Buku · Cerita · Renungan

Seutas Awan Kecil

Dalam sebuah workshop kepenulisan, Mbak Izzatul Jannah dari Forum Lingkar Pena (FLP) membacakan sebuah cerpen dari sebuah buku kumpulan cerpen. Aku tidak tahu apa judul buku itu, pun siapa pengarangnya (untungnya aku masih mengingat judulnya). Namun, aku sangat tersentuh dengan kisah yang dibacakannya. Jadi, sepulang dari workshop tersebut, dengan bekal ingatan yang kupunya, cepat-cepat aku menuliskan kembali kisah ini. Jika di antara yang membacanya mengetahui siapa nama pengarangnya dan judul bukunya, mohon diberitahukan melalui komentar di bawah. Saya sangat ingin membacanya secara langsung.

Seutas Awan Kecil

Alkisah, ada sebuah awan kecil. Begitu kecilnya ia, hingga hampir tak sampai seutas. Ia sangat ingin menjadi seperti awan-awan besar yang menjadi hujan dan membuat lembah-lembah menjadi hijau. Maka, ia mendatangi awan-awan besar itu dan bertanya, “Bolehkah aku ikut bergabung bersama kalian? Aku juga ingin menghijaukan lembah-lembah itu.”

Sebuah awan besar yang sedang menurunkan hujannya menoleh dengan gusar karena merasa terganggu dengan keberadaan awan kecil, “Bagaimana bisa kau menurunkan hujan? Kau hanya seutas awan kecil,” katanya dengan pandangan mengejek. “Kau menggangguku saja. Tidakkah kau lihat kami sekarang sedang sibuk?,” ujar awan besar yang lain. “Pergilah dari sini!”

Dengan tertunduk sedih si awan kecil meninggalkan kawanan awan besar itu. Tapi, ia tidak menyerah begitu saja. Ia terus mendatangi kelompok awan-awan besar yang lain, tapi mereka selalu menolaknya. Awan kecil lalu memutuskan untuk tidak bergabung dengan awan-awan besar lagi. Dia akan mencari sebuah tempat yang sesuai dimana ia akan menurunkan hujan sendirian. Ia berkelana, pergi ke tempat yang jauh..jauh..dan semakin jauh.

Sampai suatu hari, ia tiba di sebuah padang pasir yang sangat sangat tandus. Tak ada satu pun tumbuhan di sana. Dimana-mana yang terlihat hanyalah pasir.

“Inilah tempatnya!,”seru si awan kecil dengan gembira. “Aku akan menurunkan hujan di sini.”

Lalu awan kecil mengubah dirinya menjadi air. Tetapi sayang, karena dirinya hanya seutas, yang tercipta hanya setetes air saja. Dan awan kecil pun menghilang.

Setetes air itu jatuh..jatuh..dari langit menuju bumi.

“Tes!” tetes air itu jatuh di atas sebuah batu. Suaranya memecahkan kesunyian padang pasir yang tandus. Bumi yang sedang tertidur, terbangun dengan terkejut. “Ah, sudah mulai musim hujan rupanya”, serunya. “Aku harus membangunkan yang lain”.

“Wahai rumput, wahai pohon, bangun kalian. Musim hujan telah tiba. Segera…segera…bersemilah!”

Lalu rumput mulai menggeliat dan menjulurkan tunasnya keluar dari dalam tanah. Pohon-pohon pun bersemi. Seketika padang pasir yang tandus itu menjadi hijau.

Di kejauhan, awan besar melihat lembah yang hijau itu. Ia menyeru teman-temannya, “Lihat, di sana ada sebuah lembah yang hijau yang belum pernah kita kunjungi. Aku bahkan tak tahu jika ada lembah seperti itu di sana. Ayo kita segera ke sana dan memberi hujan.”

Dengan berbondong-bondong awan-awan besar itu menuju padang pasir yang kini telah berubah menjadi hijau. Di sana mereka menurunkan hujan yang menyebabkan lembah yang hijau itu semakin hijau. Lalu sebuah awan besar berkata dengan angkuhnya, “Akulah yang membuat lembah ini menjadi hijau”.

Tak ada yang membantahnya, tapi sebuah batu yang terkena tetesan air dari seutas awan kecil masih menyimpan kisah tentang awan kecil itu.

Ketika awan-awan besar pertama berlalu dan awan-awan besar lain tiba, sang batu menceritakan pada mereka tentang kisah seutas awan kecil yang menghijaukan padang pasir itu.

Menurut keterangan Mbak Izza, pengarangnya berlatar belakang militer. Maksud ia menuliskan cerpen ini adalah sebagai pembakar semangat para prajurit-prajurit kecil. Bahwa meski mereka ‘kecil’ pangkatnya, namun pengorbanan mereka sangat berharga bagi negara.

Namun, bagiku sendiri, cerpen ini memiliki arti yang sedikit berbeda. Bagiku, kisah ini memberi pesan bahwa sekecil apapun pengorbanan yang diberikan, jika itu tulus, tentu akan besar artinya. Karena itu, jangan pedulikan pendapat-pendapat orang lain yang meremehkan. Teruslah berusaha dan berjuang untuk mencapai impian. Suatu hari nanti, entah kita masih ada ataupun telah tiada, akan ada seseorang yang mengingat apa-apa yang telah kita lakukan. Saat itu, tersadarlah bahwa diri ini tidak hanya hidup dan mati percuma.

One thought on “Seutas Awan Kecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s