Menulis

Menjadi Penulis

Seorang teman suatu hari menegur saya antusias via online, “Mir, aku sekarang punya blog, lho. Aku mau jadi penulis!”

“Bagus, dong!”, sambut saya tak kalah antusias. “Sama nih seperti aku. Kalau gitu, ayo jadi penulis bersama-sama. Kita saling memberi masukan, ya”.

Dalam rangka menggiatkan semangatnya menulis, saya beri dia nama-nama akun di twitter yang saya kagumi timeline-nya. Mereka adalah para wordcrafters yang sering membuat saya melongo melalui cara mereka bertutur dalam status-statusnya. Saya sering bertanya-tanya bagaimana mereka bisa menjalin sempurna sebuah pesan dalam 140 karakter. Saya ingin bisa menulis seperti itu. Saya ingin menjadi seperti mereka.

Teman saya itu mengiyakan, dan mem-follow orang-orang yang saya sarankan.

Esoknya…

Saya berjumpa lagi dengannya di chatting.

“Gimana Jeng kabar tulisanmu? Udah jadi? Aku mau baca, dong”

“Mir… kayaknya aku gak mau nulis dulu deh”

“Eh, kenapa?!”

“Aku udah follow orang-orang yang kamu saranin kemarin. Minder aku… Tulisanku gak ada apa-apanya dibanding mereka”.

Aku menghela nafas di depan layar laptopku. Ada sedikit rasa bersalah. Kenapa niat baikku jadi bumerang gini, pikirku.

“Tapi, menulis itu kan keterampilan”, hiburku. “Gak ada yang bisa sekali nulis langsung jadi bagus. Perlu bertahun-tahun untuk mengasahnya”.

“Aku tahu itu. Tapi aku gak punya bakat”, sangkalnya.

Ah, bakat…

“Aku gak percaya tuh, kalau menulis adalah bakat”. Aku memang berpendapat begitu. Menulis memang bukan bakat dari lahir. Ia adalah keterampilan. Lahir dari usaha yang tekun dan terus-menerus.

“Iya sih, Mir. Menulis itu keterampilan. Tapi, bakat itu yang membedakan sebuah tulisan menjadi hidup atau gak”

“Yang menjadikan sebuah tulisan hidup atau gak, adalah keterampilan si penulis merangkai kata. Dan, semua itu bisa dipelajari”, ujarku bersikeras. Menurutku, semua orang yang bisa membaca sanggup untuk menulis kalau dia mau.

“Tapi, aku sibuk, Mir”, elaknya lagi. “Aku ini full time housewife. Sering gak punya waktu untuk nulis”.

Sibuk, ya…

“Kalau tekadmu kuat, kamu pasti bisa nemu jalan untuk nulis, kok. Banyak juga penulis yang full time housewife seperti dirimu. Banyak juga yang bekerja sekaligus ibu rumah tangga. Banyak yang sibuk luar biasa ngisi ceramah kesana-kemari. Toh, mereka masih bisa nulis juga”.

Saat menulis seperti itu, tiba-tiba saya teringat status Raditya Dika suatu hari di twitter. Kira-kira intinya gini,  ‘Menulislah, walau kamu cuma punya waktu Sabtu-Minggu untuk nulis. Menulislah walau cuma bisa satu atau beberapa halaman. Setelah setahun, mungkin kamu sudah bisa membuat satu buku’. Wow!

Percakapan sore itu terputus karena ia bilang anaknya rewel dan dia harus mengerjakan pekerjaan domestik lainnya. Chat hari itu pun berakhir, namun saya masih tercenung lama memandang halaman percakapan dengannya. Dalam hati saya berujar, Teman, kalau akun-akun itu membuatmu mundur dari menulis, bagaimana jadinya jika saya tunjukkan padamu banyak blog yang saya kunjungi dan kagumi. *lirik blogroll di samping*

Kalau saja kau tahu, betapa iri saya saat melihat tulisan mereka. Namun, alih-alih berhenti, saya justru berpikir kapan saya bisa menulis seperti mereka. Apakah kalau saya rajin dan tekun, kelak tulisan saya akan bisa mengalir seperti tulisan mereka.

Kalau saja teman saya tahu, semenjak membaca semua blog-blog indah itu, saya jadi rajin membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan membeli kamus tesaurus, serta rajin menyimak EYD dan tata bahasa. Kini, saya menyimak kalimat-kalimat dalam novel bukan lagi untuk menikmati ceritanya namun justru menganalisa tekniknya. Saya keranjingan. Saya terobsesi.

Terkadang saya bertanya pada diri sendiri, kenapa begitu keukeuh dengan cita-cita ini. Saya bisa memberikan seratus jawaban yang saya tahu  untuk menjawabnya. Tapi, ada seribu jawaban lagi yang saya tahu tapi tidak tahu cara memaparkannya. Tapi yang jelas, saya merasa sangat bahagia saat menulis. :)

3 thoughts on “Menjadi Penulis

  1. wah jangan pernah putus asa.. Woddy Ellen pernah bilang ‘tulisan pertama seseorang pasti tidak ada yg sempurna’. Tulisan saya juga dulu semrawutan ga karuan, tapi kalo sering baca, pasti lama-lama karakter tulisan kita bisa kebentuk kok.
    Salam kenal :)

    1. Bener banget!
      Dulu saya mengira para penulis hebat itu menulis sekali langsung jadi masterpiece… hehehe… naif sekali, ya. :-P
      Dulu rasanya waktu meng-edit adalah masa yang sangat membosankan. Ternyata, setelah sering dijalani, gak juga.
      Yup, lama-lama akhirnya karakter itu akan terbentuk juga. Tapi, entah kapan untuk saya. *lho?!* karena saya menulis berdasarkan apa yang terlintas saat itu juga sih…
      Selamat menulis juga ya, teman. Senang mengetahui kalau saya tidak sedang berjuang sendirian… :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s