Diary · Foto

Memotret dengan Kamera Hape 3

Beberapa hari yang lalu, ada seorang lagi yang bertanya di FB saya, “Senjatanya apa, sis? Kok fotonya bagus-bagus?”. Ia bertanya seperti itu setelah melihat-lihat album foto saya di Facebook. Saya menghela nafas panjang. Satu lagi nih yang masih menyamakan fotografi dengan kamera.

Seperti yang pernah saya tulis di sini dan di sini, saya tidak menilai bagus/tidaknya hasil foto dari ‘senjata’nya. Pernah dengar gak, salah satu prinsip dalam fotografi, “It’s the man behind the gun, that matters”. Orang yang menekan shutter kamera itulah yang menentukan bagus tidaknya sebuah foto.

Bagi saya, inti dari fotografi bukan dari kamera yang kita pakai. Gambar yang sebenarnya, dijepret oleh mata kita dan diproses oleh otak. Kamera, photoshop, photoscape, bahkan yang belakangan ngetren Instagram, hanyalah alat untuk mewujudkan gambar di dalam otak kita itu menjadi nyata.

Makanya, sedih banget saat belakangan ini saya mendengar pemilik iphone mencak-mencak saat tahu Instagram bisa digunakan oleh pemilik android. Kabarnya mereka merasa kalau lensa ‘murah’ android menjatuhkan image keren Instagram. *geleng-geleng kepala*

Oke, balik lagi ke masalah semula, It doesn’t matter what kind of tool that you use to take pictures. Mau Nikon kek, Canon kek, iPhone kek, Android kek, atau Nokia jadul-dengan-lensa-cuma-2MP-dan-bukan-Carl Zeiss punya saya ( :p ), kalau kita gak tahu cara memakainya, ya percuma aja. Jadi, yang terpenting adalah tahu terlebih dahulu apa kelebihan dan kekurangan alat yang kita pakai.

Misalnya, dengan kamera hape saya yang cuma 2MP itu, tentu saya gak maksimal mengambil gambar dengan jarak yang jauh. Hasilnya pun gak setajam kalau gambar yang sama diambil dengan kamera SLR, apalagi dengan penerangan terbatas. Tapi, bukan berarti hasil yang dihasilkan menjadi lebih buruk. Kalau si pengguna SLR gak tahu teknik fotografi yang baik, gak mengenal kameranya sendiri secara mendalam, gak tahu pesan apa yang mau ditampilkan dalam gambar yang dia jepret, bukan tidak mungkin hasil dari kamera hape murahan melampaui hasil dari SLR. Bukankah ide datangnya dari otak manusia? Wah, saya akan merasa terhina kalau ide dalam otak saya dikotak-kotakkan dalam jenis kamera yang saya pakai. Saya gak mau dong kalau orang melihat hasil foto saya dan berkata, ‘Oh dia kalau moto pake SLR bagus, tapi kalo moto pake hape jelek. Wajar sih, kan make kamera hape’. Terhina banget!

Jadi, janganlah berpikiran sempit dengan mengotak-ngotakkan fotografi berdasarkan alat yang kita gunakan. Pandang orangnya. Pandang hasilnya. Hormati pilihan setiap orang. Oke? ;)

Nah, biar gak panas setelah membaca postingan saya, mari kita lihat foto-foto yang saya ambil dari kamera Nokia E63 milik saya. Iya, yang cuma 2MP dan bukan Carl Zeiss itu :p . Saya bukan fotografer professional sih, tapi seenggaknya saya punya ide yang saya tuangkan dalam gambar yang saya ambil :)

Story: Foto ini saya ambil sehabis jogging sore hari di pantai dekat rumah. Si empunya sepeda menyandarkan sepeda miliknya di salah satu pohon bakau. Saya mengambilnya dengan prinsip 1/3

Story: Di sepanjang jalan setapak di pantai Nusa Dua, terdapat lampu-lampu penerangan yang berjajar. Lampu-lampu ini hanya setinggi 1 meter dari atas tanah dan sebenarnya seharusnya difungsikan dengan menggunakan lilin. Namun, kini fungsi penerangan telah digantikan oleh lampu listrik yang diinstalasi di dalam lampu itu dan meninggalkan ruang kosong di tengahnya. Idenya, saya menggunakan ruang kosong itu sebagai ‘objek’ dengan ornamen lampu sebagai bingkai. Dan, kalau mau diproses lebih lanjut di photoshop, mungkin bisa menjadi seperti ini:

 

Story: Ini cuma dedaunan kering biasa, sih. Tapi, saya melihat beberapa kali di majalah, beberapa foto tentang dedaunan yang jatuh musim gugur. Iri sebenarnya karena gak pernah punya kesempatan untuk mengabadikan foto serupa. Jadi, saya ambil saja foto sampah dedaunan kering yang teronggok di salah satu sudut taman. Saya close up, lalu saya proses dengan photoscape sehingga menjadi seperti itu.

Story: saat sedang berjalan menyusuri jalan setapak, saya melihat sebuah layang-layang yang tersangkut di dahan pohon. Layang-layang yang terkoyak dan tampak kesepian itu seperti sedang terjaring dalam jemari menakutkan yang diwakili oleh dahan pohon tanpa dedaunan.

Nah, sekian dulu postingan ‘panas’ saya tentang memotret dengan kamera hape *kipas-kipas*. Semoga yang baca gak ikutan panas dan balik nyolot ke saya. Haha… Kabur dulu ah, kalau gitu. Peace and… ciao~ ^___^v

6 thoughts on “Memotret dengan Kamera Hape 3

  1. keren fotonya (y) Yap, mau kameranya secanggih apapun tapi kalo si pengguna tidak tau teknik yang baik, hasil fotonya akan terlihat biasa saja. Beda jika si pengguna mengerti tekniknya, walaupun menggunakan kamera yang megapixelnya kecil, insyaAllah hasilnya bagus ;;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s