Diary

Debat

Saya dulu pernah bilang kalau semasa SMA saya pernah bergabung dengan kelompok ilmiah remaja. Saat masih menjadi anggota KISS-1 (Kelompok Ilmiah Siswa SMU 1 Denpasar), kami semua dilatih untuk berdebat. Selain diajari untuk mengungkapkan pendapat, memang latihan semacam ini diperlukan untuk mencari calon-calon yang akan diikutkan dalam lomba debat antar SMA kelak.

Saya memang bukan anggota inti debat, tapi melalui banyak latihan serta menonton lomba-lomba debat, saya mendapat banyak pelajaran tentang adu argumentasi. Saya ingin membaginya sedikit di sini. Tapi, kalau bertentangan dengan ilmu debat, saya jangan didebat ya. Sekali lagi, ini hanya pelajaran yang saya dapat dari menyaksikan debat. :)

Hindari debat kusir

Tahu debat kusir? Debat kusir adalah saling berbantah-bantahan secara agresif (bahkan terdengar seperti sedang bertengkar). Para pelaku lebih mementingkan ‘kemenangan’ dalam artian lawannya tidak sanggup berkata balik. Ia menggunakan segala macam cara, termasuk membalik kata-kata lawannya. Tapi buruknya, debat kusir telah melanggar banyak aturan dari adu argumen. Dia menolak untuk mendengarkan perkataan lawan debatnya secara utuh, dan hanya memilih kalimat-kalimat yang bisa ia pakai untuk menyerang balik. Debat semacam ini pada akhirnya bukannya melahirkan solusi, tapi malah melenceng jauh dari permasalahan yang sebenarnya.

Keep your voice low

Sudah jamak terjadi dalam lomba debat peserta lama kelamaan akan meninggikan suaranya. Mungkin karena emosi, tidak mau kalah, atau justru terpengaruh lawannya yang mulai meninggikan suaranya. Akibatnya, selain acara debat menjadi memanas, mungkin saja setelah acara selesai para peserta mengalami sakit tenggorokan. hehe.

Okay, this is how it works. Sangat wajar terjadi jika kita meninggikan suara saat sedang emosi. Dan, wajar juga kalau sadar tidak sadar kita makin emosi saat mendengar lawan meninggikan suaranya. Jadi, sangat penting… catat, SANGAT PENTING bagi kita untuk tetap menjaga emosi masing-masing. Tetap tenang, dengarkan argumen lawan dengan baik, lalu jawablah dengan tenang dan berwibawa. Intinya begini, jangan terbawa emosi lawan, tapi bawalah lawan terbawa arus emosi kita yang tenang. Saat kita bicara dengan tenang dan jelas, percayalah kalau mereka yang tadinya menggebu ingin mengalahkan kita, akan turun semangatnya saat melihat kita adem ayem saja saat membalas perkataannya. Dan, itu merupakan sebuah nilai tambah dari sebuah debat.

Kenali musuhmu

Tak ada cara yang lebih baik untuk mengenali musuhmu selain dengan cara mendengarkan mereka. Dengarkan semua yang mereka katakan dengan seksama. Catat poin-poin penting dari argumen mereka. Apa yang membuat mereka yakin, dan apa yang membuat mereka ragu. Di sini, penting sekali kemampuan untuk membaca bahasa tubuh. Saat mengungkapkan bagian apa dari argumen mereka yang membuat mereka gugup, di situlah letak keraguannya. Pahami maksud mereka dengan baik kalau perlu tanyalah untuk memastikannya.

Win the crowd

Nah, setelah semua hal di atas dilakukan, yaitu menghindari debat kusir yang tak berkesudahan, menjaga intonasi suara tetap rendah dan tenang, serta mampu memahami argumen lawan dengan baik, kini saatnya mendebat. Ingat, hindari debat yang mengarah pada pertengkaran. Percaya atau tidak, penonton tidak menyukai permusuhan. Mereka ingin menonton debat yang penuh adu argumen pintar dan berujung pada suatu kesimpulan solusi. Karena itu, saat mendebat, berilah penekanan pada pemberian solusi atau jalan keluar daripada niat untuk membungkam lawan. Saat mereka terpana, menganggukkan kepala tanda menimbang-nimbang kebenaran argumenmu, maka saat itulah kamu menang. Kamu sudah memenangkan hati mereka. Remember, the ones that get more sympathy are the real winners, cause they have crowd’s heart. And, who can beat that?

Grab your enemy’s heart

Pada dasarnya, manusia itu senang jika ada yang memahami mereka. Dan, akan bersikap membela diri saat ada yang menentang mereka. Jadi, dibanding ingin mengalahkan mereka, berusahalah memahaminya. Pahami latar belakang argumen mereka, dan yang paling penting adalah apa yang mereka rasakan. Saat mereka merasa dipahami itulah saat mereka membuka diri lebih lebar. Dan, saat lomba, walau mereka tetap berusaha mementahkan argumenmu, dalam hati mereka telah berpihak padamu. Dan, bagiku itu sudah cukup untuk memenangkan debat.

Mungkin cara-cara yang saya kemukakan di atas berlawanan dengan teori debat yang ingin mementahkan argumen lawan dengan cara apa saja, ya. Yah, soalnya saya tidak suka menghabiskan banyak energi untuk bertengkar. Saya juga lebih cenderung mencari kawan daripada lawan. Lalu, bagi saya pencarian solusi lebih penting daripada membungkam lawan. Saya ini kan cinta damai. (^.^)v

sumber gambar dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s