Diary

Pameran Hari #2

Manusia itu memang unik, ya. Di pameran kali ini saya berjumpa dengan bermacam-macam orang. Baik dari peserta pameran maupun pengunjung, ada saja yang memiliki sifat dan perilaku tidak biasa.

Ibu Alice.

Ibu Alice Hanafi adalah pengusaha manisan dari Surabaya. Ia yang juga mitra binaan bank yang sama dengan saya, membawa produk khas manisan buatan tangannya sendiri. Stand-nya pun bersebelahan dengan stand kami.

Tapi, jangan bandingkan manisannya dengan manisan lain. Produknya sangat unik. Coba, dimana kalian pernah melihat ada orang yang membuat manisan dari cabe, pare, dan labu siam? Gara-gara keunikannya ini, ia pernah diwawancara oleh beberapa tabloid wirausaha. Ia juga pernah masuk di acara “Susahnya Jadi Pegawai” (Trans TV) dan “Laptop Si Unyil” (Trans 7). Karena itulah, pada waktu hari pertama banyak yang ingin berfoto dengannya karena menganggapnya selebritis. haha.

Namun, saya salut dengannya. Ia tak pernah pelit berbagi ilmu. Tanya saja padanya semua resep manisan itu, maka ia akan memberitahu semuanya. Ia bilang, “Rejeki itu sudah ada yang mengatur. Toh, walau ditutupi sekarang, kalau Si Pengatur Rizqi berkehendak, orang lain akan tahu dari tempat lain juga”.

Ibu Malino

Aduh, maafkan otak saya yang pelupa. Saya benar-benar tidak ingat nama ibu yang satu ini. Yang pasti, karena asalnya dari Malino-Makassar, maka saya sebut saja dia Ibu Malino, ya.

Ia juga mitra binaan bank yang sama dengan saya, dan standnya tepat di samping stand Ibu Alice. Produknya adalah oleh-oleh khas Makassar, terutama sirup Markisa.

Ibu Malino ini sangat lugu. Walaupun omzetnya di Malino sana bisa mencapai belasan juta per hari, ia sangat buta dengan kehidupan kota besar. Saat tahu kalau dirinya menempati lantai 10 di Hotel Ibis, ia dan suaminya tidak bisa tidur semalaman. Katanya dengan logat Makassar yang khas, “Bagaimana nanti kalau gempa? Bisa mati kita”. Suaminya bahkan takut memandang keluar jendela karena takut terjatuh.

Wah, saya benar-benar bersyukur dia menjadi mitra binaan di bawah bank yang sekarang ini. Dengan perhatian seperti ini, mereka menjadi tidak takut tersasar di Jakarta karena diantar-jemput ke JCC. Dan, keluguan mereka tidak menjadi bulan-bulanan kerasnya kehidupan ibukota.

Pengunjung.

Jangan tanya lagi keunikan para pengunjung. Dengan melintasnya banyak orang di depan stand, baik mampir maupun tidak, ada banyak sekali tipe pengunjung yang datang. Ada yang seharian berada di sana. Entah mereka sebenarnya kerja apa, tetapi bertanya-tanya tidak karuan ke sana kemari.

Ada juga yang saya sebut, Pencicip Tester Gratisan. Mereka adalah orang yang bolak-balik mengunjungi stand makanan, berkali-kali mencoba tester gratis, lalu pergi. Yang lebih lucu lagi, ada beberapa orang yang melakukan seperti itu, lalu kami sarankan untuk membelinya. Ada saja alasan mereka untuk mengelak. Saat di stand saya dan mencoba kacang bawang, ia bilang tidak bisa membeli karena sakit asam urat, tapi kacangnya dicoba juga. Lalu, saat mampir di stand Ibu Alice, ia bilang sakit kencing manis, tapi testernya dimakan juga. Dan, saat mampir di stand brownies kering, ia bilang sakit gula, tapi ia bicara begitu sambil terus mengemil tester brownies kering sampai habis setengah toples. Haha… lapar apa doyan, Bu?

Yah, begitulah macam-macam orang di pameran yang saya ikuti ini. Memang ya, tidak ada orang yang sama. Semua unik. :D

 

One thought on “Pameran Hari #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s