Cerita · Diary · Renungan

How I Love Observing People!!

Aku punya ketertarikan khusus pada manusia. Iya, manusia… bukan alien. Bukan sesuatu yang aneh, memang. Manusia dapat kita temui tiap hari, dimana saja, kapan saja. Tapi, tahukah kau, bahwa tiap-tiap orang itu unik?.

Mereka memiliki ekspresi dan tingkah laku yang berbeda dengan orang lainnya. Cara mereka bertindak dan bereaksi sangat tergantung dari latar belakang mereka, darimana mereka berasal, dan dari sejuta variabel lainnya. Aku suka mengamati mereka.

Terkadang, saat makan sendirian di sebuah food court, aku akan duduk di salah satu sudut dan mulai mengamati.

Ada yang datang bersama keluarga mereka. Anak-anak yang tak bisa diam, berlarian kesana kemari. Sang Ibu membagi perhatian antara memperingatkan dan menjaga anak-anaknya serta sibuk memikirkan menu apa yang hendak disantap sekeluarga. Sang Ayah… duduk dan memikirkan menu-nya saja. (Oke, jangan berpikir bahwa aku gender, ya. Tetapi, kebanyakan wanita memang dilahirkan untuk multitasking dan sebagian besar pria adalah single tasking. Ada alasan logis untuk itu).

Lalu, ada yang datang bersama pacarnya. Duduk dan mengobrol, menikmati waktu dan merasa dunia adalah milik berdua, sementara yang lain ngontrak.

Ada yang datang bersama teman-teman mereka. Jika itu adalah segerombolan perempuan muda (baca: ABG), untuk memutuskan akan duduk dimana saja, mereka ribut. Sibuk berceloteh bahkan sebelum mereka duduk.

Namun, bukan hanya food court yang menjadi laboratorium observasiku.

Suatu hari, karena suatu urusan, aku mendatangi salah satu kantor pusat supermarket ternama di Bali. Sembari menunggu orang yang hendak kutemui, aku dipersilakan duduk di sebuah ruang tamu. Letaknya tepat di samping pintu masuk.

Melalui pintu masuk yang terbuat dari kaca film, aku dapat mengamati dengan jelas aktivitas yang terjadi di luar pintu.

Tepat di luar pintu, berjaga seorang satpam. Sikapnya selalu siap menanyai tamu asing yang akan masuk ke dalam kantor.

Pada pintu masuk berkaca gelap terpampang jelas sebuah tulisan, “Mohon jangan menyentuh kaca”. Maksudnya, setiap orang yang telah diijinkan untuk masuk, dimohon untuk mendorong pintu pada gagangnya dan bukan pada kacanya.

Namun, kuperhatikan sedari awal aku duduk menunggu, sering kali orang-orang yang masuk, justru mendorong pintu pada kacanya dan bukannya pada gagang pintu.

Dan, setiap kali itu terjadi, sang satpam mengambil lap dari dalam laci mejanya, kemudian dengan sigap membersihkan setiap sidik jari yang menempel pada kaca. Kejadian itu terus berulang berkali-kali.

Beberapa pikiran langsung terlintas di otakku. Apa yang dipikirkan Sang Satpam itu setiap kali mengelap kaca pintu, ya? Apakah ia marah karena orang-orang tidak menaati peraturan? Atau ia justru merasa biasa-biasa saja karena itu sudah menjadi tugasnya? Lalu, siapa yang mewajibkannya membersihkan kaca pintu tersebut? Apa alasannya?

Setelah kuperhatikan lebih lanjut, aku menemukan alasannya. Sidik-sidik jari yang menempel di kaca pintu, ternyata terlihat sangat jelas dari dalam. Mungkin karena unsur cahaya dari luar yang memperjelasnya, entahlah. Tetapi yang pasti, kaca pintu itu terlihat kotor jika ada sidik jari yang menempel di sana.

Pertanyaannya adalah, siapa yang begitu merasa terganggu dengan hal itu, bahkan tidak membolehkan satu sidik jari pun ada di sana? Sudah tentu, atasan Sang Satpam. Namun, aku enggan untuk mencari tahu lebih lanjut.

Aku juga sering memperhatikan orang-orang yang menjaga karcis parkir di supermarket. Tugasnya hanya memberikan karcis atau menarik karcis dan mengambil uang. Begitu sajalah tugasnya sepanjang jam kerjanya.

Terpikir olehku, apakah mereka tidak jenuh hanya melakukan hal itu seharian? Lalu, jika tidak ada yang masuk atau keluar, apa yang mereka lakukan?

Suatu hari, aku pernah melihat seorang petugas parkir yang asyik membaca buku di sela-sela pekerjaannya. Dan, saat kuperhatikan dengan seksama, ternyata itu adalah buku kuliah.Mungkin, ia adalah seorang mahasiswa. Dan, saat sedang tidak kuliah, ia menyambi pekerjaan sebagai petugas karcis parkir.

Ingin kukatakan padanya saat itu, “Benar itu, teman. Waktu sangat berharga. Jangan sia-siakan ia sedikit pun. Ambil kesempatan yang kau punya”. Tiba-tiba aku merasa bangga padanya (padahal, aku sama sekali tidak mengenalnya).

Dalam hari-hari kerjaku, tugasku melingkupi melakukan kegiatan di bank. Hampir tiap hari aku menyambangi berbagai bank. Sebagian besar orang yang pernah pergi ke bank, tentu familiar dengan sapaan ini di pintu masuk, “Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?”. Sapaan sopan yang terucap dari seorang atau lebih satpam yang siap menyambut para nasabah.

Saat pertama kali mendengar sapaan ini , aku merasa tersanjung. “Ramah sekali satpam ini”, begitu pikirku.

Lalu, saat akan kujawab, ia berujar lagi, “Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”.

Lho kok, tiba-tiba aku jadi ‘Pak’. Padahal, seingatku aku belum mengubah gender-ku.

Dan, saat aku menoleh, melihat seorang pria berjalan di belakangku. Oh, ternyata satpam itu menyapa nasabah di belakangku.

Dan, demikian selanjutnya. Berulang-ulang ia menyapa setiap nasabah. Dengan kalimat yang sama, intonasi serupa, serta ekspresi yang tak berubah.

Tapi, benarkah sama? Benarkah serupa? Jika begitu, adakah bedanya mereka dengan robot?

Aku tidak percaya hal itu. Aku percaya bahwa setiap manusia punya perasaan. Begitu pun mereka.

Kuperhatikan lebih lanjut. Ternyata, hampir semua nasabah yang mereka sapa hanya berlalu begitu saja. Seakan tak menganggap mereka ada. Meski para satpam itu tak menunjukkan wajah kesal (mungkin karena merasa itu sudah merupakan tugasnya), namun tetap saja aku merasa itu tak seharusnya.

Lalu, saat kali berikutnya aku ke bank, aku melakukan ini. Saat mereka menyapa dengan sapaan khas itu, “Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?”. Aku membalas dengan tersenyum, “Selamat pagi. Saya mau ke teller saja”.

Saat aku berkata seperti itu, sekilas aku melihat cahaya di matanya.

People, walaupun kita tidak bisa berbuat banyak, ingatlah satu hal. Mungkin hal kecil yang kita lakukan, dapat menjadikan hari orang lain menjadi lebih baik. Well, setidaknya membuat perasaan mereka lebih baik karena merasa dihargai.

Dan… kegemaranku mengobservasi ini terus berlanjut hingga sekarang.

Jadi, jika suatu hari kau melihat di salah satu sudut food court, duduk seorang gadis manis berjilbab yang pura-pura menekuni hape-nya padahal matanya melirik sana-sini memperhatikan, mungkin itu adalah aku. :p

4 thoughts on “How I Love Observing People!!

  1. :D ah
    Tersenyum dan mendapatkan balasan senyuman itu memang menyenangkan.
    Pun aku jika ke bank dan disapa satpam akan minimal tersenyum padanya, dan keluar dari bank juga akan mengucapkan terimakasih padanya yang sudah menyapa ramah dan membukakan pintu.
    Hal yang sama dengan penjaga booth parkir, juru parkir, kasir supermarket, dan penjaga kamar mandi =^_^=

    1. betul… betul… betul…
      Seharusnya kita menghargai setiap hal, bahkan yang sering kita anggap ‘remeh’ atau ‘biasa’, alih-alih meminta untuk dihargai pada setiap hal yang kita lakukan. ^^

  2. Dan di sudut lain, mungkin akan anda temukan saya dengan secangkir kopi, laptop/buku/hand set, menatap orang-orang yang lalu lalang dan bertanya-tanya seperti apa masa kecil mereka, bagaimana hidup mereka ya, apakah mereka bahagia? Mengapa mereka begini begitu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s