Cerita · Film

Serial Drama Sejarah

Main shrine (Shiva) of Prambanan temples in Yo...
Image via Wikipedia

Masih ingat dengan nama-nama Deok Man, Bidam, Kim Yu Shin, Hwarang Alcheon, Mishil? Yap, mereka adalah karakter dalam serial drama sejarah The Great Queen Seondeok. Yang mengikuti blog ini tentu tahu betapa besar rasa suka saya pada serial itu. Saya pernah menulis artikel tentang drama itu di blog ini, bahkan sempat juga menerjemahkan soundtrack-nya.

Saat diputar di salah satu televisi swasta di negeri ini, saya dan mungkin banyak orang lainnya bertanya-tanya, mengapa kita tidak bisa membuat serial drama sejarah se-apik ini? Apa kita tidak memiliki sejarah yang cukup menarik untuk difilmkan? Saya yakin itu tidak benar.

Setelah membuat postingan kemarin tentang sejarah Candi Prambanan, saya jadi menyadari betapa kayanya sejarah kita. Kisah pembangunan Candi Prambanan (bukan tentang Roro Jonggrang-Bandung Bondowoso) sangat kaya dengan nilai dan konflik. Saya yakin jika digali dan diberi plot yang menarik, cerita ini sangat menjanjikan.

Atau mungkin yang lebih fenomenal lagi jika mengangkat kisah di balik pembangunan Candi Borobudur. Cerita yang disertai dengan bukti yang nyata, yaitu candi yang masih berdiri tegak sampai sekarang tentu sangat meyakinkan. Bukankah dalam serial Queen Seondeok sendiri ditampilkan bukti-bukti bangunan yang didirikan semasa Seondeok berkuasa?

Namun, sebelum membuat serial sejarah seperti itu haruslah diingat:

Buatlah plot yang menarik. Jalan cerita yang ditampilkan haruslah menarik, tidak membosankan, berisi nilai-nilai, sehingga pemirsa tidak merasa jenuh dan memperoleh sesuatu setelah menontonnya.

Jangan membuat episode yang terlalu panjang. Episode yang mencapai lebih dari seratus dengan cerita yang sudah tidak jelas alurnya tentu membuat kesal dan kecewa pemirsa yang mengikutinya. Contohlah The Great Queen Seondeok. Meski hanya memiliki 62 episode, namun mampu menampilkan kisah sejak Deokman belum lahir hingga kematiannya.

Perencanaan yang matang. Membuat serial sejarah seperti ini tentu membutuhkan perencanaan yang matang, riset yang mendalam agar kisah yang ditampilkan akurat dan mendekati kenyataan. Selain itu, perencanaan panjang juga mencegah cerita yang sengaja diulur-ulur demi kepentingan rating.

Saya tahu kalau membuat serial berdasarkan sejarah tentu sangat sulit. Ada banyak pakar sejarah yang dilibatkan. Belum lagi adanya perbedaan persepsi di kalangan para ahli tersebut.

Sejarah kerajaan di nusantara tentu berbeda dengan sejarah kerajaan di Korea. Saya sendiri salut dengan pencatatan sejarah Korea yang akurat. Semua itu karena pencatatan telah dilakukan oleh tangan pertama, atau dicatat sendiri oleh para pelaku sejarah. Saya pernah membaca sebuah artikel yang menyebutkan kalau orang-orang Korea telah terbiasa membuat jurnal sejak jaman dahulu. Meski hanya orang-orang terpelajar saja yang menguasai kanji Cina, namun sebagian besar penduduk Korea saat itu telah mengenal huruf Hangul. Mereka terbiasa menulis catatan tentang keseharian mereka. Dari para rajanya, permaisuri, koki, dayang, bahkan para nelayan pun memiliki jurnal.  Di masa kini, jurnal-jurnal yang disimpan rapi itu menjadi bahan rujukan banyak penelitian.

Sedangkan, kerajaan di nusantara sebagian menulis prasasti di batu-batu. Kondisi alam, tempat penyimpanan yang tidak baik menyebabkan tulisan yang ada di atas batu itu rusak dan tak dapat dibaca dengan utuh lagi. Di masa kini, bahan rujukan itu sangat sulit untuk diteliti.

Nantinya, jika kita bisa membuat serial sejarah yang apik, bukan tidak mungkin kan, kita mengekspornya ke negara lain. Saya yakin banyak negara lain yang tertarik dengan sejarah bangsa kita yang kaya. Dan bukan tidak mungkin kelak nama Gajah Mada, Samaratungga, Hayam Wuruk, Airlangga yang balik disebut-sebut oleh orang-orang Korea. :D

11 thoughts on “Serial Drama Sejarah

  1. Kadang kalo nonton sageuk drama macam QSD emang suka ngiri. Kenapa ya di indo ga bisa bikin yang kaya gini. Maksudnya bikin yang bener2 gitu… Yang serius, pasti bisa kan… :)
    Ngga cuma sinetron yang ceritanya mbulet ntah sampe season ke berapa itu yang tayang di TV…

  2. Maunya sih mungkin gitu kali ya… *siapa? kalo aku dan mbak mirna mungkin iya*
    tapi banyak juga kan yang dibutuhin indonesia buat bikin pilem yang bisa jadi ‘fenomenal’ di negeri orang… ntar jangan-jangan di negri sendiri malah gak laku :D
    ya,tapi semoga aja suatu saat indonesia bisa…

    *ayo semangat!! =)*

      1. iya sih,ya…. :D

        betewe,link-ku dipindah beneran nih! ^^
        oya, kalo udah ikut 365 days blog project trus pingin ndobel wp post a day boleh ga ya? kan ga ada salahnya dobel gitu, untungnya jg dobel… *emang untung apa?*
        hehe.

    1. Memang mental orang2 kebanyakan yang gak mau repot dan pingin dapet duit banyak dengan cara gampang itu yang bikin kita gak maju2.
      Coba aja liat bioskop2 kita yang isinya film2 horor-mesum. Mereka bilang, mereka buat itu karena film seperti itulah yang laku. Sama sekali gak ada kemauan untuk meng-edukasi penonton. *sigh* *lha, kok saya malah jadi marah2 gini?*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s