Postingan GaJe

Jualan Ayam atau CD??

Terus terang, saya bingung dengan strategi pemasaran sebuah waralaba ternama. Waralaba yang terkenal dengan ayam goreng tepungnya itu kini juga berjualan album rekaman. Err… saya gak salah, kan? Gerai yang berjualan makanan juga menjual CD rekaman. Benar begitu, kan?

Saya tidak bilang itu salah. Buktinya, cara itu memang terbukti efektif meningkatkan penjualan kedua belah pihak, ya CD-nya ya ayamnya. Keberadaan gerai waralaba itu yang menjangkau hingga pelosok nusantara, memang memudahkan distribusi CD para artis.

Tapi, katakanlah  jika kau penggemar…err, Cinta Laura. Untuk membeli albumnya kau harus pergi ke gerai waralaba terdekat, membeli produknya (yang tentu saja, sebagian besar adalah ayam), barulah kau bisa membeli albumnya. Fiuh, langkah yang makin panjang untuk membeli sebuah CD, saya rasa.

Yah, coba dibandingkan dengan jaman saya (tidak terlalu) dulu. Kalau saya ingin membeli CD, saya pergi ke toko kaset & CD, dan membelinya. That’s it! Nah, saya baru pergi ke gerai itu kalau saya lapar dan ingin makan ayam goreng.

Okelah, mungkin kalau saya adalah penggemar penyanyi itu, saya tidak akan keberatan jika disuruh membeli dua hal sekaligus dalam satu waktu (walau mungkin, kalau saya memang penggemar mereka, saya juga tetap keberatan mengeluarkan uang ekstra untuk makanan yang tidak saya inginkan). Tapi, masalahnya adalah jika saya bukan penggemar satu pun dari artis yang bekerjasama dengan waralaba itu.

Misalnya, suatu hari saya pergi ke sana. Saya lapar dan bayangan ayam goreng serasa menari di pelupuk mata. Biasanya, saya akan disambut begini,

Pramusaji: “Siang, Mbak. Mau pesan apa?”

Saya: “Ayam goreng satu”

Pramusaji: “Original atau crispy? Mau yang dada atau paha atas?”

Namun sekarang,

Pramusaji: “Siang, Mbak. Mau pesan apa?”

Saya: “Ayam goreng satu”

Pramusaji: “Itu aja, Mbak? Gak sekalian CD-nya? Cinta Laura, mungkin? Kalau beli paket…, Mbak hanya perlu mengeluarkan uang sebesar… untuk membelinya. Mbak gau mau sekalian jadi member di sini? Nanti kalau ada CD baru yang keluar, Mbak pasti mendapatkan informasinya. Dengan menjadi member, Mbak juga mendapat keistimewaan… bla… bla… bla…

Nafsu makan saya hilang seketika.

Belum lagi saat kita duduk untuk makan di sana, lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu para artis tersebut (tentu saja!). Mending berganti-ganti. Seringkali, hanya satu lagu lalu diulang-diulang-diulang lagi. Saya tiba-tiba jadi kenyang.

Jadi, pemecahannya adalah, kalau tidak terpaksa sekali, saya tidak akan membeli untuk makan di sana. Kalau saya benar-benar kepingin, saya akan membelinya via drive thru. Kalau lewat sana, biasanya jarang sekali ditawarkan macam-macam. Alasannya, selain kecepatan (menawarkan segala tetek bengek macam begitu kan memerlukan waktu lama), para konsumen yang membeli via drive thru umumnya sudah tahu apa yang akan mereka pesan.

Memesan seperti itu, lalu memakannya setelah sampai di rumah juga bertujuan melindungi telinga saya untuk mendengarkan lagu yang tidak saya sukai berulang kali. Yay!

Beneran jual ayam goreng, kan?
Beneran jual ayam goreng, kan?

 

PS: Walau begitu, saya sebenarnya kasihan dengan pegawai di sana. Bayangkan, harus menghapal kalimat yang panjang sekali, lalu menyebutkannya berulang kali dalam sehari. Apa gak capek dan bosan, ya? Risiko kerjaan, mungkin? *angkat bahu*

8 thoughts on “Jualan Ayam atau CD??

  1. Makanya beli makanannya di tempat – tempat tradisional aja, misalnya di tukang jual ayam goreng di emperan jalan :D
    Mereka pasti gak bakal nawarin yang aneh – aneh semacam CD artis, dan makanannya juga relatif lebih sehat daripada makanan macam junk food begituan :D

    1. Justru saya lebih gak percaya dengan penjual ayam goreng di tepi jalan. Yakin lebih sehat? Gak curiga misalnya dicampur plastik waktu menggoreng? *parno*

  2. jadi mendingan beli yang ‘sudah pasti tidak sehat’ daripada beli yang ‘ada yg sehat dan ada yg nggak,tinggal pilih yg kita percaya’, gitu? *ngotot to the max*

    1. Pada dasarnya, semua gorengan itu tidak sehat. Jadi, kalo ditanya mana yang sehat, keduanya tidak sehat. :p
      Tapi, kalo disuruh milih, ayam goreng yg ada SOP-nya, dgn ayam goreng yg saya gak tau cara menggorengnya, jelas saya pilih yg standarnya jelas. Paling gak saya gak makan dgn pikiran parno ni ayam digoreng sama plastik apa gak. :P

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s