Diary

Celengan Receh

Percaya atau tidak, hingga sebesar ini saya masih punya celengan receh. Celengan beruang berwarna ungu itu ada di atas lemari buku dan masih rajin saya isi sampai sekarang. Saya tidak sekedar mengisinya kalau ada uang receh saja, tapi memang sengaja selalu mencari pecahan koin untuk mengisinya.

Tadinya, hanya mencemplungkan semua uang koin yang saya temukan ke dalamnya. Tapi, karena setiap membongkarnya setelah penuh saya hanya memperoleh maksimal 200 ribu, sepertinya saya harus mengubah strategi kalau mau dapat lebih banyak. Kini, saya hanya memasukkan pecahan logam 500 dan seribu perak.

Mendapatkan pecahan segitu tidak sesusah yang dibayangkan, kok. Saya terkadang memperolehnya dari kembalian uang parkir. Saat parkir di Denpasar yang tarif untuk motornya seribu rupiah, saya sengaja membayar dengan lembaran 2000 rupiah. Kembaliannya yang seribu biasanya dalam bentuk dua koin 500 atau satu koin 1000. Atau, kalau parkir di daerah Kuta yang tarif untuk motornya masih 500, saya biasanya membayar dengan pecahan 1000 agar mendapat kembalian koin 500.

Tidak hanya itu, perusahaan yang bergerak di bidang retail juga sering mendapat koin saat menagih. Berbeda dengan saat berbelanja di supermarket dimana kita mendapat permen sebagai kembalian, supermarket tidak pernah memberi permen untuk supplier-nya. Semua tagihan bentuk tunai dibayar kontan, sampai ke pecahan seratus rupiah. Saya biasa menyisihkan koin 500 dan 1000 dari sana dan saya tukar dengan uang di dompet saya sendiri (jadi, bukan korupsi ya. hehe).

Kalau ditanya, apa sih enaknya punya celengan receh? Toh, hasilnya tidak besar, tidak seperti menabung di bank.

Memang sih, hasilnya tidak besar. Dan, memiliki tabungan koin juga tidak membuat saya berhenti menabung dalam jumlah lebih besar. Tapi, celengan receh memiliki efek psikologis tersendiri bagi saya. Saat sedang bengong, atau sedih, atau merasa sedang tidak punya uang (eh?!), saya akan mengambilnya, mengguncangnya, lalu saat terdengar bunyi “cring-cring” dari dalamnya, saya tiba-tiba merasa kaya. Haha.

Barusan saya mengintip isinya melalui lubang memasukkan koin. Sudah terisi separuhnya, ternyata. Langsung terpikir, kapan ya saya bisa membukanya? Trus, mau dibelikan apa kalau sudah dibuka nanti? *wide grin* *tiba-tiba merasa senang*

PS: Saya memiliki Si Beruang Ungu itu sejak SMP. Celengan ini sangat lucu, unyu dengan warna ungunya. Sayangnya, ia tak punya lubang untuk mengeluarkan uang koin yang telah dimasukkan. Jadilah terpaksa saya membuat lubang di salah satu kaki plastiknya. Setelah selesai mengeluarkan, saya pasang kembali potongan plastik yang saya potong, dan saya rekatkan dengan selotip. Saya tidak berpikir untuk menggantinya, dengan kaleng yang bisa dibuka misalnya, karena bagi saya dia istimewa. Haha, saya ini memang sentimentil.

"cring-cring"
"cring-cring"

9 thoughts on “Celengan Receh

  1. hihi, sempat juga punya celengan receh, tapi nggak bertahan lama karena saya suka bayar pake recehan juga *digetok mbak-mbak kasir*

    kalau mau, bisa lho dari koin-koin yang nilainya tampak kecil, tapi saat dikumpulkan akan menjadi jumlah yang manfaatnya bisa mengembalikan siswa putus sekolah ke bangku sekolahnya, seperti coin a chance ini :)
    http://coinachance.com/

    1. Gerakan koin ini sudah merambah kemana-mana, ya. Dari koin Mbak Prita, membantu anak putus sekolah, sampe bantuin Pak Beye yang curcol gajinya gak naik2… hihihi…

    1. Beneran kok, aslinya ungu. Saya juga sebenarnya agak kecewa dengan hasil fotonya. Sampe beberapa kali jepret biar warna aslinya yang kelihatan. Tapi, mungkin karena pencahayaannya neon ya, jadi berubah warnanya saat tertangkap kamera.

    1. Wah, saya dulu belinya waktu masih SMP di toko deket sekolah tuh. Tokonya sekarang malah sudah tutup. Kalau sekarang, mungkin di toko kelontong atau di pasar masih ada. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s