Diary · Renungan

Beauty is Pain?

Sejujurnya, saya muak dengan berbagai iklan kecantikan di media. Iklan yang menampilkan sosok model bertipe sama. Kurus. Tinggi. Langsing. Putih.  Seolah menegaskan kalau demikianlah seharusnya yang dikatakan cantik. Tidak peduli bagaimana sifatnya, atau seburuk apa hatinya, jika ia memiliki kriteria seperti itu, maka ia cantik. Titik.

Para pengiklan dan para produsen kosmetik itu tentu sadar kalau bombardir iklan secara terus-menerus bisa mengubah persepsi seseorang. Misalnya, seorang wanita yang telah nyaman dengan kondisi tubuhnya, akan merasa resah dan tidak percaya diri karena membandingkan dirinya dengan citra yang ada di iklan.

Terus terang, alasan saya menulis ini saat ini adalah karena pertanyaan mengusik salah seorang teman di ruang chatting. Dia bertanya saat itu, “Menurutmu lebih buruk mana, diet kesehatan atau menderita kelainan makan?”

Saya tidak mengerti. “Bagaimana bisa diet untuk kesehatan dikatakan buruk?”

Dia menjelaskan, kalau diet yang awalnya dijalani untuk kesehatan, pada akhirnya hanya membuatnya menderita kelainan makan.

Masih belum mengerti, saya bertanya lagi, “Bagaimana bisa?”.

Akhirnya, ia menjelaskan kalau pada awalnya ia sangat ingin menurunkan berat badan. Ia mencoba segala macam cara agar berhasil. Tapi, pada akhirnya ia menderita bulimia. Jadi, saudaranya menyarankan agar ia melakukan diet yang sehat. Namun, karena ia mengaku tidak bisa menolak makanan, ia pun akhirnya memakan makanan yang sebetulnya dilarang dalam diet itu. Karena merasa bersalah telah memakannya, ia memuntahkannya kembali. Begitulah selalu siklus itu kembali terulang. Akhirnya, ia mengambil kesimpulan kalau semua diet, apapun alasannya, itu tidak baik.

Saya menghela nafas panjang saat membacanya. Saya tahu perasaannya. Saya juga tahu kalau bukan itu permasalahan yang sebenarnya. Jadi, saya katakan padanya, “Girl, bukan diet yang menjadi permasalahan yang sesungguhnya. Tapi, apa yang kamu rasakan di dalam”.

Itu benar, kan? Selama kita merasa tidak nyaman dengan diri kita, apapun yang kita lakukan takkan pernah terasa benar.

Saya tidak bicara omong kosong, karena saya sendiri juga mengalaminya. Tidak, saya tidak mengalami bulimia. Dan, bukan pula anorexia. Tapi, saya seorang binge. Lain halnya dengan bulimia maupun anorexia, Binge Eating Disorder adalah kelainan makan yang jarang disebut-sebut, karena dianggap tidak berbahaya.

Bulimia (memuntahkan makanan yang sudah ia makan) dan Anorexia (menolak untuk makan sama sekali) bisa menyebabkan penderitanya mengalami kekurangan nutrisi. Tapi Binge, dimana penderitanya mengaitkan emosinya dengan makanan justru tidak mengalami itu. Ia cenderung makan banyak saat kondisi emosinya sedang tidak stabil. Ia merasa bersalah sesudah itu, tapi ia tidak memuntahkan makanannya.

Saya tahu kalau saya seorang Binge setelah membaca sebuah artikel di sebuah majalah. Saya kemudian menyadari sesuatu. Setiap saya merasa sedih, kesal, marah, yang saya pikirkan adalah makanan. Saya tahu terkadang saya tidak merasa lapar, tapi tetap saja yang saya inginkan adalah makan. Saya merasa makanan bisa membuat saya lebih tenang. Well, ini tidak sepenuhnya salah karena zat gula memang bisa menenangkan untuk sementara. Catat, UNTUK SEMENTARA.

Jadi, saat kondisi emosi saya buruk, saya cenderung gemuk. Dulu, sepanjang mengerjakan skripsi, berat badan saya naik sampai 10 kilo dalam waktu 1,5 tahun!

Setelah mengetahui hal ini, saya tahu yang menjadi masalah bukanlah tentang diet. Semua itu karena apa yang kita rasakan di dalam. Dan, membandingkan diri kita dengan para model kecantikan bukanlah cara yang sehat untuk menjadi cantik. Kita akan merasa insecure karena terus menerus merasa tidak cantik.

Sampai sekarang, saya masih berusaha untuk tidak mengaitkan makanan dengan segala naik turun emosi yang saya alami. Alih-alih, saya terus mencari hal-hal kecil yang bisa membuat saya bahagia. Hal-hal remeh yang bisa selalu membuat saya tersenyum dan tertawa dan tidak selalu berpikir tentang makanan. Tidak selalu berhasil memang, tapi setidaknya sekarang sudah lebih baik.

Beauty is pain. Really? I don’t believe it anymore. I’m beautiful, just the way I am. Note this: I. Am. Beautiful

One thought on “Beauty is Pain?

  1. i prefer to eat everything i wanna eat and exercise as much as i can to keep my body balanced :p

    well, not that i’m in an ideal shape (kelebihan lemak disana sini :p ) but still, i’m happy with my body ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s