Diary · Foto

Foto yang Bercerita

Selama ini saya gagal memahami bagaimana membuat sebuah foto yang baik itu. Bapak, yang lebih berpengalaman memotret, berulangkali mengingatkan banyak foto saya yang tidak ‘bercerita’. Saya tidak paham maksud beliau dengan ‘foto yang bercerita’ itu. Tapi, saya mengaku terus terang kalau saya sering blank saat mengambil gambar. Saya gak tahu mau mengambil gambar apa, dari sudut mana, dan apa yang ingin saya sampaikan. Rupanya, itu terlihat jelas di hasil foto yang saya ambil.

Saya lalu browsing banyak artikel mengenai komposisi dan berbagai macam teknik lainnya, tapi rasanya pemahaman itu belum saya dapatkan. Secara komposisi mungkin saya sudah mengerti, tapi foto saya masih saja terasa datar dan tidak kuat.

Untungnya, di WordPress ini saya follow The Daily Post, blog resmi admin-nya WordPress untuk membantu blogger mendapatkan ide dan memberi banyak sekali informasi tentang blogging. Dan, yang paling membantu saya dalam hal fotografi, apalagi kalau bukan kategori ‘Photography 101‘ mereka. Di sanalah saya akhirnya banyak follow blogger-blogger yang pernah menjadi tutor tamu dan banyak memberikan tips-tips tentang fotografi. Salah satunya adalah Ming Thein, seorang fotografer dari Malaysia.

Saya banyak browse artikel beliau di blognya, dan artikelnya tentang ‘What Makes An Outstanding Image’ benar-benar telah mencerahkan pemahaman saya tentang fotografi. Saya klik semua link yang ada di post itu, dan postingan ini yang akhirnya membuka mata saya tentang apa itu ‘foto yang bercerita’. Penjelasannya tentang subyek utama dan komposisi melalui bubbles di bagian akhir tulisan, sanggup membuat saya ber-ooh panjang. Oohh… begini tho, artinya foto yang kuat dan bercerita itu.

Intinya, dalam sebuah foto, kita harus bisa memutuskan elemen mana yang akan menjadi subyek utama. Subyek utama adalah hal yang PERTAMA dilihat orang saat melihat foto kita (di postingan itu, Ming Thein menggambarkannya dengan bubble besar berwarna merah). Setelah itu, kita lalu memutuskan elemen pendukung mana yang akan dimasukkan ke dalam frame. Ingat, elemen pendukung adalah hal-hal yang dapat menguatkan keberadaan subyek utama. Jika elemen itu akan mengalihkan perhatian orang yang melihat dari subyek utama, maka sebaiknya elemen itu ‘dibuang’ atau tidak dimasukkan ke dalam frame.

Setelah membaca artikel tersebut, saya lalu berusaha mempraktikkannya di photo hunting berikutnya. Dan, bedanya sungguh terasa…

I'm BoredJudul: “I’m Bored”

Diambil saat saya sedang bosan di rumah dan akhirnya memutuskan untuk mengambil foto kucing-kucing saya. Kucing ini, Obi, saat itu sedang terlihat bermalas-malasan di tangga. Saya memutuskan untuk menjadikan ia sebagai subyek utama. Setelah itu, saya berpikir, kira-kira komposisi apa yang sekiranya tepat untuk menggambarkan mood bosan. Maka, saya memberi ruang di sebelah kiri agar terlihat kesan ia sedang menerawang/melamun.

1277193_10201385140941879_197569502_oJudul: “Abandoned Ship”

Sore itu, saya sedang berjalan-jalan ke Pantai Pandawa. Suasana sebenarnya sedang ramai karena saat itu weekend. Lalu, saya melihat perahu ini, ditambatkan di sana karena air sedang surut. Saya memasukkan unsur awan yang saat itu sedang bergulung-gulung untuk menambah kesan dramatis. Sebenarnya, sedikit saja saya meleset menempatkan (saya bergeser posisi beberapa kali), ada banyak orang yang akan masuk ke dalam frame (bahkan saat itu, ada beberapa orang yang sedang duduk di samping saya). Saya menambahkan kontras dan menonjolkan tekstur dengan menambahkan filter di photosop saat post processing. Agak over sih menurut saya, tapi saya terlalu malas untuk membetulkan. Haha…

1278832_10201411647364523_1663051417_o

Judul: “Catch Me When I Fall”

Yang ini diambil dengan kamera poket lama milik Bapak. Saya kemana-mana selalu membawa kamera, berjaga-jaga jika ada momen yang pas untuk diabadikan dimana pun saya berada. Hey, momen gak bisa diulang, kan. Sekali terlewat, mungkin akan terlewat selamanya. Karena itulah, saya selalu membawa kamera di dalam tas saya. Dan, karena tidak mungkin membawa DSLR yang berat dan besar, maka saya meminjam kamera poket lama milik Bapak yang kini sudah tidak terpakai lagi. Hanya kamera Nikon Coolpix L16, dengan resolusi masih 7 MP dan masih menggunakan sepasang baterei AA, tapi jika kita tahu cara menggunakannya, bukan tidak mungkin ada banyak gambar bagus yang kita hasilkan :).

Anyway, gambar ini saya ambil di belakang sebuah supermarket saat bekerja. Pemilik bunga lotus ini meletakkan pot bunganya di bawah sebuah pohon kamboja yang sedang berbunga. Bunga kamboja yang jatuh, pada akhirnya tentu saja akan jatuh ke atas dedaunan lotus. Saya suka kombinasi ini, terutama warnanya. Putih dan kuning dari bunga kamboja, bersatu dengan hijau daun lotus.

Saya mengambil foto ini berkali-kali, karena ada elemen yang sangat mengganggu yang terus masuk ke dalam frame. Tepat di samping bunga kamboja itu, ada daun kamboja kering yang ikut jatuh. Tantangan bagi saya adalah, bagaimana agar daun kering itu tidak tampak di dalam foto. Ngng… masih tampak sih, walau sedikit :p. Tapi, itu adalah angle terbaik yang bisa saya dapat. Lalu, saya membuang elemen lain yang mendistraksi seperti dedaunan lotus yang banyak, mengambil sebagian bentuknya saja agar orang masih sanggup menebak daun apa itu, dan memasukkan sebagian bentuk daun lotus untuk framing di sebelah kanan bawah.

Inti dari postingan ini adalah betapa saya sadar sekarang jika mengambil gambar bukan hanya mengambil gambar. Kata bang Arbain Rambey, fotografer favorit saya, ‘Jangan berangkat memotret dalam keadaan blank. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa’. Kalau kata Bapak saya, ‘Berpikirlah dahulu sebelum kamu memijit tombol. Apa yang mau kamu potret? Apa yang ingin kamu sampaikan?’.

Rumit, ya? Hahaha… saya juga dulu berpikir demikian, kok. Tapi, setelah dijalani dan dipraktikkan, ternyata menyenangkan juga. Dulu, saya pikir harus memasukkan semua elemen ke dalam foto. Saya rasanya tidak ingin semua elemen itu terbuang mubazir. Yang melihat seharusnya tahu semua informasi visual yang sama yang saya dapatkan di lapangan. Tapi, ternyata tidak.

Sama seperti penulis yang tidak boleh menulis semua deskripsi dengan jelas dan harus menyisakan imajinasi pembaca, foto pun demikian. Harus ada sedikit ruang untuk publik menginterpretasi, sehingga mereka tidak merasa digurui, sanggup berpikir dan berimajinasi, lalu merasa ada hal lebih yang mereka dapatkan setelah melihatnya. Bukan karena fotonya. Foto hanyalah pemicu, tapi imajinasi dan hasil berpikir merekalah yang memberikan hal lebih itu. Itulah foto yang bercerita, menurut saya. :)

One thought on “Foto yang Bercerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s