Film

Serial Drama Sejarah #2

Eh, kemarin si Black Claw ngomentari tulisan saya, Serial Drama Sejarah. Dia nulis, “Sudah. Namanya Saur Sepuh” untuk mengingatkan saya kalau kita pernah membuat drama sejarah dulu. Bagi yang belum tahu, atau hidup di era setelah saya (tiba-tiba berasa tua), Saur Sepuh adalah sebuah drama radio yang dibuat sekitar akhir tahun 80-an. Waktu saya mendengarnya pertama kali, saya masih duduk di kelas 1 atau 2 SD.

Saat itu, drama radio Saur Sepuh sangatlah terkenal. Se-terkenal apa? Kata ibu saya, ia tak pernah ketinggalan ceritanya walau ia pergi untuk berbelanja sekalipun, karena setiap rumah yang ia lewati dalam perjalanannya menyetel drama itu.

Nama-nama seperti Brama Kumbara dan adiknya Mantili begitu melekat di benak pemirsanya, hingga dunia perfilman pun mengangkatnya menjadi film berseri. Saya tidak hafal berapa seri film yang diterbitkan, tapi dapat dikatakan setara dengan film-film Superman saat dibintangi oleh Christopher Reeves atau film-film James Bond. Ah, saya gak tahu kenapa saya membandingkannya dengan film-film luar itu. Pokoknya, sangat panjang dan tak ada habisnya! Tipikal, bukan?

Saya kurang begitu tahu apakah Saur Sepuh dapat dikategorikan drama sejarah atau bukan, karena saya tidak tahu latar belakang drama itu. Tetapi yang jelas, drama radio penggantinya, ‘Tutur Tinular’ mengambil setting jaman Majapahit atau tepatnya saat masa Raden Wijaya hingga Tribuwana Tungga Dewi berkuasa. Konflik politik yang menjadi latar belakang drama itu saya pikir cukup menarik, walau pada akhirnya yang merebut minat pemirsanya adalah Arya Kamandanu dan kehidupan cintanya. Hahaha… kok, saya masih ingat saja, ya? *heran sendiri*

Namun, sayangnya lagi-lagi pada akhirnya kedua serial ini jatuh ke lubang yang sama. Rating yang terlalu tinggi membuat drama ini diulur-ulur ceritanya hingga tidak menarik lagi. Sampai sekarang saya tidak tahu apa yang akhirnya terjadi pada Arya Kamandanu, tuh. Dan, sepertinya tokoh utama Brama Kumbara dimatikan di akhir cerita, ya? (Sama seperti Superman). *sigh*

Kalau di dunia sinetron, seingat saya dulu pernah ada yang bercerita serupa. Judulnya, ‘Angling Dharma’. Ceritanya diangkat dari cerita rakyat turun temurun tentang Prabu Angling Dharma yang diubah menjadi belibis putih dan ditemukan oleh seorang putri nan jelita. Jalan cerita utamanya sih itu. Namun entah kenapa–lagi-lagi karena ratingnya yang tinggi mungkin–jalan ceritanya diulur sampai gak jelas juntrungannya.

Masalah ulur-mengulur cerita inilah yang menyebabkan mengapa saya berpendapat kalau semua drama serial itu tidak dapat disetarakan dengan saeguk dari Korea Selatan. Kalau saja, jalan ceritanya jelas alurnya dari awal hingga akhir, tidak terjebak oleh rayuan duit yang akhirnya merusak plot yang sudah tersusun, mungkin drama seperti Saur Sepuh dan Tutur Tinular akan terus bergaung sampai sekarang. Bisa jadi, akan terus menerus dibuat remake-nya, seperti kisah ‘The Condor Heroes’ milik Cina. Dan, bisa diekspor hingga ke tanah-tanah jauh, untuk memperlihatkan betapa kayanya sejarah di nusantara.

Walau begitu, saya tidak patah semangat. Semoga ada pihak-pihak terkait yang melihat drama saeguk asing itu dan tersentuh untuk membuat yang serupa. Dan, tolong jangan dipanjang-panjangin lagi ceritanya. Saya mohon.

 

PS: Baru aja browsing di wikipedia. Buat yang pingin tahu, ini linknya Saur Sepuh. Dan, ini linknya Tutur Tinular.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s