Diary · Renungan

“Kapan Nikah?”

Jengkel gak sih, kalau tiap datang ke walimahan selalu ditanya, “Kapan Nikah?” atau “Kapan nih nyusul?”. Ada juga yang dengan nada centil menyindir, “Mana calonnya?”, dan saat dibilang belum ada, mereka malah membalas tak kalah nyinyir, “Cari, dong”.

Saya biasanya hanya menghela napas dalam, berusaha bersabar, sambil berusaha tersenyum. Namun, ini juga yang membuat saya tidak nyaman saat menghadiri walimahan. Hari dimana saya ingin sekali datang untuk memberikan selamat dan doa kepada orang-orang yang saya sayangi, berharap mereka menjemput kebahagiaan, dan dirusak oleh komentar-komentar demikian.

Maka, hati ini bersorak saat seorang teman di jejaring sosial membagi sebuah status. Status ini ditulis oleh Asa Mulchias

Berikut isi statusnya:

Saya beritahu sesuatu:

Saya sudah muak dengan beberapa perilaku.

Salah satunya, ketika ikhwan atau akhwat yang sudah menikah, datang pada yang belum. Lalu katakan:

“Kapan mau nikah?”

Atau,

“Usaha, dong!”

Atau,

“Terlalu banyak memilih, sih!”

Atau,

“Kenapa sih, kamu belum nikah?”

Atau,

“Sebenarnya mau menikah atau tidak?”

Dan berbagai macam versi lainnya. Jengah mendengarnya.

Saya ingin tahu: sejatinya, Orang-orang seperti ini, sebenarnya belum sempurna akalnya, atau memang belaka sudah mati perasaannya?

Untuk orang yang pacaran, saya lebih sering anjurkan percepatlah. Jangan ditunda. Karena dia sudah ada calon, daripada berlama-lama. Nikah belum tentu. Dosa bisa terus terjadi sewaktu-waktu.

Sedang bagi yang belum… ah, kau tidak tahu. Apakah dia sudah berusaha atau belum. Kalau kau tidak punya akses yang valid untuk mengetahuinya, jangan pelihara asumsi buruk di dalam kepala.

Jujur:

Saya muak melihat orang-orang seperti itu. Orang-orang yang sudah mengantongi kartu nikah, tapi menggunakannya dengan jalan yang salah. Sebab, mereka bisa walimah juga karena izin Allah. Bukan murni lantaran ikhtiar saja.

Kalau mereka mau bantu, bantu yang baik. Jangan cuma pasang prasangka, lalu keluar kata-kata tanpa memikirkan hati orang yang mendengarnya. Pernikahan itu persoalan sensitif. Bagi laki-laki, bisa dianggap harga diri. Bagi perempuan, itu terkait citra di masyarakat.

Yang saya ingin tanyakan:
Mereka sedang memotivasi atau menyakiti?

Jika syariah mengizinkan, ingin sekali saya pelintir lidah orang-orang itu. Ketahuilah: orang yang belum menikah bukan berarti mereka tidak berusaha. Bukan berarti tidak mau. Tapi, Allah memang belum mengizinkannya. Daripada kita malah menambah bebannya, bantu doa dan berhati-hatilah dalam berkata.

Itu juga kalau merasa masih saudara seagama. Jika tidak, lakukan apa yang kau suka. Toh, mungkin, ada orang-orang yang menganggap status walimahnya sebagai piala. Yang bisa dibangga-bangga untuk menghina dan merendahkan yang lainnya.

Tenang saja untuk ikhwan dan akhwat yang sedang berupaya. Possitive thinking ana untuk kalian. Jangan panik gara-gara kelakuan beberapa orang, yang miskin adabnya. Luruskan niat walimah kalian. Untuk Allah, bukan untuk meladeni mulut-mulut nyinyir. Yang jahat, faqir tata krama…

Bung, anda pahlawan saya. Terima kasih sudah membagi status itu dan menyuarakan kata hati para lajang ini.

3 thoughts on ““Kapan Nikah?”

  1. “Kapan nikah? Jangan kebanyakan milih!” Lah? Dikira cari jodoh itu kaya beli sayur di pasar? You don’t know what I’ve been through, so just shut up! Aku suka sebel sama pertanyaan nyiyir yang sensitif ini, mba. *curhat*

    Pernah baca di twitter, kalo ada yang tanya “kapan nikah?” jawab aja “kapan pulang ke rahmatullah?” hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s