Diary

Phobia #1

Sedari aku kecil, ayah dan ibuku adalah pekerja. Ayahku seorang pegawai negeri di Bandara Ngurah Rai, sedang ibu bekerja sebagai karyawati perusahaan swasta. Pekerjaan mereka praktis membuat mereka tak berada di rumah sepanjang hari. Karena itulah, selalu ada pembantu di rumah kami, sebagai penjaga rumah, sekaligus pengawas anak-anak.

Sejak aku berusia tiga hingga menginjak kelas satu SD, orangtuaku mempekerjakan seorang gadis dari Karangasem. Namanya Mbok Nengah. Di Bali, panggilan ‘Mbok’ tidak sama maknanya dengan di Jawa. Jika di Jawa ‘Mbok’ bermakna ‘Ibu’, maka di Bali panggilan itu sama artinya dengan ‘Mbak’.

Mbok Nengah memiliki tubuh gempal dengan kulit kuning langsat dan bermata sipit. Ia berwatak keras serta galak. Hampir semua anak-anak takut padanya, termasuk aku dan kakakku. Ia selalu menyuruh kami mandi sore tepat pukul tiga. Bahkan, jika kami sedang asyik bermain di lapangan pun, ia tak segan menghampiri kami yang tengah bermain dan membentak kami untuk segera pulang. Saat sudah dewasa aku baru sadar, kalau itu dilakukannya agar anak-anak terlihat rapi saat ibu pulang tepat pukul empat sore.

Ia biasa menyuruh kami ini-itu. Tidur siang harus pada waktunya, bermain hanya sampai jam tiga sore, dan seringkali mengomel. Dan terkadang… hanya kadang-kadang… ia menyekapku di kamar mandi.

Kami tinggal di perumahan yang disediakan pihak bandara untuk para karyawannya. Saat aku kecil, kami tinggal di Blok Timur, dimana rumah-rumah bertipe kecil berdempetan satu sama lain. Tak ada sela antara satu rumah dengan rumah lainnya. Keadaan ini menyebabkan kamar mandi di setiap rumah yang ada di bagian tengah sama sekali tidak memiliki ventilasi. Di ruangan berukuran 2×2 meter, pengap, serta tanpa cahaya itulah tempat ia menyekapku.

Aku tak ingat alasan mengapa aku disekap di sana. Mungkin karena aku nakal, atau karena aku terus menangis, atau karena aku tak mau menuruti perintahnya, aku tak tahu yang mana. Tapi, seingatku aku beberapa kali dikurung di tempat itu. Tidak hanya aku, sebenarnya. Ia juga pernah menyekap kakakku di ruangan yang sama tapi tidak sesering diriku.

Aku masih ingat, semua rontaan, permintaan ampun, dan tangisan yang ku keluarkan tak sanggup mencegahnya untuk tidak memasukkanku ke dalam kamar mandi kecil itu.

Saat pintu ditutup dan ditahan dari luar, kegelapan yang luar biasa pekat menyergapku. Kamar mandi itu hanya punya satu sumber penerangan, yaitu bohlam kecil yang menggantung di langit-langit. Dan, jika ia mengurungku, ia tak pernah menyalakan pelita itu. Sekuat tenaga aku menggedor pintu meminta untuk dibukakan. Aku sungguh tak tahu apa perasaannya saat mendengar raunganku dari balik pintu.

Hal yang aneh justru terjadi setelah beberapa kali aku disekap di sana. Aku mulai mati rasa.

Ya, aku menangis dan meronta saat ia mulai menggiringku ke dalam kamar mandi. Tapi, tangisan itu berhenti saat pintu mulai ditutup. Tubuh kecilku seperti tersadar, kalau percuma saja menangis minta dibukakan. Jadi, aku mulai duduk menunggu di lantai yang lembab. Pandangan ku arahkan ke pintu, menunggunya terbuka. Aku duduk. Hanya ditemani gelap. Dalam diam.

Rupanya, saat ia tak mendengar lagi tangisanku, ia mulai merasa cemas. Diam-diam ia membuka sedikit pintu kamar mandi. Melihat selintas cahaya datang dari arah yang kupandang, sontak aku berdiri. Ia yang melihatku berdiri, cepat-cepat kembali menutup pintu itu.

Itulah yang terjadi setiap ia menyekapku kemudian. Aku duduk menunggu pintu dibukakan dalam diam. Dan, mungkin karena ia merasa ‘hukuman’ itu sudah tak mempan lagi untukku, ia berhenti menyekapku.

Sampai ia keluar dari rumah kami saat aku masuk SD, aku tak pernah mengatakan apa yang telah ia perbuat pada ibuku. Aku tak tahu kenapa aku tidak bilang. Mungkin karena takut, atau karena lupa. Seingatku aku baru mengatakannya saat aku SMP, saat ibuku kaget mendengar teriakan dan  tangisan histerisku karena listrik padam saat aku berada di kamar mandi.

Ternyata, di bawah sadarku peristiwa itu sebenarnya telah melukai jiwaku. Tanpa sadar aku selalu meminta lampu kamar untuk selalu dinyalakan saat aku tidur. Aku juga sering merasa sesak nafas jika berada di dalam ruangan gelap. Dan puncaknya adalah teriakan histerisku saat kejadian yang sama terulang kembali, aku terkurung di dalam kamar mandi yang gelap sekali lagi.

Saat itulah aku tahu kalau aku telah menderita phobia akan ruang gelap tertutup, atau bahasa bekennya Claustrophobia.

 

Gambar dari sini

7 thoughts on “Phobia #1

  1. *hugs*
    Sedih sekali pernah disekap begitu jeng, sampai trauma gitu.. :(
    Susah ya jadi orang tua yang sibuk, tak bisa menyertai pertumbuhan anak dengan maksimal. Kalau punya Mbok, susah milih mana yang sekiranya baik, karena salah-salah anak dibesarkan dengan cara yang kurang kita setujui. Padahal masa anak-anak adalah masa yang penting untuk perkembangan jiwa anak. Kalau jiwanya terluka saat kecil ya dibawa sampai dewasa.. :(

  2. Wah sere juga ya, disekap begitu. Tapi ini baru 1, berarti ada lanjutanya kan? semoga mbak mirna bisa mengatasi phobia ini ya. Haha saya semngat banget lho baca ini serius. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s