Diary · Menulis

Hellow, Mellow!

Terkadang, saat terkena Bad Mood Syndrome, sedangkan tenggat deadline semakin mepet, saya melakukan ‘pemanasan’ sebelum benar-benar menulis. Maksudnya, menulis apapun yang terlintas di pikiran saat itu.

Biasanya, setelah pemanasan, sindrom akut itu akan perlahan memudar dan mood saya jadi sedikit membaik.

Nah, berhubung saya sedang terkena sindrom itu sore ini, maka tadi saya sempat melakukan pemanasan. Ini dia hasilnya,

Ia memanggilku. Aku tahu, ia memanggilku. Aku dapat mendengar seruannya. Aku ingin membalas panggilannya, namun suaraku tercekat. Namanya terhenti di ujung tenggorokku. Lidahku kelu. Sekuat tenaga aku berusaha teriak, namun sia-sia. Tak satupun bunyi sanggup keluar dari mulutku.

Ia memanggilku lagi. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Aku dapat merasakan suara langkah kakinya yang mendekat.

Aku kembali berusaha untuk mengeluarkan suaraku. Ingin aku berseru, “Hei, aku di sini!”, agar ia tahu keberadaanku. Tapi, semakin keras aku berusaha untuk berteriak, semakin kelu lidahku jadinya.

Aku menangis. Aku tak tahan lagi. Bagaimana bisa, sedekat ini aku dengannya namun tak dapat meraihnya? Bagaimana bisa, saat ia berada tepat di depanku, aku justru tak dapat bicara padanya?

Ya, ia kini memang ada di hadapanku. Matanya mencari ke delapan arah mata penjuru.

“Hei, aku disini!”, hatiku menjerit. “Kenapa kau tidak dapat melihatku? Aku disini!”

Bahkan, saat matanya memandang ke arah tempat ku berdiri saat ini, ia seperti tak dapat melihatku. Apakah aku telah menjadi tembus pandang? Apakah sosokku mulai menghilang?

Saat tak menemukan yang dicari, ia berlalu pergi. Aku sendiri lagi. Sambil berurai air mata, aku berujar lirih, “Aku di sini…”.

*Akhirnya suaraku dapat keluar. Sayangnya, semua sudah terlambat*

Ternyata, sore ini saya sedang mellow. Padahal setelah ini, saya seharusnya menulis suatu tulisan yang ceria. Huhuhu…

3 thoughts on “Hellow, Mellow!

  1. hihihi. bener banget! sering banget ngalamin yang begini. mood itu belum bisa saya lepaskan dari tulisan.. lagi mellow ya tulisan mellow. lagi marah ya tulisan bernada marah.. gimana ya biar bisa melepaskan emosi pribadi dari tulisan? semisal penulis profesional yang menjadikan tulisannya sebagai media informasi, yang tentunya harus lepas dari opini dan bias pribadi..

    jeng ini bekerjanya di bidang apa ya kalo boleh tau?

    1. huhuhu… I wish I can answer that question. Aku juga gak tau gmn caranya melepaskan emosi dari tulisan kita. etapi, katanya penulis itu memang memasukkan unsur emosi pribadinya ke dlm tulisan2 mereka loh, selain pengalaman pribadi jg sih… kekekeke…
      Aku bkn penulis yg dibayar kok, jeng. just for fun… deadline-nya jg tenggat pribadi. tp berharap selalu bisa menepati sih, soale kan musti dispilin… eh, disiplin… :D :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s