Diary

Bisa Masak??

“Mir, kamu pasti gak pernah masak, ya?”, tanya seorang tanteku suatu hari saat aku bermain ke rumahnya. Ketika itu aku memang terlihat kagok memegang pisau saat disuruh membantunya memasak. Sementara di sampingku, adik sepupuku mengupas ketimun dengan lihainya.

“Memangnya di rumah, ibumu gak pernah nyuruh kamu bantu masak?”, sindirnya.

Aku menghela nafas panjang. Jangankan disuruh membantu memasak, bahkan saat aku dengan sukarela ingin membantu ibu pun, justru aku yang diusirnya. Katanya, aku malah mengganggu konsentrasi ibu saat memasak!

Sering aku mengeluh pada ibu, bagaimana aku bisa pintar memasak jika aku tak diijinkan membantunya? Namun dengan enteng ibuku selalu menjawab, “Nanti kan kamu bisa sendiri. Ibu dulu juga gak bisa dan gak pernah masak sebelum menikah. Toh, sekarang bisa”. Bu, memangnya anakmu ini wanita super yang langsung bisa memasak tanpa pernah mempelajarinya terlebih dahulu?

Dan, tibalah saat itu. Pada waktu itu, aku kuliah semester akhir. Bapak dipindahtugaskan ke Balikpapan oleh kantor tempatnya bekerja. Ibu tentu saja ikut serta. Karena di sana mereka mendapat rumah dinas, rumah dinas di Bali tentu tak bisa ditempati lagi. Aku terpaksa ngekos di daerah Jimbaran karena tidak berani tinggal sendirian di rumah Nusa Dua. Namun, walaupun ngekos aku tidak membayar uang kos seperti yang lain karena tempat kos itu adalah milik teman dekat Bapak. Lucky me… ^^

Tapi bagiku, kehidupan sebagai anak kos terasa tak nyaman kalau sudah menyangkut urusan perut. Aku adalah anak rumahan, selalu makan masakan ibu dan jarang banget jajan di luar. Anak kos yang identik dengan jajan di warung, sangat tidak sesuai untukku.

Bayangkan, jika kau mau makan enak, kau harus keluar uang lebih banyak. Jika ingin yang sedang harganya, bumbu masakannya kurang. Jika ingin yang murah, maka masakannya hanya berasa air, garam, dan vetsin saja. Apa tidak bisa mendapatkan masakan yang enak tapi murah?!

Well, if you wanna do it right, do it yourself!

Aku pun bertekad untuk memasak sendiri. Kebetulan di setiap kamar di kosan tempatku tinggal ada dapurnya. Aku tinggal membeli bumbu dapur saja karena kompor dan peralatan masak sudah ada, bawaan dari rumah.

Lalu, aku mengirim pesan singkat pada ibuku, bertanya tentang resep beberapa masakan. Balasan SMS dari ibu tentu saja tidak lengkap. Hanya menyebut secara singkat bumbu-bumbu inti dari sebuah masakan, tanpa takarannya. Untuk itu, aku harus memaksimalkan kerja lidahku untuk dapat merasakan seberapa pas aku memasak.

Percobaan pertamaku adalah memasak sayur asam Jawa. Setelah cemplang-cemplung ini-itu, akhirnya masakanku jadi. Sayur asam Jawa tersaji di atas panci. Dengan berdebar kucoba merasakannya. Aku terkejut. Rasanya pas seperti yang aku inginkan. Aku pun tersenyum puas.

Ternyata benar kata ibuku. Memasak itu insting kali, ya. *teori ngawur*

Namun, ada satu kesalahan. Aku ternyata belum bisa mengira-ngira masakan untuk porsi satu orang. Saking senangnya, aku memasak sayur asam sebanyak satu panci penuh!

Sayur itu tentu saja harus dihabiskan, kan. Dan, selama dua hari dua malam, sayur asam menjadi menu utama makananku. Bener-bener mblenger abis…

Setelah itu, aku mulai bereksperimen membuat berbagai masakan. Di luar dugaanku, ternyata aku menikmati kegiatan ini. Menurutku, memasak itu sangat menyenangkan. Aku merasa menjadi seorang penyihir yang sedang merebus ramuan saat aku mencemplungkan berbagai bumbu itu. Benar-benar menarik!

Saat aku sudah bekerja, aku sudah bisa memasak makan siang yang akan kubawa ke kantor.

Suatu hari, aku pergi berkunjung ke tempat tanteku. Tante yang sama yang pernah menyindirku dulu. Saat aku tiba, ia sedang memasak untuk makan siang.

Ia menegurku dan bertanya, “Bisa masak, Mir?”

“Bisa, dong”, jawabku bangga.

“Bisa masak apa saja?”

Aku pun menjawab berbagai masakan yang aku kuasai, plus bumbu-bumbunya. *nyombong dikit*

Tanteku menghela nafas. “Itu lho, bilang ke adikmu supaya belajar masak”, keluhnya.

Aku kaget. Lho, bukannya justru adik sepupuku itu sedari kecil sudah disuruh masak?

Adik sepupuku yang sedang duduk di ruang tengah masuk ke dapur saat mendengar pembicaraan antara aku dan ibunya. “Kalau cuma disuruh ngupas bawang, ngiris cabe, motong ketimun sih oke, Mbak. Tapi, kalau udah disuruh menggoreng, membumbui, dan sebagainya sih, ogah! Mending disuruh nyetrika atau nyapu aja”, ujarnya enggan.

Aku tertawa. Ternyata, benar kata ibuku. Memasak itu kalau sudah waktunya ya bisa sendiri. Gak usah dipaksa-paksa, nanti trauma dan malah jadi benci memasak. Mungkin itu yang terjadi pada adik sepupuku itu kali, ya. Gara-gara selalu dipaksa memasak sejak kecil, ia malah jadi benci memasak. :D

2 thoughts on “Bisa Masak??

  1. Sayur itu tentu saja harus dihabiskan, kan. Dan, selama dua hari dua malam, sayur asam menjadi menu utama makananku. Bener-bener mblenger abis…

    Ah, kalau saya sih oke-oke saja melulu sayur. Sayur pertanda makmur, kan?

  2. ayo .. memasak! bidadari saya sudah mulai belajar memasak sekarang (kelas 3 SD). tapi bukan karena disuruh-suruh, tapi karena dia mau. hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s