Diary

Good Bye…

Akhirnya aku me-remove dia dari daftar friend list-ku. Bukan keputusan semalam, aku sudah lama memikirkannya. Statusnya di facebook seringkali penuh nada negatif. Ia juga seringkali agresif dan memberikan komentar pedas pada beberapa grup, bahkan grupnya sendiri. Melihat balasan komen orang lain di wall-nya, membuatku menduga ia pun sering berkomentar tajam pada teman-temannya. Tidak, aku tidak berhak mengkritik apapun yang ia tulis di wall-nya. Tapi, aku punya hak untuk memilih siapa yang ku jadikan teman dan ku dengarkan. Lelah dengan segala tingkah lakunya, maka aku hapus namanya.

Selamat tinggal, teman. Mungkin kau akan membenciku karena ini. Mungkin saat ini kau sibuk mencaciku di wall-mu, grup yang pernah kita bagi bersama, dan mengadukanku seolah aku adalah penjahat terbesar di seluruh dunia. Ya, hanya karena aku me-remove dirimu. Hanya karena aku tidak melakukan yang kau tuntut dari seorang ‘teman’.

Namun, dari rasa sayang terakhir yang kumiliki untukmu, ingatlah… kebahagiaan dan kesengsaraan yang kau rasakan bukan kau dapatkan dari orang lain. Kaulah yang membiarkannya merajai hatimu. Jadi, berhentilah menyalahkan orang lain. Berhentilah menjadi ‘korban’.

4 thoughts on “Good Bye…

  1. Betul sekali Mbak, remove aja… sy juga suka nyentil atau mengritik tapi saya rasa itu tetap proporsional, kalaupun terdengar sarkas kadang itu perlu sarkas. Teman kita sebenarnya adalah gambaran kepribadian kita karena kita yang memilih mereka.. gimana?

    1. Menurut saya, berteman haruslah jujur. Kalau sudah merasa tidak nyaman dgnnya, dan dia banyak memberikan pengaruh buruk, untuk apa diteruskan? Jangan merasa tidak enak. Kita mungkin tidak bisa mengubah seseorang, tapi kita bisa melindungi diri sendiri dari pengaruh buruk orang lain. Intinya adl harus tegas. Ya, kan?

  2. One of my favorite quotes – duh versi aslinya lupa, tapi salah satunya ini:
    “Keep away from negative people, they tend to corrupt” (bukan korupsi ya, tapi dalam artian mempengaruhi orang lain untuk menjadi lebih buruk)
    Yep. Kalau mereka mau tenggelam dalam kenegatifan mereka sendiri, silahkan, just don’t drag me down with you.
    Tapi sudahkah jeng mencoba mengkomunikasikan hal ini kepada ybs? Siapa tau ybs ternyata tidak sadar dia berlaku seperti itu, dan saat diingatkan dia bisa memperbaiki dirinya?

    1. Sudah, sampai menghabiskan komen berpuluh2 komen utk menyemangati dan menghiburnya. Namun, ia selalu kembali pada dirinya yg negatif. Akhirnya, saya memilih diam. Tapi, ia menanggapi sinis dan mengatakan kalau saya bukan teman yg baik. *menghela nafas panjang*
      Enough is enough. I don’t need someone like her in my life. I’m not a person who can get intimidated easily. So, I choose to leave.
      You’re right, Risti. If she wants to drown herself, it’s up to her. Just don’t drag me down too.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s