Cerita · Renungan

No Regret, please…

Sore itu pantai tak terlalu ramai. Beberapa anak tampak bermain pasir, sedang beberapa lainnya asyik berenang di pinggir pantai. Aku dan dia berjalan beriringan menyusuri pesisir. Bau masin tercium di udara, mengiringi langkah-langkah kaki kami yang terbenam dalam pasir dan meninggalkan jejak di belakang.

“Apa yang sedang kau pikirkan”, pertanyaannya menyentakkanku dari lamunan.

“Ng?”, tatapku tak mengerti. “Aku tidak memikirkan apa-apa”.

Ia berdecak sambil menggelengkan kepala. “Dahimu sudah berkerut sedari tadi, masih berani bilang tidak memikirkan apa-apa? Setidaknya pikirkanlah orang yang berjalan di sampingmu yang kau diamkan sejak tadi”. Ia manyun.

Aku tersenyum, tahu kalau ia hanya pura-pura marah. Aku menghela nafas dalam. “Apakah kau tahu kalau aku sangat benci menyesal?”

“Kenapa?”, tanyanya ingin tahu.

Aku memandang jauh ke depan. “Saat menyesal, aku merasa tidak berdaya. Semuanya sudah terjadi dan aku tidak bisa mengubahnya lagi. Mungkin itu sebabnya penyesalan dikatakan selalu datang terlambat, ya. Tapi…”. Aku membiarkan ujung kalimatku menggantung di udara, menunggu reaksinya.

“Tapi apa?”, tanyanya lagi saat aku tak kunjung melanjutkannya.

Aku tersenyum lagi. “Tapi, setelah menyesal, biasanya aku menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya”.

Aku menghentikan langkahku dan memandangnya. “Jadi, katakan padaku. Menurutmu, menyesal itu baik atau buruk? Aku bingung”.

Ia tertawa kecil. “Aah… sudah ku sangka akan jadi teori baru”, ujarnya sambil kembali melanjutkan langkahnya. Aku menjejerinya.

“Penyesalan… baik atau tidak?”, ia mengulangi pertanyaanku lirih, lebih tertuju untuk dirinya sendiri. Keningnya berkerut tanda berpikir, kemudian, “Menurutku, keduanya baik. Menyesal, tidak menyesal… keduanya baik”. Ia menoleh memandangku yang ku balas dengan tatapan bingung.

“Karena takut menyesal, kita menjadi berhati-hati sebelum mengambil tindakan. Berusaha mengantisipasi segala kemungkinan, dan mengambil risiko yang sanggup kita tanggung. Dengan rasa cemas itu kita akan membuat perencanaan yang optimal”, urainya panjang.

Aku manggut-manggut. “Lalu, baiknya menyesal?”

“Seperti yang kau bilang tadi. Setelah ada kejadian dan kita menyesal… kita akan bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi. Dan karena itulah, kita menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi, keduanya baik”, ia menyimpulkan.

“Tapi, aku tetap benci menyesal”, kataku sambil menunduk, memandang pasir yang kuseret saat aku berjalan.

“Kau mengatakan ini… apakah karena telah banyak menyesal?” Ia melirikku sambil tersenyum jahil.

Aku tertangkap basah…

“Lihat! Ada burung camar!”, ujarku seketika sambil menunjuk ke arah seekor burung yang terbang melintas.

Ia terbahak. Yeah, I know… Itu sebuah pengalihan pembicaraan yang payah…

Setelah tawanya reda, ia menatapku lama. “Jangan menyesal lagi”.

Aku balas memandangnya.

“Kau selalu bilang kan, kalau kau suka dirimu yang sekarang?”, ujarnya lagi. “Dirimu saat ini takkan berdiri di sini jika bukan karena semua hal yang kau lakukan dan tidak kau lakukan di masa lalu. Jadi, jangan menyesal lagi”.

Aku tercenung mendengar semua perkataannya itu.

“Hahh… sore yang cerah, ya…”, ia menarik tangannya ke atas dan menghirup nafas dalam-dalam. Pengalihan pembicaraan yang payah juga, menurutku. Lalu, ia melangkah pergi.

Aku tersenyum lalu bergegas menyusulnya.

 

One thought on “No Regret, please…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s