Diary

Mudik, Yuk!

Akhirnya, setelah didesak berkali-kali, sang menteri rumah tangga alias ibu saya mengeluarkan juga rencana mudik tahun ini. Tertera dalam selembar kertas HVS folio tanggal serta tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Saya sedikit memicingkan mata membacanya. Bukan apa-apa, tapi tulisan tangan ibu saya ini memang unik alias susah dibaca. Tidak heran kalau saya dan Bapak sering salah membacanya. Kami selalu terbalik mengartikan yang mana huruf “I” , “S”, “P”, “T”, “J” karena bentuk mereka mirip-mirip jika ibu yang menuliskannya.

Oke, balik ke masalah mudik. Jadi, rencananya kami (Bapak, Ibu, dan saya) akan berangkat dengan mobil pribadi pada hari Senin minggu depan. Yup, sehari sebelum hari H. Dengan anggapan kalau puncak mudik adalah hari Sabtu-Minggu, kami sungguh berharap kepadatan akan berkurang di hari Senin (Ya Allah, kabulkanlah ini…Amin). Tapi, yang membuat saya ragu adalah rute mudik tahun ini. Dengan waktu kurang lebih sepekan, kami harus menempuh rute Bali-Surabaya-Solo-Blora-Bali. Praktis waktu yang kami habiskan di masing-masing tempat itu hanya sehari sampai dua hari saja. Langsung kebayang capeknya…

Hehe… tapi, karena peristiwa ini mungkin hanya setahun sekali, yaa… dinikmati saja. Misalnya, daripada mengeluh membayangkan lelahnya perjalanan, lebih baik mulai membayangkan apa yang akan dilakukan di sana. Kalau di Surabaya sih, sudah pasti akan sungkem-sungkeman sama Eyang Putri dan keluarga besar. Kalau di Blora, pasti nyekar ke makam Kakek-Nenek dari pihak Bapak. Mungkin juga napak tilas perjalanan Bapak semasa kecil di sana (Asyikk… nostalgia. Saya paling senang diceritakan masa kecil Bapak dan Ibu).

Nah, kalau di Solo, selain nyekar ke makam Eyang Kakung dari pihak ibu, langsung kebayang makanan enak yang ada di kota itu. Serabi dan Bakso di kawasan Notosuman, Serundeng dan Abon-nya Pak Mesran… nyam… nyam… . Belum lagi sebenarnya saya punya keinginan terpendam di kota itu, yaitu naik bus tingkat! Haha… Saya ingin sekali menikmati kota Solo sembari duduk di tingkat atas bus kota itu yang terkenal kini sebagai satu-satunya bus tingkat di Indonesia (setelah keberadaannya di Jakarta dihapuskan). Saya ingin tahu rupa kota kelahiran ibu saya itu sekarang. Katanya, sudah banyak berubah dan semakin cantik setelah berganti pimpinan.

Aahh… membayangkan semua itu saya jadi makin tidak sabar saja untuk mudik… >.<

 

PS: ngomong-ngomong soal mudik, tentu tidak lepas dari persiapan menjelang keberangkatan. Maksudnya, gimana caranya biar kerjaan selesai sebelum hari keberangkatan. Aduh, belakangan saya sibuk sekali mengurusi masalah kerjaan ini. Sibuk menyelesaikan tagihan, sibuk menukarkan nota dengan tanda terima, sibuk dengan pengiriman barang, sibuk mengejar target penjualan, sibuk cari uang untuk gajian dan THR karyawan. Sibuk sampai rasanya tidak bisa bernafas sekarang. Untungnya masih bisa nulis di sini. Setidaknya dengan menulis, uneg-uneg saya bisa terangkat sedikit. Fiuhh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s