Diary

Selamat Jalan, Kucing-kucingku…

Bulan ini sungguh berat. Aku kehilangan 4 kucing dalam 2 minggu. Mereka mati setelah terkena wabah virus.

Diawali oleh perkataan tukang bakso langganan beberapa minggu yang lalu. Katanya, setiap hari ia menemukan kucing mati di sekitar perumahan tempatku tinggal. Terkadang hingga 5 ekor sehari. Awalnya kami curiga ada yang tega meracuni mereka.

Tampaknya aku salah. Beberapa minggu setelah percakapan itu, Bujel mulai menampakkan tanda-tanda tak sehat. Ia sama sekali tidak mau makan. Mulutnya terus-menerus keluar lendir dan ia senantiasa mengerang kesakitan. Sebelum dokter hewan sempat dipanggil, ia menghilang.

Dua hari kemudian, giliran Mimi yang menunjukkan gejala yang sama. Tak mau kecolongan, ibuku segera memanggil veterinarian. Ia datang dan memberi suntikan antibiotik karena tubuh Mimi demam. Pesannya, tolong selama 2 hari ini dipantau kemudian ia minta untuk di-sms tentang perkembangannya.

Mimi tak juga membaik. Ia terus-menerus mengerang, tak mau makan, dan lendir terus keluar dari mulutnya. Veterinarian itu datang lagi, memberi suntikan, dan keluarlah diagnosis itu. Virus adalah penyebabnya, dan itu sulit untuk diobati. Kesembuhan sangat tergantung dari stamina si kucing sendiri.

Hari berikutnya, Mimi hilang.

Kami memang tak pernah mengandangkan mereka. Kucing-kucing itu sebenarnya bukan kucing rumahan dan tak pernah sengaja kami biarkan menjadi kucing rumah agar tak hilang insting hewannya. Kami hanya memberi makan di jam-jam tertentu, dua kali sehari. Selebihnya, mereka bebas pergi kemana pun mereka mau.

Sehari setelah Mimi hilang, Putih terkena juga. Ia yang paling parah, namun bertahan paling lama. Seminggu hidup tanpa asupan makanan sama sekali, disuntik hingga 3 kali (antibiotik dan nutrisi), dehidrasi berlebihan, namun tak juga menyerah. Ia menghembuskan nafas terakhir kemarin, bersama Meimei yang juga terkena virus itu dua hari sebelumnya. Meimei sedang hamil saat itu, dan ia keguguran semalam sebelumnya padahal sudah dekat sekali dengan saat ia melahirkan.

*Menghela nafas panjang…*

Dua minggu yang berat. Setiap mengingat mereka, mendengar erangannya, saat mengelus untuk meredakan sakitnya, aku pasti menangis. Tidak tega namun juga tidak rela kalau mereka sampai mati. Putih yang berjuang hingga akhir, baru melepas nafas terakhir saat aku meniup wajahnya lembut sambil berkata dalam hati, ‘Pergilah, Putih. Aku merelakanmu…’

Lalu, Bapak segera mengubur mereka, membakar tempat mereka tidur dan lap yang digunakan untuk mengelap lendir mereka, mengepel seluruh lantai belakang, dan mengganti semua air minum kucing-kucing itu. Masih ada Robben dan Oneng, jangan sampai mereka terkena juga. Empat sudah cukup, jangan ada lagi Ya Allah :'(

PS: sejak semalam Robben terus mengeong. Keempat kucing-kucing itu semua adalah anaknya. Meimei yang pertama. Ketiga itu lahir berbarengan belakangan. Robben yang biasanya menghilang entah kemana setelah diberi makan, sejak kemarin malam menetap sembari terus-menerus memanggil mereka. Biasanya saat dia datang dan mengeong seperti itu, keempat anaknya akan berlarian dari segala penjuru dan mendatanginya. Namun sekarang, seberapa keras pun ia menyeru, kemana pun ia mencari, mereka tak pernah datang. Oneng yang ada saat Putih dan Meimei sakaratul maut, menghampiri Robben setiap kali ia berseru. Mengeong lembut seperti menghiburnya. Miris… sekaligus tersentuh melihat kesetiakawanan mereka.

In Memoriam

Mimi dan Bujel
Mimi dan Bujel

 

Bujel, Mimi, dan Putih
Bujel, Mimi, dan Putih

 

Meimei dan ibunya, Robben
Meimei dan ibunya, Robben

 

 

27 thoughts on “Selamat Jalan, Kucing-kucingku…

  1. sedih bgt pastinya ya…. hiks…
    q jg prnah ngalamin, bhkan q smpe khilangan 6 ekor tman2 q itu… gejalanya jg sama, setiap satu yg mati, hati q sakiiit skali,,,. tp akhirnya q brhasil nylametin 2 yg jg kna virus itu walaupun tnpa vet, tidak sprti kmrn2… Q ksi antibiotik spektrum luas shari skali slama 5 hr, tiap makan q suapin smpe kasarnya q cekokin, soalnya mreka sprtinya mual dan brkali2 dimuntahin lg, klo sdh bgitu, q ulang lg kasi makannya… begituuu terus… sMpai akhirnya mreka smbh, ga ada kata lain slain Alhamdulillaaaah… Skarang klo ada kucing q nunjukin gjala, mual-muntah klo nyium makanannya, demam, tidk.mau makan, q ga ragu2 lagi, hal itu yg akn q lakuin lg. Klo sampe trjadi lagi (smogaaaaa jangan) smoga pngalaman q bs brguna.

    1. Satu lg masukan penting, segera pisahkan kucing yg sakit dan ganti air minum mereka. Jangan sampai air minum yg sakit dan yg sehat dicampur. Kata dokter hewan sih, virus memang susah banget disembuhkan dan tergantung bngt sama daya tahan tubuh masing2. Makasih ya sarannya. Tp, jangan sampe kejadian lg. Cukup sekali itu saya kehilangan kucing2 dgn cara spt itu. Sedih bngt ngeliat mrk menderita :(

  2. Sedih juga ya…aku juga kehilangan kucing kesayanganku,aku kasih nama gagah,kucing jantan warna dan patternya agak mirip robben,setelah berantem malam2,keesokan harinya dia menghilang…
    Aku mengurusnya dari dia bayi,aku sudah merasa dia bagian dari hidupku,sekarang dia pergi…
    Sudah 4 hari dia pergi,kadang sayup2 aku mendengar kebiasaan-kebiasaan suara dia,aku harap,suatu hari nanti bisa bertemu kembali

    1. Oh, kucing saya si Oneng jg prnh gitu, mbak. Hilang stlh berantem. Kayaknya kucing jantan memang gitu. Mereka berantem utk memperebutkan daerah kekuasaan. Yg kalah, hrs menyingkir. Kucing saya balik bbrp minggu kemudian stlh berhasil mengalahkan lawannya yg dulu mengalahkannya dan lawannya yg gantian menghilang (baca: kucing tetangga saya).
      Saya yakin, kucing mbak baik2 aja di suatu tempat. Semoga kelak bisa kembali lg ya, mbak. :)

  3. Sekarang 4 anak kucingku jg baru di rawat di dokter hewan indikasinya sama…beruntungnya begitu ada indikasi langsung malam2 aku sama suami bawa ke dokter, langsung suntik antibiotik dan vitamin tau2 mereka lemes dan demam gara2 salah satunya ada yang kena…setelah itu mereka diinfus untuk menghindari dehidrasi…

  4. Hal ini terjadi juga kepada saya,rabu lalu anak kucing saya yg berumur empat bulan mati. Tadi pagi disusul ketiga saudaranya mengalami gejala yg sama sehari sebelum mati. Lngsung sy larikan ke klinik,dan opname. Semoga mereka bisa bertahan. Tidak berhenti menangis menyesali kenapa bln kmrn tdk saya vaksin. Sdgkan drumah masih ada induk dan bapaknyaa, serta seekor lagi. Semoga mrk tdk tertular. Sekedar info, desinfektan untuk virus ini adalah bahan pemutih pakaian. Semoga bermanfaat.

  5. Kucingku mati juga. Pertamanya ada luka di punggungnya,abis ditinggal pergi seminggu dia udah lemes dan bulunya makn banyak yang rontok padahal biasanya kalau ditinggal tetangga yang kasih makan,akhirnya ia mati,belum sempat dikuburin mayatnya ilang kata tetangga dia yang bantu kuburin. Sedih,untuk mamanya masih hidup.

  6. wah gue pengen pelihara kucing juga gan, lagi milih2 kuing dijalan,, pengen mlihara dari kecil biar nurut sama gue :D
    turut sedih ane gan,, tapi kata orang kucing kalo mau mati bakal sembunyi ya?

  7. Kucingku juga hilang.. Sebenernya bukan kucingku sih.. tapi sering di rumahku.. jadi aku anggep kucingku…
    Kucing dikasih nama ‘Mustofa’ *kayak nama orang aja-______-* dia sering kerumahku aku kasih makan.. dia sempat hilang seminggu, pas dia pulang kerumahku lehernya kayak habis dicekik gitu.. sampe luka : ‘( teros keluargaku ngerawat Mustofa sampe sembuh.. pas udah sembuh dia hilang lagi.. sampe sekarang belum pulang… yang ada dirumahku hanya anak dan istrinya.. tapi mereka masih takut sama manusia.. soalnya Mustofa itu sebenernya udah ada yang punya, cuman dibebasin gituh, lah dia sering kerumahku minta makan, jadi dia ga takut sama manusia, tapi klo istri dan anaknya kucing liar… jadi takut gitu..
    Aku jadi kangen Mustofa… ga nyangka waktu itu hari terakhir aku ketemu sama Mustofa… :””'(

    1. Kalau kucing jantan memang suka gitu. Suka ngilang, apalagi kalau kalah sama pejantan lain. Biasa lah, masalah daerah kekuasaan. Kalau dia udah menang, bakal balik lg. Tp kalau kalah terus, ya gak bisa balik dulu.

      1. Tapi kayaknya Mustofa mati deh.. dia udah tua.. waktu pertama ke rumahku rambutnya udh sebagian putih *emang gitu kali warna bulunya -,-*
        Tapi emang bener kog Mustofa udah tuaa.. Huweee.. Kangen.. TT.TT

  8. Aq juga baru ngerasa sakitnya dan sedihnya di tinggal kucing ksygn.. Anak kucing ku bru berumur 4 bln.. Mati barusan td.. Gag tega aq liadnya mati.. Mati jatuh dlm parit pnuh lumpur hitam.. Hdungnya berdrh.. Mgkn sblm mati kejedot kayu brhmprn parit itu.. Aq gag bsa lupakan kucing ku namanya putih.. Hmmm

  9. Ikut berduka ya ..ibu jg punya 2 kucing..baru kmrn mrk mati semua sedih rasanya kaya kehilangan anggota keluarga..yg 1 di racun sm orang krn dia sering kluar aga nakal tp lucu..yg 1 sakit hmpir 2 bln makanya sedikit smpe berat badannya turun bnyak..sdh berobat katanya cacingan minum obat disuntik sudah..tp makanya masih sedikit..terakhir krn msh g doyan makan dirawat 4 hr tp g tertolong..sedih jg ibu walopun kucing rasanya kaya anggota keluarga..semogaa yaa kucing2 kita sudah berada d tempat yg baik..di sorga nya Allah swt..Aamiin YRA

    1. Sedih sekali pastinya, bu. Mereka sudah kita anggap keluarga sendiri karena cinta mereka ke kita tulus. Saya percaya itu. Tega sekali yg ngeracun kucing ibu. Dua kucing saya juga mati digigit anjing tetangga. Sediihh sekali rasanya, tp gak bisa nuntut apa2 :(

  10. Kucingku juga baru aja mati seminggu yg lalu tepat di hari Jum’at Legi jam 1 malam. Dia adalah kucingku satu-satunya N sangaat aq sayangi melebihi diriku sendiri. Sekarang dia sudah gak ada…hidupku sangat kesepian dan bertambah sepi gak ada dia :( kucing yg setiap harinya nemenin aq,menghiburku,bermain-main denganku skrg sudah gak ada :( rasanya aq gak mau hidup lagi :( Kembalikan kucingku Ya Allaah kembalikan kucingku!!! :( :(

  11. Kasusnya sama kayak Mola kucingku umurnya masih 4 bulan. Jadi mola itu adlh kado ulang tahun dari pacarku. Dia mulai muntah2 di hari ke 5 ada dirumahku :( awalnya di hari pertama dia masih lincah, lari2an, suka manja. Ga taunya di hari sabtu dia mulai parah sakitnya. Selain muntah dia jg gamau makan minum sma sekali, dan diare keluar dgn sendirinya tanpa mola sadari. Sudah aku bawa ke dokter hewan disuntik diberi resep obat. Tapi jg sama aja kondisinya ga ngaruh sma sekali waktu aku minumin obat :( akhirnya sorenya aku bawa ke klinik. Mola di opname. Dan dokternya bilang mola kena virus mematikan dan kondisi tubuhnya sangat menurun.Aku pun ikut masuk ke ruangan mola jd ruangannya emg terisolasi khusus utk kucing yg kena virus menular. Aku tungguin stgh jam disitu sambil elus2 mola aku nangis ga karu2an ga tega liat kondisinya dia lemeeeesssss bgt :'(((( akhirnya aku pulang. Ga lama, hanya dlm waktu 4 jam , aku dpt telfon dari dokter kliniknya kalo mola ga bisa survive……… Rasanya kakiku langsung lemes, sakit bgt rasanya, nangis berkepanjangan sampe pagi. Tidur pun susah krn kepikiran mola. Paginya jam stgh 9 aku jemput mola di klinik. Aku ga bisa nahan tangisku ngeliat mola udah ga ada :'(((((((( dia memang ga sampe seminggu ada dirumahku tapi aku udah sayang baget sama mola. Sejak mola gaada rasanya udah kyk ga semangat lagi idup. Nangisin dia terus. Semoga mola bahagia di surga :’))

  12. SEKELUMIT CERITA BELO, KUCING KAMI YANG MANIS DAN LUCU

    Hai, aku kucing betina yang lahir disalah satu sudut kota Jakarta. Kami lahir ditanah kosong yang penuh pepohonan. Aku punya satu saudara yang juga dilahirkan bersamaku. Induk sangat menyayangi kami. Kami dirawat dengan penuh kasih sayang. Jika kami lapar induk segera menyusui hingga kami kenyang.

    Kami juga selalu bermanja-manja. Kalau sudah begitu induk langsung menjilati kami. Hangat rasanya. Selama tinggal ditanah kosong tidak ada yang mengganggu kami karena lokasi tanah kosong agak jauh dari keramaian. Itulah masa-masa awal kami didunia.

    Beberapa hari setelah lahir, tepatnya pada 21 Februari 2016, kami dibawa oleh induk ke salah satu rumah yang terletak didepan tanah kosong. Satu persatu kami “digendong”. Kami pindah karena sering hujan dan pohon-pohon tidak mampu melindungi kami dari air yang turun sangat deras. Badan kami basah dan kamipun kedinginan.

    Induk memilihkan tempat yang nyaman, yaitu teras rumah yang ukurannya tidak begitu besar. Aku dan saudaraku sangat senang berada diteras rumah itu karena terasa lebih hangat. Kami tidak lagi kebasahan walau hujan deras.

    Ketika kami sedang menikmati suasana teras tiba-tiba dari arah jalan datang seorang perempuan paruh baya melangkah menuju rumah yang terasnya kami tempati. Ia lalu membuka pintu gerbang. Induk yang sedang tidur-tiduran dengan sigap mendongakkan kepala. Matanya menatap tajam ke arah perempuan itu.

    Perempuan itu lalu melangkah masuk dan tatapannya langsung mengarah ke kami. Spontan ia berkata “Eeeeh…. ada kucing”. Mendengar suara itu induk mengeong. Perempuan itu kemudian menghampiri kami, mengelus-elus kami dan membawa kami masuk kerumah. Sejak saat itulah kami tinggal dirumah itu.

    Didalam rumah kami bertemu dua kucing jantan dewasa yang juga dirawat oleh perempuan itu. Tubuh mereka besar dan kuat, berbeda jauh dengan badanku dan saudaraku yang masih sangat kecil dan lemah. Selain bertemu dengan dua kucing jantan, kami juga bertemu anggota keluarga lainnya.

    Tinggal dirumah itu menjadikan kami kucing yang memiliki nama. Oleh anggota keluarga aku dipanggil Belo, saudaraku dipanggil Kelly dan induk dipanggil Cimi. Belakangan aku juga tahu nama dua kucing jantan. Mereka bernama Cico dan Titiw.

    Beberapa minggu setelah tinggal dirumah itu Kelly sakit. Ia tidak mau makan walaupun disuapi secara paksa. Ia juga tidak mau menelan air susu atau air putih sekalipun. Karena Kelly tidak mau makan dan minum tubuhnya makin lunglai. Seluruh anggota keluarga panik. Ketika itu hari sudah mulai larut malam. Dari pembicaraan mereka aku dengar besok pagi-pagi sekali Kelly akan dibawa ke dokter.

    Senin dinihari, 14 Maret 2016, detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam berlalu. Mendekati waktu subuh Kelly tidak lagi kuat menahan sakit. Aku dan induk ada disamping Kelly ketika ia meregang nyawa. Tidak berapa lama kemudian Kelly mati. Aku dan induk sangat sedih dengan kepergian Kelly. Induk tak henti menjilati tubuh Kelly. Karena tubuh Kelly tidak bergerak sama sekali induk akhirnya duduk terdiam disisi Kelly.

    Matahari bersinar. Aktifitas anggota keluarga mulai terasa. Suasana menjadi gaduh ketika seluruh anggota keluarga mengetahui Kelly mati. Mereka menangisi kepergian Kelly. Kelly lalu dikubur dihalaman rumah depan teras. Sejak saat itu aku mulai mengerti arti teras, tempat yang mengingatkan kebersamaanku dengan Kelly. Selamat jalan Kelly.

    Setelah kepergian Kelly, aku merasa suasana rumah menjadi sepi. Hanya Kelly teman bermainku. Jika aku kesepian induk langsung menghiburku. Aku dijilati dan diajak bermain. Jika sudah begitu rasa sedih dan sepipun hilang. Aku juga sempat sakit dan dibawa ke dokter. Pemeriksaan pertama aku diberi obat. Setelah itu aku dibawa lagi ke dokter untuk memastikan kondisi kesehatanku. Lebih dari dua kali aku ke dokter dan Alhamdulillah aku sehat lagi.

    Waktu terus berlalu. Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Induk hamil lagi. Aku senang bukan kepalang karena akan mendapat adik. Suasana rumah tentunya tidak sepi lagi.

    Benar saja. Pada 28 juni 2016 (Ramadhan 1437 H), induk melahirkan enam kucing. Wow, aku merasa takjub mendapat adik begitu banyak. Induk sangat menyayangi mereka. Sama seperti aku dulu, adik-adik selalu disusui, dijilati dan dijaga sepanjang waktu. Oleh anggota keluarga mereka diberi nama Kitty, Pucih, Icem, Miaw, Ige dan Lico.

    Tapi sayang tidak semua adik-adikku bisa bertahan hidup. Kitty dan Miaw mati karena sakit mendadak. Kitty mati pada 23 Juli 2016 dan Miaw mati pada 27 Juli 2016. Mereka dikubur dihalaman depan teras tidak jauh dari kubur Kelly. Lagi-lagi teras itu mengingatkanku pada awal-awal aku tinggal dirumah ini.

    Itulah sekelumit kisah yang diceritakan oleh Belo, kucing kami yang manis dan lucu. September 2016 Belo hamil. Sebenarnya Belo sangat muda untuk hamil. Tingkahnya masih kekanakan. Ia masih senang bermain, berlari kian kemari dan berlompat-lompatan. Karena janinnya belum kuat akhirnya Belo keguguran. Jabang bayi yang ada dirahimnya mati dan meracuni tubuh Belo.

    Senin, 17 Oktober 2016 adalah hari terakhir Belo didunia.

    Ada pesan dari Belo yang ditinggalkan untuk kami sekeluarga.

    Hai Bunda, Ayah, Kak Icha dan Mas Adi.
    Aku pamit ke surga, ya.
    Terima kasih udah merawat aku.

    Aku titip Mami Cimi yang udah ngelahirin aku, ya.
    Aku juga titip Pucih, Icem, Ige dan Lico dan kucing lainnya.
    Semoga mereka panjang umur dan sehat.
    Semoga juga mereka selalu dalam pelukan hangat Bunda, Ayah, Kak Icha dan Mas Adi.

    Aku ke surga nggak sendirian, tapi aku bawa anak-anakku.
    Aku senang “tidur” dihalaman depan teras bersama saudara-saudaraku yang lebih dulu “pergi”.
    Betapa senang tinggal diteras, apalagi diperbolehkan masuk ke rumah.

    Kini dari halaman depan teras aku bisa lihat Bunda, Ayah, Kak Icha dan Mas Adi berangkat beraktifitas.
    Aku juga bisa lihat Bunda, Ayah, Kak Icha dan Mas Adi pulang dari bepergian.

    Udah, ya.
    Aku mau tidur panjang. Dah, semuaaa…..

    Salam,
    Belo

    Pada 22 Oktober 2016 Icem menyusul Kelly, Kitty, Miaw dan Belo ke surga. Icem mati karena sakit. Ia menghembuskan nafas terakhir diperjalanan menuju ke dokter.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s