahannya, bisa jg menghasilkan gambar yang lumayan, kok. Apalagi, kamera hp jaman sekarang. Pasti bisa lbh bagus dari foto-foto saya ini. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s