Diary

Rumah Hantu

Saya selalu heran saat melewati rumah itu, menatapnya tak mengerti mengapa rumah seindah itu tak jua ada yang bersedia membelinya.

“Itu rumah hantu, Mir”, ujar tante Yayuk berusaha memuaskan rasa ingin tahu saya. Tapi, penjelasannya justru membuat saya semakin penasaran.

“Rumah hantu? Kok bisa disebut begitu?”

“Iya. Katanya dulu pemilik sebelumnya meninggal tak wajar di sana. Lalu…”, ia tak meneruskan perkataannya.

“Lalu apa, tante?”, desakku.

“Katanya pernah ada orang hilang di sana”

Pupil mataku membesar. Orang hilang? Bagaimana bisa ada orang hilang di sebuah rumah?

Tante Yayuk pun melanjutkan ceritanya. “Jadi, dulu katanya ada tiga orang anak kecil sedang bermain bola di halaman rumah kosong itu. Tanpa sengaja bola itu tersepak masuk ke dalam rumah. Seorang dari mereka pergi ke dalam untuk mengambilnya. Lama ditunggu, ia tak pernah keluar lagi. Karena cemas, kedua temannya pun menyusul masuk. Tapi, mereka juga tak pernah keluar lagi”.

Aku menenggak ludah.

“Penduduk yang tahu kehilangan ketiga anak itu, berusaha mencari mereka dan masuk ke dalam rumah. Namun yang mereka temukan hanya bola sepak itu saja, tanpa kehadiran mereka bertiga.

Bulu kudukku mulai meremang.

“Rumah ini terkenal lho, Mir”, lanjutnya lagi. “Pernah jadi tempat syuting uka-uka”.
Aku langsung teringat sebuah acara uji keberanian di sebuah stasiun tv swasta beberapa tahun lalu.

“Jadi, siapa pemilik rumah ini sekarang?”, tanyaku.

“Entahlah. Sedari dulu rumah ini ingin dijual oleh pemiliknya yang entah siapa, tapi tak pernah laku”, ujar tanteku sambil memandang spanduk “Dijual” yang memang tampak sudah lusuh.

***

Sejak rumah Eyang Putri di Solo terjual dan beliau pindah ke Surabaya, sudah beberapa tahun saya tak pernah mengunjungi kota itu. Baru tahun ini saya mendapat kesempatan itu lagi. Entah kebetulan atau apa, saya menginap di hotel yang letaknya tak jauh dari rumah itu. Sehingga, tiap kali pergi keluar, kami hampir selalu melewatinya.

Ia masih berdiri kokoh di sana, menantang siapa pun untuk memasukinya. Namun entah bagaimana, kini ia seperti memanggil saya. Saya tak lagi melihatnya layaknya sebuah rumah yang menakutkan. Meski bertahun-tahun tak didiami, ia tetap bersih. Tak ada sawang laba-laba. Tak pula ada tanaman liar merambati dindingnya.. Tanaman yang ada di halaman pun tak kering meranggas meski saat itu musim kemarau dan hujan tak pernah turun.

Tidak. Saya tidak turun dan menyambanginya. Nyali saya masih terlalu ciut untuk itu. Saya hanya berani mengabadikannya dalam beberapa jepretan kamera.

Selamat jalan, Ghost House. Entah berapa tahun lagi saya dapat melihatmu kembali. Mungkin saat itu kau sudah dibeli oleh seseorang. Mungkin nanti kau akan rata dengan tanah dan di atasmu akan dibangun gedung yang baru. Walau saya tahu, entah kenapa saya akan merindukan sosokmu yang anggun itu.

PS: setelah beberapa hari berselang dan ingin memindahkan foto-foto dari kamera ke laptop, saya terkejut saat melihat foto-foto rumah itu. Saya yakin kalau saya telah mengambil gambar dari beberapa sisi di dalam mobil yang melaju perlahan. Saya juga yakin telah melihat kembali hasilnya setelah foto terambil. Lalu, mengapa hanya ada tiga gambar saja? Mengapa ketiga gambar yang terambil itu semuanya hanya dari satu sudut saja?

Saya tertawa. Baiklah, kalau hanya ini yang ‘boleh’ saya ambil gambarnya.

5 thoughts on “Rumah Hantu

  1. Saya suka rumah kuno seperti ini. Ada kesan romantis masa lalu yang kuat, membuat saya membayangkan zaman apa saja yang telah dilalui rumah itu, apa saja yang telah disaksikannya, bagaimana kehidupan penghuninya, dst. Kesan masa lalu itulah yang menurut saya menambah kesan “kuat” dari sebuah rumah, yang mungkin oleh umum disebut angker. Setiap rumah pasti ada penghuninya, toh? Mungkin yang menghuni rumah ini pun berasal dari zaman abad silam, masa di mana raja-raja dan ratu-ratu berkuasa. Menarik :)

    1. Sepertinya rumah ini gak setua itu deh, Jeng. Arsitekturnya bukan arsitektur jaman Belanda. Menurut perkiraan saya, mungkin dibangunnya sekitar tahun 50-an (mungkin, lho).
      Tapi, mungkin bener ada ‘penghuni’nya. Soalnya rumahnya terlihat ‘bersih’. Ada yang bilang, kalo rumah ada penghuninya, maka rumah itu akan terlihat bersih. Mungkin karena ada energi di dalamnya kali, ya. *teori asal* :p

    1. Menurut saya juga gak seseram itu sih, mbak. Penampilannya anggun sekaligus kokoh. Jendelanya terpacang kaca nako warna-warni, meski beberapa tampak pecah seperti dilempar orang dari luar.
      Rumah ini juga sangat besar (mungkin sekitar 6 are), terbagi menjadi 2 bagian. Bagian depan dan belakang sepertinya tehubung oleh selasar terbuka. Bagian belakang lebih terlihat seperti benteng (bentuknya seperti benteng). Saya lebih penasaran dengan bagian belakangnya, terutama. Bentuknya tidak match sama bagian depan rumah.
      Hehe… saya tahu banyak karena rumah ini letaknya pas di ujung jalan, mbak. Pagarnya juga tidak terlalu tinggi dan tidak tertutup rapat, jadi masih bisa diintip dari luar.
      Ah, saya jadi makin penasaran nih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s