Puisi · Renungan

Apa Enaknya Hidup Selamanya?

Apa enaknya hidup selamanya?

Menyaksikan satu persatu orang yang kita sayang pergi meninggalkan, membiarkan kita sendiri untuk kemudian belajar kembali mencintai orang-orang baru.

 

Apa enaknya hidup selamanya?

Setelah ratusan tahun menghirup nafas, semua kenikmatan lenyap. Tak ada lagi perjamuan yang membangkitkan selera. Semua terasa sama dan tak berbeda.

 

Apa enaknya hidup selamanya?

Menyaksikan mentari yang renta, mengiringi dengan setia, namun telah kehilangan harganya. Tak ada lagi kata romantis dari bulan di langit malam. Semua menjadi basi, seperti wajah rembulan yang pucat pasi.

 

Apa enaknya hidup selamanya?

Muak melihat dunia berubah warna. Dari hijau menjadi coklat, lalu kelabu menjadi hitam, semakin bobrok ditelan zaman.

 

Apa enaknya hidup selamanya?

Cinta tak lagi bertahan selamanya karena telah sirna dimakan usia. Tak ada lagi rasa rindu dan takut kehilangan karena masa tak lagi terbatasi.

 

Sungguh, apa enaknya hidup selamanya?

 

Ide nyomot dari sini

5 thoughts on “Apa Enaknya Hidup Selamanya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s