Diary

Ngopi

Suatu hari, terdesak oleh rasa penasaran ‘kenapa orang-orang senang sekali ngumpul di kafe’, aku dan seorang adik sepupuku memutuskan untuk ngopi-ngopi di sebuah kafe di Jimbaran.

Saat menginjakkan kaki memasuki kafe itu, aku langsung tercengang (Ya, aku tahu, aku memang norak :P ). Gak heran ya, orang-orang senang kongkow-kongkow di tempat seperti ini, tempatnya memang berkesan santai sekaligus nyaman banget.

Setelah duduk di salah satu jajaran sofanya yang empuk, seorang pelayan datang membawakan menu. Melihat daftar menu di tangan, mataku langsung membelalak. Ya ampun, secangkir kopi aja harganya segini!!

Sudah terlanjur ke sana, malu dong kalau gak jadi pesan, akhirnya aku memesan secangkir kopi dan adik sepupuku memesan segelas Iced Green Tea.

Aku penasaran, kopi seperti apa sih yang dijajakan hingga harganya selangit gini? Ah, jangan-jangan ada latte art-nya kali, ya. Itu lho, hiasan di atas kopi yang terbentuk dari cream atau apalah itu namanya. *sok tahu*

Saat akhirnya pesanan datang, aku kecewa. “Mana latte art-nya?”, ujarku dalam hati sembari memandang permukaan secangkir cappuccino yang kupesan. Hanya ada serbuk kayumanis di atas busa putihnya.

Oke, mungkin rasanya yang luar biasa, aku berusaha untuk tetap optimis.

Kuseruput pelan-pelan minuman itu, dan lagi-lagi aku kecewa. Rasanya tidak istimewa, malahan nyaris sama dengan kopi instan yang kubuat setiap pagi. Aku merengut.

Melihat tampangku, adik sepupuku tak bisa menahan tawanya. “Kenapa, Mbak? Gak enak?”, tanyanya.

“Bukannya gak enak. Hanya saja, gak sebanding dengan harganya”, aku mulai menyesal.

“Yah, mbak. Orang-orang itu kemari buat beli suasananya. Prestisenya. Gaya hidupnya”, urainya panjang.

Iya, gaya hidup yang membuat kantong bolong!

“Rasanya sama kayak kopi instan biasa”, kataku gak mau kalah.

Ia tertawa lagi, lalu mencondongkan tubuhnya mendekat padaku. “Mbak, mau tahu caranya biar bayarnya tetap murah walau ngopi di kafe kayak gini?”

Aku mengangguk tanda tertarik.

Adik sepupuku kemudian berbisik, “Lain kali, kalau ke sini lagi, kita bawa aja kopi sachet. Trus, kalau pelayannya tanya mau pesen apa, kita bilang aja mau mesen secangkir air panas. Kita bikin kopi kita sendiri, deh. Entar kan tagihannya cuman air panas doang. Syukur-syukur kalo gratis”.

Aku langsung tergelak mendengar sarannya itu. Boleh juga tuh dicoba!

Ini lho, yang namanya Latte Art itu. Cantik, ya? ^^

Gambar dari sini

24 thoughts on “Ngopi

  1. kalau mau merasakan kopi enak dan suasana yang pas, bawa kopinya ke rumah saya dan minum bareng dengan saya.

    dijamin, saya pasti puas. hehehehehe

      1. gpp kan? saya memberikan kesempatan untuk orang lain berbuat baik? btw … nama saya tiak menggunakan kopi, eh ….. tidak menggunakan huruf r.

        pam

  2. “Iya, gaya hidup yang membuat kantong bolong!” >> SETUJU! Konsumerisme memang mudah banget diterapkan di tengah orang2 kita, Mir! Biarpun kantong masih ngepas. :D

      1. Hihi.. Sama ngepasnya, Mir. *mirroring, ikut2an lirik dompet sendiri*
        Eh, tapi saya jadi inget pernah diceritain ttg Liem Sioe Liong ttg kopi (entah dijadiin ilustrasi aja atau beneran dulu beliau jualan kopi). Simply, gara2 tekun jualan kopi dia dpt penghasilan, dari cuma dikit jadi berkembang. Ya, jadi kagum aja sama mereka yg di balik usaha2 kafe itu. :)

  3. Sahabat tercinta,
    Dengan hormat saya mengundang anda untuk mengikuti Kontes Unggulan Cermin Berhikmah (K.U.C.B).
    Sahabat hanya diajak untuk membuat sebuah cerita fiksi mini dan menuliskan hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik dari cerita yang telah anda tulis. Setelah itu daftarkan artikel tersebut diblog saya – New BlogCamp –

    Hadiahnya sih tidak seberapa tetapi begitu selesai mendaftarkan artikel, anda akan merasakan suatu sensasi yang membahagiakan karena telah mampu menulis suatu artikel yang lain dari biasanya.
    Jika berminat silahkan klik :
    http://newblogcamp.com/kontes/kontes-unggulan-cermin-berhikmah

    Terima kasih
    Salam hangat dari Markas New BlogCamp di Surabaya

  4. bwahahahaha…lets try another coffee shop that can make our eyes ‘jereng’ because of the fuckin price. yeaahh..it’s a life style sista

  5. Melihat daftar menu di tangan, mataku langsung membelalak

    jadi, berapa angkanya, yang sampai bikin mbelalak begitu?

    Rasanya sama kayak kopi instan biasa

    mungkin memang dibuat dari kopi instan. profitnya pasti luar biasa :P

    1. Harganya 40 kali lipat dari harga satu sachet kopi instan biasa :(

      Profitnya? Entah. Mungkin kalau dikurangi uang sewa tempat, bangunan yang dibangun dengan menarik, interior keren, ber-ac, karyawan berseragam… hmm… entah berapa sisanya…

  6. emang bikin kantong bodong kalau tiap hari :D tapi orang pengen suasana yg enak buat ngobrol. Kalau di restoran kan langsung diliatin tuh sama pelayannya…supaya buruan deh pergi kalau udah kelar. Disana mau ngobrol smp berbusa juga gak bakal diusir :D
    Gue termasuk demen, kalau hanya sesekali loh… :D

    1. Masak sih? Oh berarti aku yg terlalu terbiasa makan di resto kali, ya. Kok, kayaknya walau di kafe, tetep aja rasanya tergesa-gesa disuruh pulang. :P

  7. wah..
    kalo saya si gak suka kopinya, tapi suasana kumpul sama temen2 sangat bermakna..
    biasanya kalo saya cukup ngopi ato nge-teh di kosan temen, dipinggir jalan sambil ngeliatin orang lewat plus komentar macem2 sambil becanda..
    suasana yang gak kalah seru lo..
    hehe..

      1. eh..mbak saya inget saya pernah mengalami hal yang hampir serupa tapi tak sama..
        hmm..
        jadi gini saya pernah mau makan di warung Steak n Sensor..
        haha..
        pesen steak, eh,, katanya steaknya habis, malah nawarin lalapan tu pelayannya..
        jadinya gak jadi makan steak de..
        trus besoknya aku kesana lagi bawa lalapan beli di warung pinggir jalan, trus makan disono..
        cuma pesen minum aja..
        hehe..

  8. Bwahahaha… edunnn… idenya lain kali pesen air panas aja, bawa kopi instan dari rumah… :lol:
    btw, saya emang blm pernah sekali pun coba ngopi ke kafe, lagian, saya ga suka minum kopi…

  9. orang-orang ke coffeeshop terkenal itu kan lebih karena prestisenya (86%), wi-fi (13.9%) dan kopinya (0.1%)
    *angka ngawur* :D

    Saya kesana kalau ada teman yang minta ketemuan di sana, pesen kopi segelas, ngobrolnya empat jam, sampai dilirak-lirik barrista dan pegawai shopnya. XD
    Walau sebenernya kalau cuma butuh ngobrol dan sedikit ngopi, saya lebih suka di rumah saja, sini saya buatin kopi yang enak, saya punya beberapa varian kopi. Tapi ya karena ke sini kejauhan ke sana kejauhan ya ketemu di tengah-tengahnya, coffeeshop. Kenapa nggak di warung kopi biasa di pinggir jalan coba? Ngobrol berapa lamapun di sana juga nggak masalah ya to?
    Entah. Saya mau-mau saja, tapi biasanya pihak satunya yang nggak mau..

    1. Kalau krn wi-fi gratisnya, sebenarnya justru malah mahal ya, jeng. Lbh mahal dari di warnet lagi.
      Tuh kan, ternyata di kafe jg dilirak-lirik disuruh pergi… :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s