Diary · Postingan GaJe

Brain vs Heart

Siang itu dia masuk ke dalam kamarku dengan wajah masam. “Kau bicara dengannya?”, tegurnya langsung.

Aku menutup novel yang kubaca dan menegakkan dudukku. “Hanya sebentar. Hanya masalah umum saja”, jawabku.

Ia terdiam, lalu duduk di tepi tempat tidur. “Aku tidak suka kau berhubungan dengan pria itu”, ujarnya cemas.

“Kenapa?”, tanyaku heran. Tidak biasanya ia se-overprotektif ini.

“Dia… berbahaya”.

Aku terkejut. Pria itu? Berbahaya? Sebelah mananya? Yang ku tahu pria itu memang kaku dan pendiam, tapi dia bukanlah seorang player. Aku dapat merasakannya.

Melihat wajah heranku ia menghela nafas panjang. “Well, bukan berbahaya dalam artian fisik. Dan, mungkin dia memang bukan seorang heart breaker”. Ia menghela nafas sekali lagi. “Tapi, dia tipe-mu. Dan buruknya, dia tidak mungkin bersamamu”.

Aku menatap kedua matanya. Aku tahu kalau perkataannya benar. Tapi, siapa yang bisa mencegah hati untuk memilih orang yang dia sukai?

“Jangan…”, dia menggeleng. “Jauhi dia”

Aku hanya bisa menunduk. “Jangan terlalu khawatir. Kata-kata sinisnya akan selalu jadi ‘racun'”, ujarku lesu.

Dia menatapku lama. “Kau selalu naif”, katanya. “Tidak mungkin seseorang terus-menerus berkata sinis. Dan, saat dia berkata manis, apa kau bisa menjamin kau takkan kembali jatuh hati padanya?”

Untuk kesekian kalinya, aku hanya bisa terdiam.

Kau benar. Kau selalu benar.


2 thoughts on “Brain vs Heart

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s