Diary · Foto · Traveling

Jelajah Jakarta: Lost In Old City

Tulisan ini adalah lanjutan dari postingan ini.

Jam belum lagi menunjukkan pukul 7 saat saya dan Zest berjalan keluar dari kosannya. Semalam saya menginap di sana, memenuhi janji untuk mengunjunginya saat saya jalan-jalan ke Jakarta liburan lebaran kemarin.

Jalanan masih lengang. Walau telah banyak yang masuk bekerja, termasuk Zest sendiri, banyak warga pendatang yang masih mudik hingga H+7 saat itu. Kami memasuki halte busway dan Zest segera memberikan instruksi singkat apa yang harus saya lakukan agar bisa sampai ke tujuan hari itu, Kota Tua.

“Ini peta busway, Mir. Kita sekarang sedang ada di sini”, jarinya menunjukkan sebuah titik di tempat itu. “Nanti kamu ambil jalur merah ini, sedangkan aku ambil jurusan sebaliknya”. Iya, kami memang berpisah di terminal busway pagi itu. Zest mengambil jurusan ke kantornya, sedangkan saya melanjutkan rencana ke tujuan pelesir berikutnya.

Saya sengaja memilih busway dan bukannya kereta api karena beberapa alasan. Pertama, karena saya ingin merasakan bagaimana rasanya naik busway. Ehem… iya, saya turis banget. Busway memang saya anggap salah satu ‘tujuan’ wisata saya di Jakarta. Kedua, saya ingin berkeliling jalanan Jakarta dan melihat suasana ibukota, dan bukannya hanya memandang peron-peron stasiun seperti yang sudah-sudah. Ketiga, karena jika saya memilih naik kereta, itu berarti saya harus berangkat bersama Ashya, teman saya satu lagi yang juga se-kos dengan Zest, yang berangkat lebih siang. Dan, saya tidak terlalu suka berangkat terlalu siang.

Saat Zest meninggalkan saya untuk pergi ke gerbang busway lainnya, saya langsung terpana memandang bus di depan saya. Bok, penuh banget. Dan ini katanya masih ‘kosong’ karena masih banyak yang libur lebaran. Saya pun mengurungkan niat untuk masuk. Selain ingin menguji peruntungan di bus trans selanjutnya, saya dan beberapa penumpang lainnya yang mengantri memang sudah tak mungkin untuk masuk lagi.

Bus selanjutnya datang tak lama kemudian. Masih penuh, tapi masih cukup untuk saya dan beberapa penumpang tambahan untuk masuk. Saya segera mengambil space kosong di antara supir dan pintu pertama (‘kosong’ di sini relatif, karena kenyataannya saya masih berdiri berhimpitan, berdesakan dengan penumpang lain). Seperti halnya di KRL, space itu adalah tempat khusus untuk wanita. Lebih aman, katanya. Paling tidak, memperkecil kemungkinan pelecehan yang kabarnya kerap terjadi di dalam bus. Hhiyy… >.<

Bus mulai berjalan. Beberapa penumpang lagi naik, sebagian lainnya turun, di setiap halte yang kami lewati. Saya memeluk backpack saya yang saat itu sudah berubah menjadi frontpack, persis seperti kebiasaan setiap orang di sini yang membawa ransel. Kabarnya, ini salah satu kebiasaan khas orang kita, terutama warga ibukota. Katanya, saat di luar negeri, mudah sekali mencari orang Indonesia di tengah kerumunan. “Yang make ransel di depan. Rasa gak aman kita kebawa sampe jalan-jalan ke luar”. Eaaa…

Saya turun di halte Harmoni, lalu berjalan ke halte lain untuk ganti rute ke arah Kota. Jarak antar halte yang kata Ashya kemarin malamnya sampai 2 km saking jauhnya. Ashya terbukti lebay :p. Gak sampai 2 km, walau memang cukup jauh juga, apalagi sambil memanggul backpack yang lumayan berat (saat berjalan untuk ganti rute, ransel saya kembali menjadi backpack untuk sementara. Gak kuat bok, memanggul di depan dan berjalan sejauh itu).

Saya tidak menyesal telah memutuskan naik busway ke Kota Tua. Saya jadi bisa melihat suasana ibukota di pagi hari plus melewati banyak tempat yang beberapa tidak sempat saya kunjungi sebelumnya, seperti Bundaran HI, Monas, dan beberapa gedung terkenal. Ini baru namanya berkeliling-keliling kota yang sebenarnya. ^__^

Sesampainya di halte tujuan, saya segera berjalan ke arah kawasan Kota Tua. Gedung-gedung bernuansa Eropa segera memenuhi lansekap pandangan mata.

Saat menjejakkan kaki di alun-alun, saya segera mengirim pesan singkat ke Bapak. Sedari awal, kami memang berencana bertemu di sana. Bapak naik kereta pagi dari stasiun Bojong Gede, sedangkan saya–karena menginap di tempat teman–akan naik kendaraan umum lain dari dekat kosan teman. Ternyata, kereta yang Bapak tumpangi masih sampai di stasiun Manggarai, kira-kira masih sejam sebelum sampai di stasiun Kota. Perut yang lapar memanggil saya untuk sarapan terlebih dahulu sembari menunggua Bapak. Ketoprak Betawi yang dijajakan di salah satu lorong Kota Tua, menjadi pilihan saya.

Tak lama setelah selesai makan, Bapak datang dan kami pun segera mulai berburu foto.

1115989_10201202409533708_1917678964_o

55910_10201202412213775_27446324_o

Museum Sejarah Jakarta

1149264_10201202434414330_1106502610_oJejeran sepeda warna-warni yang disewakan untuk mengelilingi Kota Tua

Ada beberapa museum yang mengelilingi alun-alun. Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, serta Museum Keramik. Semua museum ini hanya ditarik bayaran 5000 rupiah per orang sekali masuk. Tidak mahal, menurut saya. Apalagi dengan semua pengetahuan yang ditawarkan di dalamnya.

Saya dan Bapak hanya masuk ke Museum Sejarah Jakarta (yang penataan di dalamnya, terutama tamannya sangat keren, menurut saya. Betah banget untuk sekedar duduk-duduk dan foto-foto di sini), dan Museum Wayang. Tidak masuk ke Museum Keramik, karena sebetulnya ada sebuah tempat yang ingin sekali saya kunjungi di kawasan ini. Bahkan, saya ingin sekali mengunjunginya sejak belum berangkat ke Jakarta. Tempat itu adalah Museum Bahari.

Berkeliling ke sana kemari, tanya sana-sini, tidak banyak orang yang tahu tempatnya. Seorang tukang parkir akhirnya menunjuk ke sebuah jalan kecil dan lengang. “Terus saja jalan ke sana, Pak”, katanya kepada Bapak. “Sepertinya tempatnya dekat dengan Pasar Ikan”.

Masih tidak yakin, kami bertanya lagi ke seorang bapak penjaga warung di jalan kecil tadi. “Kayaknya terus saja, pak. Tapi jauh, lho”, ujarnya setengah tidak yakin. Bapak bertanya pada saya apakah mau berjalan agak jauh. Saya mengangguk mantap menyanggupi. Saya harus ke sana.

Dengan memanggul ransel yang makin lama makin terasa berat, setelah berjalan kira-kira setengah kilo, kami berjumpa jembatan gantung ini:

DSC_0371(1)

Kelihatannya di jaman dulu jembatan itu bisa naik saat ada kapal yang hendak melintas dan turun kembali saat kapal itu telah lewat. Cool…

Setelah beristirahat sebentar dan mengambil beberapa foto jembatan gantung, kami pun meneruskan perjalanan. Setengah kilo lagi berjalan, dan saya merasa kami telah berjalan di jalan yang benar saat saya melihat gedung galangan kapal berlambang VOC yang sering saya lihat di internet saat mencari referensi tentang Kota Tua. Dan, sekitar 200 meter di seberangnya, menara syahbandar berdiri dengan gagahnya.

DSC_0380K

DSC_0385KPintunya keren banget…

DSC_0389K

DSC_0393K

Pemandangan dari atas menara syahbandar

Pemandangan dari atas menara syahbandar mempertegas fungsinya. Pengawas yang dulu berada di atas sana, bertugas mengawasi kapal yang keluar masuk pelabuhan Sunda Kelapa, dan lalu lintas sekitarnya.

Dan… Museum Bahari yang saya cari-cari tepat berada di seberang menara. Woohoo!! :D

DSC_0399K

DSC_0404K

DSC_0411K

DSC_0415K

DSC_0414K

Gedung tua, jendela kayu, cat yang mulai terkelupas… I fond them a lot.

Setelah lelah menjelajahi Museum Bahari yang lumayan luas, ditambah cuaca yang teramat panas saat itu, rasanya kami tak sanggup lagi jika harus berjalan sekilo lagi untuk kembali ke titik semula di alun-alun. Akhirnya, setelah bertanya kepada seorang warga di sana, ia berkata jika kami bisa langsung ke stasiun kota dengan angkot nomor 02. Rencana yang bagus, menurut saya. Dengan menaiki angkot, kami langsung menuju stasiun Kota. Setelah makan siang di sebuah gerai makanan cepat saji di dalam lingkungan stasiun, kami pun pulang kembali ke Bogor dengan menaiki kereta.

2 thoughts on “Jelajah Jakarta: Lost In Old City

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s