Cerita · Diary

Chatting

“Sudah terima email dari saya?”

“Yang golongan darah itu?”

“Iya”

“Sudah”

“Gimana? Lucu, kan?”

“Iya”

Hening sejenak…

“Di sini, orang-orang menganggap serius karakter orang berdasarkan golongan darah”

Lho, kok? Apakah dia menganggap serius email kirimanku? Tidakkah ia tahu alasan sebenarnya mengapa aku mengirim email itu?

Isi email itu sebenarnya tidak penting. Apapun email lucu dan menarik yang ku terima saat itu, akan dengan senang hati ku forward padamu. Aku hanya cemas kau merasa kesepian dan sendirian di negeri orang. Kau baru saja sampai, dan mungkin belum mengenal banyak orang. Apalagi kabarnya saat itu sedang musim dingin. Kau pasti malas untuk keluar apartemen. Aku harap sedikit tawa bisa menghangatkanmu.

“Oh, ya? Saya tidak tahu tuh”, jawabku.

Dan, ia pun menjelaskan bagaimana orang-orang di negeri itu menganggap serius golongan darah seseorang. “Kabarnya, ada seseorang yang dipecat dari pekerjaannya gara-gara golongan darahnya dianggap berbeda dan tidak cocok dengan golongan darah karyawan lainnya”, ujarnya sambil menutup penjelasannya yang panjang.

“Lalu, golongan darahmu apa?”, iseng aku bertanya. Tanpa tendensi.

Hening lagi…

“Coba tebak”, akhirnya ia berkata.

Aku memutar otak cepat. Menganalisa. Bukan berdasarkan daftar karakter golongan darah yang ku terima, tapi berdasarkan sifatnya dan kubandingkan dengan orang-orang di sekitarku.

Jujur, saat pertama kali menerima email dari temanku itu, aku tak pernah menyangka kalau ada yang mengelompokkan sifat manusia berdasarkan golongan darah. Sebagai mantan peneliti yang biasa melakukan survey penelitian, aku diam-diam bertanya pada orang-orang di sekitarku tentang golongan darah mereka. Berdasarkan itu, aku membuat daftar sendiri. Aku tidak mempercayainya, tentu saja. Karena aku percaya tidak seorang pun yang sama. Setiap orang terbentuk dari banyak faktor. Latar belakang, orang tua, pendidikan, kawan, bahkan pemikiran, tak ada satu orang pun menyamai yang lain. Daftar yang ku buat hanya sebuah daftar iseng untuk menertawakan email itu. “Hey email, kamu salah”, kira-kira demikian yang ingin ku katakan.

Namun, karena ia berkata seperti itu, sepertinya aku harus cepat menganalisa. Dalam otakku, aku mulai membandingkan karakternya dan karakter orang-orang yang ku kenal. Ada, ada dua orang temanku yang kira-kira setipe dengannya.

“B”, jawabku cepat.

Hening…

Hening lama…

Hening semakin lama…

Apakah jawabanku benar? Kenapa tidak ia jawab?

“Benar, ya?”, tanyaku.

Ia tak juga menjawabnya.

“Kalau gak B, ya O. Kalau gak O, ya A. Kalau gak A, ya AB”, aku mulai bicara ngawur untuk memecah keheningan.

“Orang-orang yang mengenal saya, kebanyakan mengira kalau saya ini A”.

Berarti bukan A.

“Jadi?”, aku masih ngotot bertanya.

“Rahasia”, katanya kemudian.

Aku menghela nafas. Kenapa tidak kau akui saja sih, kalau jawabanku yang pertama itu benar. Kau memang B, kan?

“Sudahlah, itu gak penting”, ujarku akhirnya. “Saya gak percaya kok, kalau sifat manusia hanya dibagi menjadi empat. Manusia itu masing-masing unik”.

“Iya, saya setuju”. Lalu, ia mulai bercerita lagi. Ia terkesan lega. Sepertinya ia takut sekali dinilai orang dari daftar-daftar tertentu. Tenang saja, aku gak pernah menilaimu berdasarkan daftar-daftar gak jelas itu. Dibanding itu, aku lebih percaya dengan penilaianku sendiri… kekeke…

“Err… tadi saya mengirim offline massage. Sudah baca?”, aku mengangkat topik yang berbeda.

“Yang terjemahan itu?”

“Iya”

Temanku bertanya tentang sebuah kalimat yang mengharuskanku menerjemahkannya ke dalam bahasa asing. Aku baru belajar bahasa itu dan benar-benar tak yakin dengan kemampuanku yang pas-pasan. Sebenarnya, bisa saja aku menolaknya. Tapi… aku ingin punya alasan agar bisa bicara denganmu.

“Saya tadi sudah mencari beberapa kata, tolong dibenarkan jika salah, ya”.

Aku tahu benar kalau kamu tidak suka orang datang dan bertanya padamu dengan tangan kosong. Kau tidak suka orang yang tidak berusaha dulu dan hanya bisa meminta, kan? Apakah kau sering merasa diganggu oleh orang-orang seperti itu?

Aku memberinya kata-kata yang telah ku dapatkan sebelumnya. Ia membenarkan beberapa kata dan strukturnya.

“Sedang musim apa di sana?”, tanyaku mengangkat topik yang berbeda lagi.

“Sedang menjelang musim dingin”.

“Apakah ada salju?”

“Katanya sih ada. Tapi sekarang belum turun”.

Jika memang menjelang musim dingin, apakah di sana udara sudah terasa membeku? Apakah kau kedinginan?

“Jaga kesehatan baik-baik. Kabarnya musim panas di sana juga sangat panas”.

Argh, kenapa aku malah membicarakan musim panas? Yah, habisnya aku tidak tahu bisa seberapa dingin di sana. Yang kutahu, kalau musim panas suhunya bisa mencapai 40 derajat celcius. :P

“Sudah mulai belajar?”

“Sudah. Ternyata sangat sulit. Saya pikir akan bisa santai, ternyata tidak. Di sini cara belajarnya aktif, selalu ada presentasi”.

“Kau pasti bisa. Saya yakin kau pasti bisa”.

Perutku mulai terdengar keroncongan.

“Err… sudah dulu, ya. Lain kali disambung lagi. Saya mau makan malam dulu”.

“Iya”.

Tapi, itu adalah chatting terakhir ku dengannya.

PS: And I just wanna say this to you…

Because I can hear what you don’t say…

4 thoughts on “Chatting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s