Cerita · Diary

PIR ’98

Semasa aku duduk di bangku SMA, aku tergabung di dalam sebuah science club. Klub ilmiah itu bernama Kelompok Ilmiah Siswa SMU 1 Denpasar, atau disingkat KISS-1. KISS-1 memiliki beberapa kegiatan yang dilakukan secara rutin setiap tahunnya. Salah satunya adalah kegiatan Perkemahan Ilmiah Remaja (PIR).

Perkemahan ini diadakan setiap liburan cawu (caturwulan), sehingga dalam setahun kami menyelenggarakannya tiga kali. Lama waktunya tergantung dari masa liburan. Saat liburan cawu pertama dan kedua yang waktunya lebih pendek, perkemahan diadakan selama 4 hari 3 malam. Sedangkan, saat liburan panjang, PIR diadakan selama 7 hari 6 malam.

Judulnya saja yang perkemahan, tapi pada kenyataannya kami tidak berkemah, melainkan menginap di gedung Sekolah Dasar terdekat. Dengan fasilitas seadanya, para anggota KISS-1 tidur dengan menggelar tikar di lantai gedung sekolah, serta mandi di kamar mandi para penduduk sekitar. Tujuan PIR tak lain dan tak bukan adalah untuk mengasah kepekaan anggotanya dalam mengenali masalah yang terjadi di sekelilingnya. Lalu, berusaha untuk mengobservasi masalah tersebut lebih lanjut lagi.

PIR yang paling berkesan bagiku adalah yang terjadi pada liburan panjang tahun 1998. Saat itu kegiatan dilaksanakan di Desa Pupuan, Kabupaten Tabanan.

Seperti biasa, rombongan berangkat dari sekolah dengan mencarter mobil angkutan. Semua telah siap dengan bawaan pribadi maupun yang diwajibkan untuk dibawa saat pembagian tugas sebelumnya.

Setibanya di desa itu, kami segera merapikan sekolah tempat kami menginap agar dapat beraktivitas dengan nyaman. Setelah dirasa cukup, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian kelompok. Satu kelompok terdiri dari lima anggota junior, yang didampingi oleh dua anggota senior, laki-laki dan perempuan. Kelompok-kelompok yang telah terbagi, masing-masing berembuk mengenai topik yang akan diteliti. Jika belum ada ide, biasanya kegiatan dilanjutkan dengan survey singkat (alias jalan-jalan) sembari membuka mata dan telinga agar peka terhadap isu di sekitar.

Saat itu, kelompokku tertarik untuk mengangkat masalah upacara ngaben di daerah itu. Selama ini, ngaben yang kita tahu adalah membakar jenazah dengan api, kan. Tapi di daerah itu berbeda. Mereka ngaben dengan air. Nah lho?!

Kelompokku ingin tahu, mengapa hal ini bisa terjadi. Jadilah kami pergi bersama untuk mencari informasi.

Yang paling tahu tentang desa itu tentu adalah para perangkat desa, kan. Jadi, kami berangkat mencari Kepala Lingkungan daerah setempat. Kami mulai dengan menghampiri salah satu warga desa dan bertanya dimana kantor desa berada. Si Warga menjawab, “Oh, dekat kok, Dik. Itu, kelihatan dari sini”. Tangannya menunjuk ke suatu arah. Aku dan kawan-kawanku mengikuti kemana telunjuknya mengarah.

Ia benar. Kantor desa memang terlihat dari tempat kami berdiri. Tapi, itu di bukit seberang!

Karena tidak ada angkot, maka kami harus berjalan untuk bisa mencapainya. Dan, persis seperti lagu pada film ‘Remi’ (masih pada ingat, gak?), kami melakoni ini:

“Mendaki gunung, lewati lembah. Sungai mengalir indah ke samudera. Bersama teman, bertualang!”.

Jalanan yang kami lalui tampak lengang. Hanya beberapa kendaraan saja yang lewat. Sebuah motor tampak melintasi kami. Ia mematikan mesinnya saat turunan. Dan, menyalakannya lagi saat jalan mulai menanjak. Agar hemat bensin, rupanya.

Akhirnya, setelah bersusah payah, kami berhasil sampai di kantor desa itu. Namun, kami kecewa. Sang Kepala Lingkungan tak berada di tempat. Rupanya, untuk sebuah desa sekecil ini, para perangkat desa tak terikat jam kantor karena harus melakukan mata pencaharian utama lainnya.

Kami berembuk. Sudah jauh-jauh menuruni dan mendaki bukit, apakah kami akan kembali begitu saja?

Seorang seniorku berkata kalau ia melihat plang ‘Kebun Binatang’ saat perjalanan ke sini. Kami tidak percaya. “Ah, masak ada kebun binatang di daerah terpencil begini”, kata seniorku satu lagi. Setahu kami, saat itu belum ada satu pun kebun binatang di Bali.

Tapi, senior yang katanya melihat plang itu, bersikeras, “Bener kok, ada. Kalau gak percaya, ayo kita lihat lagi!”, tantangnya.

Kami semua berbalik arah. Tak lama kemudian, terlihatlah plang ‘Kebun Binatang’ itu. Tidak besar. Hanya tertulis di atas kayu dan terlihat jelas sekali ditulis oleh tangan. Plang itu terpasang di depan jalan setapak kecil yang mengarah ke hutan. Kami berembuk sebentar, dan memutuskan, karena sudah jauh-jauh kesana, kami tak mau pulang dengan tangan hampa. Tak ada salahnya, jika melihat-lihat dulu sebelum kembali.

Bertujuh, kami menapaki jalan kecil itu. Pepohonan rindang menaungi kami. Semakin jauh masuk, pepohonan terasa semakin jarang. Kami pun tersadar bahwa ini bukanlah hutan, melainkan pekarangan rumah orang. Pepohonannya yang tak rapat dan semakin rapi, menandakan hal ini.

Beberapa ratus meter berjalan, sampailah kami di sebuah tanah yang sedikit lapang. Di sana terdapat beberapa kandang. Kami terpana. Plang itu tidak bohong! Memang benar, ada semacam kebun binatang mini di sana. Kami bergegas mendatangi kandang-kandang itu dan melongok untuk melihat isinya. Ada lutung merah berekor panjang, burung rangkong, dan beberapa burung berparuh aneka warna. Singkat kata, ada banyak hewan langka di sana. Mereka ditempatkan di berbagai kandang (yang menurutku sebenarnya kurang layak).

Lalu, muncullah seorang pria, entah dari mana, menghampiri kami. Perawakannya jangkung. Rambutnya panjang tak tertata. Ia juga berkumis dan berjenggot. Kami agak bergidik melihatnya. Ini jin darimana?, pikir kami.

Ia menyapa kami. Dan menjelaskan bahwa dialah pemilik tempat itu. Jadi, ia hobi (?) mengoleksi hewan langka dan memelihara mereka. Dan, ia membebaskan siapa saja untuk bisa melihatnya. Ia lalu mengajak kami berkeliling tempat itu. Semacam pemandu wisata, dengan sigap ia menjelaskan berbagai binatang yang ada di sana.

Kemudian, sampailah kami di sebuah kandang yang sangat besar. Kandang itu terbuat dari kawat dan berbentuk melingkar. Diameternya mungkin kurang lebih tujuh meter. Di tengah-tengah kandang itu terdapat sebuah lubang berbentuk sumur kering berdiameter lima meter sedalam 3 meter. Di dalam kandang, ada banyak jenis unggas-unggasan. Ada ayam hutan yang berkokok nyaring, berbagai macam burung, dan yang paling menarik perhatianku adalah adanya beberapa ekor merpati kipas. Dinamakan seperti itu, karena ekor mereka tegak membentuk kipas.

Lalu, mataku melihat ke dasar sumur itu. Segera saja, aku dan teman-teman melongo melihat ke dalamnya. Ada dua ekor ular phyton di sana sedang tidur melingkar dengan tenangnya. Kami mengkonfirmasi hal itu pada si empunya. Dengan tenang ia menjelaskan bahwa ular-ular di sumur itu masing-masing panjangnya 5 dan 9 meter. Ia menambahkan, bahwa sebenarnya dulu ada yang 12 meter, tapi ular itu mati saat berusaha menaiki sumur. Ia terjatuh saat berusaha mendaki dan jatuh tepat mengenai kepalanya.

Namun, sebenarnya yang membuatku terlongo bukan hanya keberadaan ular-ular itu. Apakah kau tidak menyadari ironinya?

Di dalam kandang itu, hidup berdampingan predator dan mangsa. Ular dan bangsa burung-burungan. Bagaimana para unggas itu mampu bertahan hidup di sana? Oke, aku berpikiran positif. Mungkin, para phyton itu diberi makanan sendiri. Namun, aku tetap bertanya pada si empunya.

“Bapak memberi makan ular-ular itu apa?”

Ia menjawab dengan santai, “Oh, saya tak pernah sengaja memberi mereka makan”.

Aku bengong. “Lalu?”

“Yah, kalau ada unggas yang terjatuh ke dalam sumur itu, ya jadi santapan mereka”, ujarnya kalem.

Sadisss…

Aku tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan para merpati dan ayam di dalam kandang itu karena tahu mereka bisa dimangsa kapan saja. Bahkan, merpati kipas itu ada yang sedang mengerami telur-telurnya.

Belum habis keterkejutan kami, tiba-tiba terdengar bunyi kecipak air. Ternyata suaranya berasal dari sebuah kolam ikan. Dengan penuh rasa ingin tahu, kami semua menghampirinya. Awalnya tidak terlihat apa-apa. Lalu, terdengar lagi bunyi kecipak air yang lebih keras. Saat mata kami mengikuti arah suara, terlihatlah seekor ikan air tawar berwarna abu-abu kehitaman. Panjangnya seukuran lengan orang dewasa. Lebar tubuhnya sekitar 30 senti. Seumur hidup, baru kali itu aku melihat ada ikan air tawar sebesar itu. Kami semua ternganga untuk kesekian kalinya.

Saat kami belum tersadar dari keterkejutan, laki-laki eksentrik itu bertanya pada senior laki-laki kami, “Anak kemari ada urusan apa?”

Senior yang ditanya menjawab sopan, “Begini Pak, kami kemari sebenarnya ingin mencari Kepala Lingkungan di sini. Tapi, beliau tidak ada”.

Tiba-tiba lelaki itu berkata (masih dengan gaya kalemnya), “Saya kepala lingkungan di sini. Ada apa mencari saya?”

Kami terkejut (lagi). Berpandang-pandangan satu sama lain, lalu mulai tertawa kecil, tidak percaya dengan kebetulan yang kami alami saat itu. Sambil tersenyum, seorang senior menjelaskan maksud dari kedatangan kami, hendak mewawancarai beliau.

Sang Kepala Lingkungan pun menyatakan kesediaannya untuk diwawancara. Tak membuang banyak waktu, kami bergantian menanyainya.

Dari wawancara tersebut terungkap alasan mengapa tidak boleh diadakan pembakaran mayat di sekitar situ. Jenazah hanya boleh disucikan dengan air tirta. Tidak semua desa di sana melakukan tradisi ini, memang. Hanya desa yang berada di sekitar Gunung Batukaru. Alasannya, di gunung tersebut terdapat beberapa pura yang dianggap suci oleh masyarakat setempat. Asap dari pembakaran mayat tidak boleh sampai melalui pura-pura tersebut. Itulah sebabnya tidak pernah ada upacara ngaben dengan api di sana.

Setelah puas dengan jawaban Bapak Kepala Lingkungan, kami pun berpamitan pulang.

Sembari berceloteh riang, merasa tidak percaya dengan pengalaman yang didapat, kami segera tersadar… kami harus melakukan perjalanan Si Remi lagi. Oh, tidak!, pikir kami. Kami tidak akan kuat. Tidak sebelum perut ini diisi makanan. (eh?!)

Tengok kanan-kiri, terlihat sebuah plang bertuliskan “Tipat Cantok” (semacam ketupat tahu dengan saus kacang). Dengan perut keroncongan kami berlarian menghampiri warung itu. Dan, berikut menu yang kusantap di warung itu. (Psst… Mohon maklum, ya. Ini menunya orang kelaparan):

Sepiring tipat cantok

air putih (gratis)

dua gelas es daluman (karena sangat enak, jadi nambah)

dan cup-cup sebungkus

Semua makanan itu masuk ke dalam perutku dan hanya menghabiskan seribu perak. Yap, seribu perak, teman. Bahkan, dengan uang segitu pun, di Denpasar saat itu tidak akan mendapatkan semangkuk bakso. Sebagai perbandingan saja, saat itu di tengah kota Denpasar, bakso paling murah seharga dua ribu rupiah. Isinya pun hanya mi putih seadanya, bakso 6 buah seukuran gundu, dan kuah yang hanya berasa air, garam, serta penyedap rasa.

Kami pulang dengan kekenyangan. Err… sebenarnya akulah yang kekenyangan. Berjalan pun rasanya sudah tak mampu lagi.

Lelah dan kenyang membuat jalanan yang kami lalui terasa amat jauh. Saat  berjalan dengan penuh keengganan itulah, lewat sebuah truk pick up. Kebetulan, isi di belakangnya tidak terlalu penuh. Kami beramai-ramai memintanya berhenti. Dengan niat patungan untuk membayar mobil itu, kami diijinkan naik. Kebetulan arahnya memang searah dengan SD tempat kami menginap. Dengan senang hati dan rasa terima kasih, kami menaiki bak terbuka di belakangnya.

Saat mobil mulai melaju, hujan mulai turun. Semakin lama semakin deras. Tak ayal, kami semua basah kuyup karenanya.

Tak berapa lama kemudian, sampailah kami di depan gang  menuju sekolah. Mobil pick up perlahan berhenti tepat di mulut gang. Satu persatu, aku dan teman-teman turun dari bak di belakangnya. Hujan masih turun, namun tak sederas tadi.

Saat kami mengumpulkan uang dan hendak membayar, sang supir menolaknya. Ia tidak merasa keberatan mobilnya ditumpangi kami semua, apalagi tujuannya memang searah dengan kepergian kami. Kami semua mengucapkan terima kasih berkali-kali padanya. Satu lagi keberuntungan yang kami dapat hari itu.

Ribuan rasa terima kasih kami ucapkan dalam hati menyukuri yang terjadi hari itu. Hari yang luar biasa. Dan, meski 12 tahun telah berlalu, aku tetap merasa hari itu adalah salah satu dari hari-hari terbaik yang pernah kulalui dalam hidupku.

 

3 thoughts on “PIR ’98

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s