Cerita · Renungan

Naruto dan Sasuke

Aku memasuki ruang tengah. Kulihat ia sedang duduk di lantai, asyik bermain game kesukaannya. Kudekati dia lalu duduk di sampingnya. Aku menatapnya, isyarat yang selalu kutunjukkan saat aku ingin bicara dengannya.

Ia melirikku sekilas. “Ada apa?”, tanyanya. Tatapannya masih tertuju ke arah monitor. Tangannya masih sibuk mempermainkan joystick. “Mengapa dahimu mengernyit begitu?”. Rupanya, dari tatapannya sekilas tadi, ia sudah dapat melihat bahwa aku sedang memikirkan sesuatu.

“Tadi… aku habis baca komik”, jawabku. “Naruto”, kataku lagi.

“Mm…”, gumamnya. “Lalu?”

“Hanya menjadi bertanya-tanya. Mana yang lebih baik, pernah memiliki lalu kehilangan atau tidak pernah memiliki sama sekali?”, tanyaku.

Dia tersenyum. “Masalah keluarga yang tidak pernah dimiliki Naruto dan keluarga yang pernah dimiliki Sasuke?”, tebaknya.

Aku mengangguk mengiyakan.

“Itu… gak penting, kan?”, lanjutnya. Ia menekan tombol dengan gemas. Jagoannya di game hampir saja kalah. “Sebenarnya… apakah kita pernah benar-benar memiliki sesuatu?”, lanjutnya. Kali ini mimik wajahnya lebih tenang. Jagoannya selamat.

Aku menatapnya tak mengerti.

“Memiliki atau tidak memiliki sesuatu… apakah kita yakin pernah benar-benar memiliki sesuatu? Bukan itu yang terpenting”, terangnya lagi.

Aku heran. Dia memiliki mata ketiga atau apa. Dia seperti bisa melihat mimik wajahku tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.

“Naruto…”, lanjutnya. “Dia selalu menghargai yang ia dapat saat ini. Dia memang tidak pernah memiliki keluarga, jadi ia menghargai setiap apapun yang diperolehnya.”

“Sasuke…”, ucapnya. “Dia selalu menolak yang dia dapat, dan terus terpaku pada rasa kehilangannya di masa lalu”.

“Kurasa itu yang lebih penting untuk diperhatikan”, katanya menarik kesimpulan.

Aku menatapnya. Kudekatkan wajahku dengan wajahnya, lalu berpaling pada monitor yang sedari tadi dipelototinya.

“Ada apa?”, tanyanya jengah.

“Aku ingin tahu. Apakah kau sedang membaca teks dari monitor itu?”, tanyaku heran.

Dia tertawa.

“Tidak”, jawabnya. “Aku membacanya dari jawaban di keningmu”, serunya di sela-sela tawanya.

Gantian aku yang tertawa mendengar jawaban asalnya.

(Percakapan di atas adalah fiktif)

4 thoughts on “Naruto dan Sasuke

  1. Menurutku percakapan di atas sangat lucu sekaligus agak ironis. Dua orang yang melakukan kegiatan yang biasanya dilakukan anak kecil (membaca komik dan main game), tapi pembicaraannya berisi seperti orang-orang dewasa. Well, kurasa orang yang melakukan kegiatan seperti anak kecil, bukan berarti mereka juga kekanak-kanakan dalam berpikir. (IMHO)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s