Diary

Phobia #2

Finally, the door is open...
Finally, the door is open...

 

Lanjutan dari Phobia #1

Penderitaan akibat claustrophobia ini ku bawa hingga dewasa. Masalah pertama akibat phobia datang saat aku duduk di bangku SMU. Seperti yang pernah aku ceritakan di sini, saat SMU aku mengikuti sebuah kelompok ilmiah. Kelompok ini secara berkala mengadakan penelitian yang diadakan di berbagai desa di pedalaman Bali. Di sana, kami semua menginap di sebuah sekolah yang ada di desa itu.

Masalah datang saat malam tiba. Sebagian anggota terbiasa tidur dalam keadaan gelap. Mereka mendesak agar penerangan dipadamkan saat akan tidur.

Alarm tubuhku seketika menyala. Aku segera memutar akal, merancang alasan agar lampu tak dimatikan. Aku memang sengaja tidak mengatakan alasan phobiaku ini. Aku takut menjadi bahan olokan teman-teman. Tahu sendirilah, anak umur segitu. Kalau mereka tahu aku memiliki ketakutan ini, jangan-jangan mereka akan mengunciku di kamar mandi. Walaupun itu dimaksudkan hanya sebagai gurauan, tapi jika itu sampai terjadi, mungkin aku bisa pingsan sebelum pintu dibukakan.

Jadi, aku mengatakan pada teman-teman kalau sebaiknya lampu jangan dimatikan kalau malam. Alasannya adalah demi keamanan. Jika terjadi sesuatu, entah ada yang menyusup atau punya niatan buruk, tentu dapat diketahui segera jika lampu menyala. Satu ruangan yang hanya berisikan anggota wanita itu langsung bergidik mendengarkan penjelasanku. Mereka manggut-manggut membenarkannya. Akhirnya, mereka semua setuju lampu tetap menyala saat malam. Fiuhh… aku lolos dari lubang jarum.

Masalah terberat adalah saat Nyepi. Setahun sekali di Bali, orang-orang tak boleh menyalakan lampu selama sehari-semalam. Dapat dipastikan setiap malam tergelap dalam setahun itu aku sulit untuk tidur. Walau di dalam kamarku sendiri aku menyalakan lampu 5 watt, tapi kalau tidak hati-hati, pelita sekecil itu bisa sangat menonjol di tengah kegelapan yang mencekat. Lampu kecil itu kumasukkan ke dalam kolong tempat tidur, dan aku berbaring di pinggir dipan agar mendapatkan cahayanya. Argh… kalau dipikir-pikir sungguh sangat merepotkan!

Setelah bertahun-tahun berlalu, aku berpikir betapa beruntungnya aku selama ini dapat lolos dari jebakan ruangan tertutup. Namun, keberuntungan itu pasti takkan bertahan selamanya. Aku cemas, suatu hari nanti mungkin akan tiba saatnya ketika aku sedang berada di tempat yang tak kukenal, entah rumah teman atau tempat umum. Saat itu mungkin aku sedang berada di kamar mandi, lalu lampu tiba-tiba padam. Apa yang akan kulakukan saat itu? Apakah aku akan berteriak histeris juga dan mengagetkan si empunya rumah? Atau menangis meraung yang justru akan membuat mereka mengira kalau aku telah kerasukan? Aku benar-benar takut jika itu sampai terjadi. Jadi, aku memutuskan bahwa phobia ini harus diakhiri.

Aku pernah mendengar, kalau untuk menyembuhkan phobia, kita harus menghadapkan si penderita pada ketakutannya sendiri. Jadi, setelah mengumpulkan keberanian, suatu malam aku menghampiri saklar lampu kamarku. Sambil mengepalkan tangan untuk membulatkan tekad, aku menekannya. Lampu pun padam.

Sambil menahan rasa takut, aku berbaring di atas dipan. Sedetik, dua detik, aku mulai merasa kamarku mulai menciut dan kegelapan di sekitarku serasa menindih tubuhku. Aku mulai sesak nafas.

Buru-buru aku bangkit dan menyalakan lampu. Saat suasana kembali terang-benderang aku melihat ke sekelilingku. Kamarku tidak menciut seperti yang kurasakan, tentu saja. Aku tertunduk lesu. Tidak, tidak bisa begini. Kalau tiba-tiba begini aku tidak sanggup. Tapi… kalau bertahap, mungkin aku bisa.

Malam berikutnya, aku mematikan lampu kamar. Tapi, kali ini kamarku tidak gelap sepenuhnya. Nyala lampu kamar 60 watt telah terganti oleh lampu meja belajar 25 watt yang sengaja kunyalakan. Aku bisa tidur malam itu.

Menyalanya lampu meja belajar berlangsung selama beberapa minggu sampai aku terbiasa dengan sinar yang meredup saat malam. Setelah aku terbiasa, aku menyalakan lampu 5 watt. Awalnya kunyalakan dekat tempat tidurku, lalu secara bertahap kujauhkan pelitanya.

Beberapa minggu berselang, aku mulai terbiasa dengan cahaya redup saat aku tidur. Dan kini, tibalah saatnya untuk berhadapan dengan ketakutanku yang sebenarnya. Aku benar-benar mematikan seluruh penerangan di dalam kamar.

Phobia itu pun muncul lagi. Aku mulai sesak nafas. Tapi, aku tak mau menyerah. Kukuatkan diriku untuk tidak menyalakan lampu. Dalam kegelapan itu, aku mendengar bisik lirih dari hatiku. Bisik yang sampai kini kujadikan sugesti jika rasa takut itu kambuh lagi. Katanya,

“Jika Alloh menguasai terang, maka Ia juga berkuasa atas gelap. Ia yang menguasai siang, juga berkuasa atas malam. Jika Ia melindungimu saat terang, apakah Ia akan lalai menjagamu saat gelap, Mirna?”

Sugesti itu kuulang-ulang hingga aku merasa tenang dan jatuh tertidur.

Aku terus melakukannya tiap malam. Memadamkan lampu, berdoa, dan yakin kalau Ia akan selalu menjagaku. Dan, sampai kini Alhamdulillah phobia ini tidak pernah kambuh lagi. Bahkan, jika aku terkunci dalam kamar mandi yang gelap gulita pun, aku tak berteriak histeris lagi. Walau masih waspada sih, akan keberadaan kecoa-kecoa yang mungkin menghampiri (btw, aku juga jijik sama binatang yang satu itu. Alasannya pernah kutulis di sini)… :D

 

*Ini pertama kalinya aku membicarakan masalah phobia-ku pada orang-orang selain keluarga di rumah. Bahkan, teman terdekatku pun tidak pernah tahu kalau aku pernah memiliki ketakutan akan ruang gelap tertutup. Dengan menuliskan ini, aku menganggap diriku sedang meneken kontrak untuk lepas dari ketakutan ini selamanya. Finally, I can say… ‘I’m done with my past!!”

Gambar dari sini

2 thoughts on “Phobia #2

  1. selamat jeng telah berhasil mengatasi satu phobianya..
    ada yang bilang bukan gelap yang kita takuti, tapi ketidak tahuan kita akan apa yang ada dalam kegelapan yang menjadikan kita takut. dengan kata lain, perasaan kehilangan kontrol akan apa yang mungkin akan terjadi :)
    saya tak punya phobia gelap jadi saya mungkin tak paham rasanya. bagaimana ketakutan bisa berimbas kepada fisik orang tersebut..

    1. Sebenarnya itu memang benar, Jeng. Sebagian besar ketakutan hanya terjadi di pikiran saja. Saya bisa sembuh total setelah sadar kejadian di masa lalu gak akan bisa menyakiti saya lebih dari ini. Setelah itu, tinggal fokus pada mengatasi ketakutan itu saja, meyakinkan diri kalau gak akan terjadi hal buruk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s