Cerita · Renungan

A Woman’s Love

"Take my heart with you. But please, don't break it"Malam itu, dia datang diantar oleh salah seorang anaknya ke rumah kami. Dengan membawa sampel teh bunga rosella, ia menemui ibuku. Niatnya waktu itu adalah menawarkan untuk menjadi supplier teh itu bagi perusahaan kami. Mereka berbincang lama. Dan setelah ia pulang, aku bertanya pada ibuku tentangnya.

Wanita itu adalah teman lama ibu. Dulu, saat ibu masih bekerja di distributor obat-obatan, ia adalah istri dari pemilik beberapa apotik di Denpasar. Saat ibu dan ia bertemu, ternyata mereka berasal dari sekolah yang sama, sebuah SAA (Sekolah Asisten Apoteker) di Semarang. Sejak itulah mereka menjalin pertemanan.

“Kalau ia memiliki beberapa apotik, kenapa sekarang ia menawarkan barang ke kita? Dan lagi, kenapa sekarang ia menjadi supplier roti juga?”, tanyaku heran. Jika benar ia memiliki beberapa apotik besar, mengapa ia harus banting tulang mulai dari nol lagi sebagai pembuat roti.

Ibuku menghela nafas dalam. “Sekarang, ia sudah tidak memiliki satu apotik pun”.

Cerita ibu berlanjut. Saat mereka dalam masa jaya, suaminya memiliki beberapa apotik besar di kota. Saat itulah, ia mulai berpaling ke wanita lain. Mengesampingkan istri dan anak-anaknya, ia memanjakan wanita simpanannya dengan harta berlimpah. Hingga sampai di satu titik dimana seluruh kekayaannya pun habis. Setelah itu, sang suami jatuh sakit. Dicampakkan oleh si wanita simpanan, ia kembali ke istrinya. Tanpa mengeluh, sang istri merawat suaminya yang sudah tak memiliki harta hingga ajal menjemputnya.

Kini, ibu itu harus berjuang demi keluarganya sendirian. Ia memanfaatkan kemampuannya membuat roti dan menjadi supplier roti. Usahanya tak berjalan mulus, memang. Ada beberapa masalah dengan toko yang ia supply. Namun baginya mungkin cukup setidaknya untuk menyambung hidup sehari-hari dan menyelesaikan kuliah anaknya yang bungsu.

Setiap mengingat wanita tabah itu, aku tak habis pikir. Bagaimana bisa sudah dikhianati seperti itu, namun masih memaafkan dan menerima kembali sang suami, lalu merawatnya hingga kematian menjemputnya? Apakah ia tak mendendam?

Aku yakin kalau itu bukan rasa kasihan. Tidak mungkin menerima seorang dengan kesalahan sebesar itu dengan tulus kalau bukan karena masih mencintainya. Apakah sebesar itu cinta seorang wanita? Disakiti dan disakiti, namun tak menghapus rasa cintanya?

Lalu, aku membalik pertanyaan selanjutnya untukku sendiri. Apa yang ku lakukan jika aku berada dalam posisinya? Apa aku akan berlaku serupa?

“Cinta perempuan itu seperti kuku jari. Kecil, tapi terus tumbuh. Walaupun dipotong dan dipotong, ia akan terus tumbuh” (Garin Nugroho)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s