Cerita · Diary · Postingan GaJe · Puisi

Lelaki Berbaju Biru

Lelaki berbaju biru, mengetuk daun jendela. Dari balik kaca aku memandang raut wajahnya. Kaku, muram tanpa senyuman.

Kubuka jendela dan bertanya, “Ada apa?”

Ia hanya bergumam, “Tidak ada”.

“Lalu, mengapa kau mengetuknya?”, tanyaku heran.

Dengan tatapan suramnya, ia menjawab, “Aku hanya ingin bercerita. Kau mau mendengarnya?”

Tanpa menunggu persetujuanku, ceritanya mengalir bagai sungai. Tak ada jeda untukku menyela.

Ia bercerita tentang berita dari tanah jauh, tentang amarahnya, tentang beban di pundaknya. Aku sesak nafas mendengar kata-katanya. Tetap tak berani untuk menyela.

Setelah sekian lama ia bercerita, tiba-tiba ia berhenti berkata. “Kenapa?”, tanyaku. “Apakah ada kataku yang tak berkenan?”, ujarku lagi. Walau aku yakin tak berkomentar apa-apa sedari tadi. “Adakah tingkah lakuku yang membuatmu terluka?”, aku mulai gugup.

Namun, dia hanya terdiam. Lalu, perlahan menjauhi jendela tempat kami bersua. Masih tanpa suara.

Setelah memandangku untuk terakhir kalinya, ia berbalik badan. Kemudian melangkah pergi.

Kupandang sosoknya yang mulai mengecil. Berharap setidaknya ia berpaling sebentar dan mengucapkan kata kembali. Namun, langkahnya tetap dan pasti, seperti tak pernah terjadi apapun tadi.

Lelaki berbaju biru, yang mengetuk daun jendelaku. Ia tidak meninggalkan apapun untukku. Hanya mengambil sebagian hatiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s