Cerita · Renungan

Loper Koran

Suara motor terdengar mendekat. Aku melongok ke jendela untuk melihat siapa yang datang sepagi ini. Kulihat seorang loper koran mengantarkan koran pagi untuk tetangga depan rumah.

Ia takkan mampir ke rumahku. Sudah beberapa bulan ini kami sekeluarga tidak berlangganan koran lagi. Akses internet di rumah menyebabkan kami lebih senang membaca koran online sekarang.

Namun, kehadiran loper koran itu melempar ingatanku pada kenangan lebih dari sepuluh tahun silam.

Saat aku masih tinggal di kompleks perumahan bandara, ayahku memutuskan untuk berlangganan koran Bali Post. Saat itu, belum ada banyak agen koran, terutama di sekitar tempat tinggal kami. Jadi, ayahku pergi ke agen utama koran tersebut yang terletak di Jalan Teuku Umar, Denpasar. Dan, terhitung dari awal bulan itu, setiap pagi seorang loper koran mendatangi rumah kami membawakan sebuah koran Bali Post terbitan hari itu.

Loper itu adalah seorang anak remaja. Setiap subuh, tak pernah ia absen menyambangi rumah kami untuk mengantarkan koran. Dengan sepeda gayungnya, ia menempuh jarak lebih dari 15 kilometer dari kantor agen utama hingga rumah kami di daerah Tuban. Begitu terus yang ia lakukan selama bertahun-tahun.

Aku teringat, suatu hari ayahku bertanya padanya, apakah ia tidak sekolah. Dan, dari jawabannya terungkap kalau ia berangkat sekolah setelah menunaikan tugasnya mengantar koran setiap pagi. Terungkap juga, ternyata uang dari hasil menjadi loper koran itu, ia gunakan untuk membiayai biaya sekolahnya.

Selang beberapa tahun kami berlangganan koran padanya, suatu hari tampak ia datang dengan sebuah sepeda motor baru. Motor model laki telah menggantikan sepeda gayungnya. Ayahku yang tampak sedikit terkejut bertanya, apa benar ia telah membeli motor tersebut ataukah kantor yang telah meminjamkannya.

Dengan wajah berseri ia menjawab, bahwa ia membeli motor itu sendirian. Dari setiap upah yang ia terima sebagai loper koran, setelah ia sisihkan untuk biaya sekolah, ia menabung sisanya. Dan, setelah beberapa tahun, tabungannya cukup untuk membeli sebuah sepeda motor. Dengan senyum mengembang ia mengungkapkan bahwa kini dengan sepeda motor, ia bisa mengambil lebih banyak langganan lagi.

Setelah hari dimana ayahku melakukan percakapan dengannya, masih berjalan beberapa tahun kemudian kami berlangganan koran padanya. Dan, meski kini kami tak pernah berjumpa dengannya lagi, aku selalu mengingatnya. Seorang remaja yang telah mengenal arti kerja keras yang sebenarnya.

2 thoughts on “Loper Koran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s