Menulis

Writing Tools

Perkembangan alat untuk menulis saya dari dulu sampai sekarang:

1. Kertas

  • Waktu remaja, saya masih percaya dengan keberadaan diary. Dari diary yang tebal, tipis, ada kuncinya maupun tidak, bahkan yang berparfum, semua pernah saya coba. Namun semua berakhir sama. Hanya diisi beberapa lembar di depan lalu ditinggalkan. Lama baru saya sadar, kalau ternyata saya tidak suka menulis di kertas bergaris dan di tempat yang diharuskan menulis (diary seperti memaksa saya kalau di sanalah saya harus menulis). Diary yang berisi pengalaman sehari-hari ternyata juga tidak sesuai untuk saya. I knew my life! Why should I wrote it?!
  • Lalu, beralih ke potongan kertas polos. Kertas HVS saya lipat jadi empat. Saya tulis setiap sisinya, dengan tidak lupa memberikan nomor halaman agar tidak terbalik. Karena saya ceroboh, banyak dari kertas-kertas itu yang hilang.
  • Pernah juga membeli kertas berwarna-warni. Katanya warna berbeda bisa membangkitkan mood yang berbeda pula. Tidak bertahan cukup lama, sayangnya. Bagi saya sangat merepotkan karena harus berganti kertas setiap kali menginginkan mood yang lain. bleh.

2. Pena

  • Awalnya memakai pulpen. Tapi sering frustasi kalau pulpennya macet. Mood pun jadi hilang dan semangat untuk menulis jadi ikutan ngadat.
  • Lalu memakai pensil 2B yang diraut. Saat sedang asyik-asyiknya menulis, ujungnya menjadi tumpul dan perlu diraut kembali. Setelah diraut tiba-tiba patah. Atau, rautannya terlalu runcing sehingga tidak enak dipakai.
  • Akhirnya beralih ke pensil mekanik. Tidak perlu diraut, tidak macet, pantang tumpul, sayangnya… mudah patah. Salahkan sikap menulis saya yang buruk. Saya selalu menekan alat tulis saya dengan sangat keras. Seringkali tulisan di depan mengecap hingga berlembar-lembar di belakang. Itu sebabnya saya juga tidak suka pulpen runcing. Kalau menggunakan pulpen runcing, peluang saya merobek kertas karena terlalu menekannya lebih besar daripada jika memakai pulpen berujung bulat.

Sekarang semua masalah itu sudah terselesaikan. Kini, saya mengetik semua tulisan saya di laptop. Bye-bye tulisan tangan yang saya benci! >,<

Kalau ingin berganti mood, tinggal ubah warna layar saja. Sama fungsinya dengan mengganti kertas dengan warna berbeda dulu. Bahkan, kini untuk mengubah mood pun, saya bisa mengganti fontnya.

Tak ada lagi masalah tinta ngadat, isi pensil patah, atau rautan yang terlalu runcing.

Makasiii…. *peluk laptop* :D

Walau begitu, saya tetap suka memandang diary berbentuk buku, meski saya tetap tidak tahu bagaimana cara mengisinya sampai sekarang. :P

gambar via weheartit

8 thoughts on “Writing Tools

  1. Kadang pengen juga jeng ngisi diary. Kayak orang zaman dulu, buku hariannya tebal, bersampul kulit, dan tulisannya latin bersambung yang indah itu. Yang diisikan di situ tentang pikiran, ide, catatan perjalanan, hidup, etc.
    Kalau sekarang ada blog atau media elektronik lain begini, kurang kerasa romantisnya. Cieh :D

    1. Eh, kalau itu sih gampang. Set aja blognya bernuansa klasik gitu.
      Walau sebenarnya kurang bernuansa ‘kuno’ dan klasik jika dibandingkan diary konvensional, sih. :P

  2. eh, emang ada ya buku diary khusus yang pake kunci? ada gemboknya gitu? atu mah pke kartu gesek? asli saya baru tau, haha *katro banget dah*’
    laptop memang jadi andalan jaman sekarang. kalo saya masih nulis-nulis dikertas, belum punya modal :p

  3. emang enak menggunakan laptop,tetapi ada kalanya suatu saat kita juga menggunakan cara lama menggunakan pena dan kertas untuk menyampaikan sesuatu hahaha. salam gan :)

    1. Hehe… cara tiap-tiap penulis menuangkan ide dan gagasannya memang berbeda-beda. Yang penting, tetap menulis. Daripada sibuk mencari alat yang tepat tapi tidak jadi nulis-nulis. Ya, kan? ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s