Buku

Surga Dunia

“Mir, ngapain kamu jongkok di situ?”

“Capeekk…”

Petikan dialog di atas terjadi saat saya sedang menemani beberapa teman saya yang window shopping. Sudah 4 jam kami mengitari mal, dan sebenarnya saya sudah menyerah sejak dua jam yang lalu.

Gilak, ya. Kok bisa, ngiterin mal yang cuma segitu-gitunya selama berjam-jam. Ngeliatin barang yang gak jauh-jauh dari tas, baju dan sepatu. Memeriksa dengan teliti tiap jahitan, ngomentari tiap barang, trus berakhir tanpa beli satu pun. Ampuunnn…

Namun saya tidak berhak mencela hobi teman-teman saya itu. Saya dan mereka hanya memiliki perbedaan selera. Bagi mereka, mal mungkin bagaikan surga dunia, tempat semua barang yang mereka inginkan berada.

Bagi saya? Surga dunia itu ada di perpustakaan dan toko buku.

Sedari kecil, saya dan kakak memang telah dilatih untuk mencintai buku. Semenjak belum mengenal abjad, Bapak selalu membacakan kami dongeng. Menginjak umur tiga tahun, Bapak mengenalkan huruf sambil mendongeng. Saat masuk TK, Bapak sudah menyuruh kami membaca buku sendiri. Saya sudah fasih membaca saat TK, dan mulai membacakan dongeng untuk teman di TK Besar.

Sejak itulah saya menjadi penggemar berat buku. Kebetulan, Angkasa Pura Ngurah Rai, perusahaan tempat Bapak bekerja, menyediakan sebuah perpustakaan kecil. Semua anak pegawainya bisa meminjam gratis di sana. Kesempatan itu tentu tidak saya sia-siakan. Seminggu sekali diantar Bapak, saya dan kakak menghabiskan waktu di sana. Kami membaca sebentar, memilih buku yang kami sukai, lalu meminjamnya.

Kebiasaan ini makin menggila saat kami dipindah ke Blok Barat. Rumah di blok itu hanya berjarak 200 meter dari perpustakaan. Jadilah, sepulang sekolah setelah berganti baju, saya berjalan sendirian ke tempat itu. Di sana saya membaca hingga perpustakaan tutup saat sore menjelang.

Banyak teman saya yang tidak gemar membaca merasa heran. “Ngapain aja sih Mir di sana? Gak bosen?”, begitulah rata-rata pertanyaan mereka.

Gimana ya menjelaskannya? Bagaimana memberitahu mereka kalau berada di tengah tumpukan buku membuat saya merasa nyaman. Saya suka bau lapuk itu. Saya suka membalik kertas yang sudah menguning. Saya tidak keberatan dengan debunya (ups!).

Membaca bisa membuat saya melanglang buana ke tempat-tempat yang tidak pernah saya kunjungi sebelumnya. Membuat saya mengenal pribadi-pribadi yang belum pernah saya temui. Buku telah membentuk sebagian dari karakter saya hingga saat ini. Dan, meski terkadang mata saya menjadi berkunang-kunang karena duduk membaca terlalu lama, saya selalu menikmatinya.

Sayangnya hal itu sudah lama tidak saya lakukan lagi sekarang. Sudah lama saya tidak ke perpustakaan. Sudah berbulan-bulan tidak ke toko buku. Tidak lagi menenteng buku, apalagi terlelap dengan buku masih di tangan.

‘Kesibukan’ rasanya telah menyita banyak waktu saya. Ah ya, saya tahu itu hanya alasan. Seharusnya saya bisa menyempatkan diri untuk membaca, kan. Karena meski kini saya banyak belajar berbagai hal dari internet, saya masih rindu menyerap ide utuh seorang penulis melalui sebuah buku. Saya rindu membaca. Saya rindu buku. Saya rindu tenggelam di dalam surga dunia saya.

Gambar dari sini

4 thoughts on “Surga Dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s