Cerita · Renungan

Sang Katak dan Sang Peri

Di sebuah pinggiran sungai, tinggallah seekor katak. Ia seekor katak yang ceria. Selalu bernyanyi dengan gembira.

“Kwok..kwok..”, begitu ia bernyanyi dengan nada yang teratur dan sangat indah.

Keindahan suaranya selalu dapat membuat awan menoleh ke tempat itu dan menurunkan hujannya di sana, hingga sungai itu tak pernah kering.

Keceriaannya selalu dapat membuat bintang-gemintang tersenyum dan menyapa tepi sungai itu setiap malam.

Pada suatu hari ,didapati sang katak ceria itu terlihat murung. Peri-peri yang tinggal di tepian sungai merasa heran melihatnya. Lalu, dipilihlah salah satu yang paling bijak di antara mereka untuk berbicara pada sang katak.

“Wahai katak, apa yang membuatmu bermuram diri?”, tanya peri itu. “Kami rindu pada nyanyian merdumu”.

Sang katak menengadah dan memandang sang peri dengan sedih. Lalu berkata, “Apakah yang kurang dari diriku, Peri yang baik?”

“Apa maksudmu?”, tanya peri itu tidak mengerti.

“Aku sudah bernyanyi setiap hari. Selalu tersenyum setiap kali. Tetapi, kenapa sampai sekarang mereka tidak mengundangku untuk tinggal bersama mereka?”

“Maksudmu dengan mereka itu, siapa?”, tanya sang peri lagi.

“Maksudku adalah langit, bintang, dan awan.”, jawab sang katak. “Setiap hari aku bernyanyi dan tertawa. Membuat mereka tersentuh hingga awan menurunkan hujannya di sini. Membuat bintang menjadi lebih cemerlang. Tetapi, kenapa mereka tidak mengundang aku untuk tinggal bersama mereka. Apakah benar, mereka suka padaku?”

Sang Peri tersenyum penuh pengertian pada sang katak, lalu berkata,

“Katak, temanku yang baik, saat kau bernyanyi apakah kau merasa bahagia?”

Sang Katak mengangguk.

“Dan saat kau bercanda dan tertawa, apa ada yang memaksamu untuk membahagiakan kami semua?”, tanya peri lagi.

“Tidak”, jawab katak. “Aku senang melihat kalian senang”.

“Katak, temanku yang tulus. Langit, awan, dan bintang memang sangat indah jika kita pandang dari bawah sini. Tetapi, apakah kau yakin kau akan bahagia di sana?

“Cobalah kau melihat sekitarmu. Apakah mereka tidak indah? Kau punya embun, rerumputan, air mengalir, rindangnya pohon, dan kami para peri sungai. Kami semua mencintaimu. Apakah itu tidak cukup untukmu?”

Sang Katak termenung diam mendengarkan.

Sang peri melanjutkan perkataannya, “Katak sahabatku, kebahagiaan bukan datang dari dimana kita tinggal dan bukan juga darimana kita berasal. Tidak juga dari hal-hal di sekeliling kita. Kebahagiaan datang dari dalam hatimu sendiri. Apakah kau bersyukur atas apa yang kau miliki. Dan, berbesar hati pada apa yang tidak kau miliki. Kebahagiaan bukan nanti. Tapi, juga bisa kau rasakan saat ini.

“Keberadaanmu di sini bukanlah karena kau tidak teberkati. Tidakkah kau tahu, kehadiranmu telah membuat kami bahagia? Kau melengkapi hidup kami.”

Para peri lain mendekati sang katak. Mereka menganggukkan kepala, menyetujui kata sang peri bijak.

“Jadi, katak yang baik, janganlah menyesal berada di sini. Jangan menyesali berada di antara kami. Karena bagi kami, kau berarti.”

“Oh tidak, peri temanku.”, Katak menggeleng kuat-kuat. “Bagiku, kalian juga sama berartinya. Aku tidak pernah menyesali persahabatan kita. Tidak akan pernah.

“Kau benar, peri. Walau aku tidak berada di atas sana, meski aku tidak secemerlang mereka. Tetapi, aku bahagia.” Katak tersenyum.

Hati sang katak tenang kini. Ia memiliki segala yang ia butuhkan di tempat ini. Yang ia butuhkan hanya menyadari dan menyukurinya.

sumber gambar: http://www.cairnsunlimited.com/images/i/lush_rainforest.jpg

One thought on “Sang Katak dan Sang Peri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s