Film

The Lovely Bones

Apa yang terjadi setelah kita meninggal? Apakah ada kehidupan setelah itu? Dan, apa yang terjadi jika kita mati penasaran? Apakah kita akan pergi ke dunia seharusnya setelah kita mati?

Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi benakku saat menonton “The Lovely Bones“, Sabtu kemarin. Film yang berlatar tahun 70-an ini mengisahkan tentang pembunuhan seorang gadis 14 tahun bernama Susie Salmon. Susie, seorang anak tertua dari tiga bersaudara, putri kesayangan ayahnya, anak kebanggaan ibunya, dan kakak yang baik bagi kedua adiknya, terbunuh dengan mengenaskan. Ruhnya yang terenggut tiba-tiba, enggan meninggalkan dunia. Merasa tak percaya dengan yang menimpa dirinya, sedih dengan keadaan kedua orangtuanya, ia terjebak di dunia antara hidup dan mati.

Susie Salmon (Saoirse Ronan) dalam perjalanan pulang dari sekolahnya. Ia melintasi ladang jagung dan bertemu dengan tetangganya, Mr. Harvey. Ia yang tidak tahu bahwa tetangga barunya adalah seorang serial killer, menuruti ajakan Mr. Harvey untuk masuk ke sebuah ruang rahasia di tengah ladang jagung. Di sanalah ia diperkosa dan dibunuh dengan sadis. Ruhnya yang tidak sadar jika telah tiada, berlari pulang menuju rumah. Sepanjang pelariannya, ia mendapati kotanya berubah menjadi sunyi. Ia bertemu dengan ayahnya di tengah jalan dan berteriak memanggilnya, tapi ayahnya tak mendengarnya. Sesampainya di rumah, ia tak menemukan seorang pun di sana, walau suara ibunya yang kebingungan terdengar di seantero rumah.

Saat tersadar kalau ia sudah meninggal, ia tetap tak bisa pergi karena duka yang mendalam dari orangtuanya yang menahannya. Ayahnya yang tak dapat menerima kematian anaknya (karena jasad Susie tak pernah ditemukan) selalu berharap Susie akan kembali. Sampai suatu malam sang ayah, Jack Salmon (Mark Wahlberg) meletakkan kapal dalam botol yang pernah dibuatnya bersama Susie di jendela kamar anaknya. Di atasnya, ia meletakkan sebatang lilin. Tiba-tiba, pantulan api lilin di kaca bergoyang, padahal api lilin sebenarnya tidak. Saat itulah ayahnya tahu kalau anaknya tak pernah pergi. Ruh Susie memutuskan untuk tinggal di dunia antara agar sang ayah tak kehilangan dirinya. Ia tinggal di sebuah paviliun yang terbentuk dari cinta ayahnya.

Namun, Susie tetaplah ruh yang penasaran. Ia tak bisa membiarkan sang pembunuh melenggang pergi. Apalagi saat tahu Mr. Harvey mulai mengincar adiknya, Lindsey karena gadis itu mulai curiga pada pria itu. Ia memberi pesan-pesan pada ayahnya (mawar mati yang tiba-tiba merekah kembali, suaranya memanggil sang ayah saat Jack Salmon ada di rumah Mr. Harvey). Sang ayah yang mulai yakin kalau pembunuh Susie adalah tetangganya sendiri, memutuskan untuk membunuh Mr. Harvey. Usahanya tak berhasil, dan ia justru nyaris terbunuh.

Susie yang merasa menyesal, akhirnya memutuskan untuk tidak turut campur lagi dalam kehidupan dunia. Ia harus melangkah dan berhadapan dengan ketakutannya sendiri. Susie kemudian masuk ke dalam masa lalu pembunuhnya dan melihat para korban sebelum dirinya.

Sementara itu di dunia nyata, Lindsey tak pernah menyerah untuk mencari tahu tentang siapa Mr. Harvey yang sebenarnya. Ia terus mencari kesempatan untuk bisa menyusup masuk ke dalam rumah tetangganya. Kesempatan itu akhirnya datang. Ia berhasil mendapatkan bukti sebuah buku yang menggambarkan detil jebakan untuk memperdaya kakaknya. Bukti itulah yang akhirnya diserahkan pada polisi.

Akhir dari film ini mungkin tak sesuai harapan para penonton. Sang pembunuh berantai berhasil kabur dan jasad Susie tak pernah ditemukan. Tapi, itulah hidup. Seringkali ia tak berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Namun, sang sutradara Peter Jackson (Lord of The Rings, King Kong) nampaknya tetap ingin membuktikan bahwa masih ada keadilan di dunia ini. Mr. Harvey akhirnya tewas dengan mengenaskan dengan cara yang tak disangka-sangka. Dan, Susie… ia tinggal di ‘surga’ bersama para korban lainnya.

Meski film ini terlihat aneh (penuh dengan imajinasi berwarna-warni khas Peter Jackson), tapi terus terang aku sempat menitikkan air mata saat melihatnya. Mark Wahlberg yang berperan sebagai ayah Susie, mampu memperlihatkan rasa cintanya yang besar pada anaknya. Padahal, aku tak pernah melihatnya bermain drama sebelumnya (ia terbiasa bermain di genre action). Film ini juga diperkuat oleh penampilan Rachel Weisz (The Mummy, The Mummy Return) sebagai ibu Susie yang lari dari kenyataan sepeninggal anaknya.

Anyway… sampai sekarang kepalaku masih penuh dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Apa yang terjadi setelah kita meninggal? Apakah ada kehidupan setelah itu? Dan, apa yang terjadi jika kita mati penasaran? Apakah kita akan pergi ke dunia seharusnya setelah kita mati?

Damn!

One thought on “The Lovely Bones

  1. Ada adegan dalam film ini yang seperti menegaskan tabu yang berkembang di masyarakat kita. Jangan terlalu menangisi kepergian orang yang kita sayang karena itu akan membuat mereka sedih dan merana di ‘alam’ sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s